Kajianberita.com
Beranda Headline Mengapa Koalisi Pro Jokowi Begitu Anti Terhadap Anies Baswedan?

Mengapa Koalisi Pro Jokowi Begitu Anti Terhadap Anies Baswedan?

Partai Nasional Nasdem membantah jika Anies Baswedan akan menjegal proyek Ibu Kota Negara (IKN) yang digagas Presiden Joko Widodo. (kajianberita/istimewa)

SAYA benar-benar heran melihat perilaku para politisi pendukung Jokowi yang terlihat begitu tidak suka terhadap sosok Anies Baswedan. Di mata mereka, Anies adalah ancaman serius bagi keberlangsungan bangsa ini, sehingga setiap gerak Anies selalu mereka pandang dalam kacamata negatif. Bahkan siapapun yang mendukung Anies sebagai calon presiden adalah musuh yang harus mereka singkirkan.

Nasdem adalah korban dari wajah kebencian orang-orang itu. Saat Nasdem mengumumkan Anies sebagai calon presiden pada Pemilu 2024, koalisi pendukung Jokowi sangat meradang. Mereka menganggap itu adalah sebuah pengkhiatan. Dalam padangan mereka, Nasdem yang selama ini  masuk dalam koalisi pendukung Pemerintah tidak layak mengumumkan calon presiden secepat itu. Lebih parah lagi, jagoan itu adalah Anies…!

Alasan ini sangat mengherankan, sebab pencalonan presiden bukanlah hal baru dalam lingkup partai pendukung Jokowi. Partai Gerindra dan Partai Golkar sudah mendahuluinya.

Partai Gerindra sejak jauh hari sudah memastikan Ketua umum mereka Prabowo Subianto adalah kandidat yang mereka usung. Bahkan tegas mereka katakan bahwa dukungan itu harga mati.

Demikian juga dengan Golkar, sejak awal sudah menggadang -gadang kalau Airlangga Hartarto adalah kandidat presiden. Kalaupun ada anggapan bahwa nilai jual Airlangga sangat di bawah standar,  Golkar tidak peduli. Mereka tetap akan berupaya untuk menjagokan ketua umumya itu.

Saat Gerindra dan Golkar mendeklarasikan calon presidennya, Jokowi dan koalisi pendukungnya adem-adem saja. Tidak ada kemarahan, tidak ada riak-riak politik, apalagi cercaan yang mengarah kepada para calon-calon yang diunggulkan.  Yang ada justru pujian. Termasuk Jokowi pernah memuji Prabowo yang katanya berpeluang besar menjadi presiden pada Pemilu 2024 mendatang.

Namun saat tiba giliran Nasdem mendelarasikan Anies Baswedan sebagai kandidat, seluruh partai koalisi Jokowi kebakaran jenggot. Bagaikan tubuh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas  yang mengaku tidak konsentrasi saat mendengar orang berzikir, begitulah  sikap partai-partai tersebut.  Panas meradang…!

Seruan untuk menyingkirkan Nasdem dari koalisi partai pendukung pemerintah langsung menguat. Setidaknya  tiga menteri Nasdem yang kini menjabat di kabinet,  yakni Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, serta Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) Siti Nurbaya Bakar terancam diresaffle.

Tak hanya pencopotan menteri, langkah politik Nasdem mengusung Anies sangat mungkin berimplikasi pada evaluasi total posisi partai itu di seluruh lingkaran kekuasaan. Bisa saja bakal terjadi kriminalisasi dan penggembosan terhadap kekuatan politik Nasdem jelang 2024. Di mata Pemerintah, Nasdem tak ubahnya PKS dan Demokrat, dua partai yang dianggap sebagai musuh utama.

Akar kebencian koalisi pendukung Jokowi itu sejatinya tentu bukan kepada langkah Nasdem yang secara besar-besaran menggelar acara pendeklarasian presiden, tapi kepada sosok Anies yang diusungnya. Kalau saja Nasdem mendukung kandidat lain, misalnya Surya Paloh atau Ganjar, atau salah serang Menteri yang duduk di kabinet, pasti kebencian terhadap mereka tidak sekental ini. Malah bukan tidak mungkin berujung kepada pujian.

Tapi karena sosok Anies, kebencian itu tidak tertahankan lagi. Hal ini lantaran menganggap Anies  sebagai figur yang cerdas, komunikatif, diplomatik, tapi notabene merupakan sosok yang kritis terhadap Pemerintah. Dalam kacamata penguasa, ia adalah bagian dari oposisi yang harus dienyahkan. Nama Anies identik dengan musuh bagi penguasa.

Tak bisa dipungkuri, dendam itu bermula saat Anies berhasil menyingkirkan Basuki Djahaja Purnama alias Ahok pada Pilkada Jakarta 2017. Tidak terbantahkan lagi, Jokowi dan pendukung koalisi Pemerintahan — dimotori oleh PDI-P, Golkar dan PKB —  adalah pendukung Ahok yang berpasangan dengan Syaful Djarot. Tapi kandidat yang mereka usung ini pada akhirnya terjungkal.

