Kajianberita.com
Beranda Ekonomi Angka Kemiskinan Turun, Ekonom : Jangan Jadi Lalai

Angka Kemiskinan Turun, Ekonom : Jangan Jadi Lalai

Gunawan Benjamin. (kajianberita/gunawan benjamin)

MEDAN –  Ekonom Gunawan Benjamin mengapresiasi penurunan angka kemiskinan di Sumatera Utara (Sumut). Menurut dia, ini merupakan capaian bagus pada perekonomian Sumut.

“Tetapi jangan lalai dengan capaian itu, karena indikasi lain menunjukan bahwa tren daya beli masyarakat Sumut khususnya masyarakat miskin dalam penurunan,” tuturnya, Rabu (18/1/2023).

Mengacu kepada data BPS, jelas dia, kedalaman kemiskinan dan keparahan kemiskinan memberikan gejala bahwa kedepan potensi penambahan jumlah masyarakat Sumut berpeluang naik. Garis kemiskinan per kapita Sumut pada bulan September 2022 itu sebesar 592.025, naik dari posisi Maret 2022 sebesar 561.004.

Tetapi berbicara indeks kedalamam kemiskinan naik dari 1,365 (maret 2022) menjadi 1,411 (September 2022). Artinya pengeluaran masyarakat miskin itu kian tertinggal dengan garis kemiskinannya.

“Bisa juga begini, standar minimal pengeluaran masyarakat miskin itu makin jauh dari angka garis kemiskinannya. Berarti bisa jadi penduduk miskin pendapatannya tidak mengalami kenaikan, atau justru mengalami penurunan. Tetapi biaya hidup terus merangkak naik karena inflasi,” tutur dia.

Kalau berbicara mengenai tingkat keparahan kemiskinan yang membaik. Ini berarti bisa begini, masyarakat yang sebelumnya berada tidak jauh dari garis kemiskinan.

Selama 1 semester mampu berada di atas garis kemiskinan. Meskipun nantinya hal ini akan bisa dilihat dari besaran rasio gini masyarakat di Sumut untuk menjelaskan fenomena selanjutnya.

“Namun, jangan puas sampai disitu. Ada gejala dimana harga CPO