Kekalahan itu rupanya masih menyisakan dendam, apalagi kepemimpinan Anies dianggap cukup berhasil di Jakarta.  Populi Center, lembaga survei yang dikenal tidak begitu dekat dengan Anies, mendapatkan data bahwa 83,5 persen warga Jakarta puas atas kepemimpinan Anies sebagai Gubernur.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga yang juga cukup kritis terhadap kepemimpinan Anies. Survei lembaga itu menyebutkan bahwa Anies unggul tipis pada sejumlah simulasi survei elektabilitas capres 2024. Anies memperoleh elektabilitasi  sebesar 47,8 persen, sedangkan Ganjar 43,9 persen. Prabowo di urutan ketiga.

Karuan, gerakan untuk mencerca Anies semakin mereka perkuat. Belakangan  muncul pula survei-survei yang menyatakan suara dukungan Anies kalah dibanding Prabowo dan Ganjar.  Opini tentang kegagalan Anies selama memimpin Jakarta  juga mereka kumandangkan. Bahkan KPK mulai bergerak mencari celah untuk menggiring Anies terjebak dalam kasus korupsi.

Kunjungan Anies berbagai daerah yang selalu mendapat sambutan dari masyarakat, juga mereka persoalkan. Bawaslu ‘dipaksa’ untuk mencari  kesalahan atas kunjungan itu. Sayangnya, upaya itu gagal sebab Bawaslu tak berhasil menemukan pasal yang tepat untuk menyalahkan Anies. Lagi pula belum ada legal standing  yang memastikan bahwa Anies adalah calon presiden yang sudah pasti.

Tapi Bawaslu tetap berupaya ‘menyenangkan tuannya’. Gagal mencari celah hukum, mereka lantas menggunakan istilah penyalahan etika untuk memojokkan Anies. Entah apa parameter yang mereka gunakan, sebab sampai saat ini belum ada standar etika bagi orang yang ‘besiap-siap’ mencalonkan diri sebagai presiden.

Sikap Bawaslu ini, begitu juga dengan KPK, menunjukkan kalau independensi mereka pantas diragukan.  Di bawah kepemimpinan yang sekarang, kedua lembaga itu disebut-sebut sebagai kepanjangan tangan pemerintah.  Karena itu saya meyakini, pertarungan Anies pada Pemilu mendatang sangatlah berat. Ia tidak hanya bertarung merebut simpati rakyat, tapi juga berjuang melawan potensi kecurangan yang telah disusun musuh politiknya. Perlu kekuatan besar bagi Anies dan pendukungnya melawan semua itu.

Anies menjadi ancaman serius bagi penguasa, sebab kalau saja ia terpilih, bukan tidak mungkin bakal banyak kebijakan existing ‘aneh’ yang bakal ia rombok. Sebut saja rencana pengurasan uang negara besar-besaran untuk Ibu kota Negara, kebijakan mendatangkan pekerja asing, terutama dari China, serta sejumlah konspirasi terakait pemborosan uang negara yang KPK tak mau menjamahnya. Kalau semua itu dibongkat, hancur sudah asa para penguasa ini..!

Aksi para buzzer jangan dilupakan. Orang-orang pengangguran yang makan dari asupan APBN ini adalah pion yang terus wara-wiri melakukan pembusukan terhadap Anies lewat media sosial.  Bagi mereka, Anies adalah ancaman, sebab jika Anies menang, periuk nasi mereka terancam.

Selain  terus menyerang Anies dengan berbagai fitnah,  mereka juga berupaya mencari juragan baru yang dianggap potensial untuk menang pada Pemilu nanti. Setidaknya itu adalah upaya untuk menyambung hidup agar dapur tetap ngebul. Gurihnya penghasilan sebagai buzzer tentu ingin mereka perpanjang lagi.

Dalam dinamika politik, aksi seperti ini bukanlah hal baru. Tapi kalau demokrasi dilandasi dengan fitnah, kebencian dan dendam, apapun hasilnya tidak akan baik bagi keberlangsungnya bangsa. Jika kubu penguasa memang pada Pemilu mendatang, maka kebusukan akan terus berjalan. Koptasi negara atas lembaga independen semakin menguat. Pembohongan bakal menjadi tradisi yang terus berjalan.

Rakyat semestinya tidak membiarkan kebusukan ini bertahan lama. Rakyat harus berani melawan pembohongan dan kelicikan ini dengan daya pikir yang lebih cerdas dalam melihat hitam putihnya perjalanan bangsa. (*)

Ahmady, penulis adalah rakyat pinggiran tinggal di Deli Serdang

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan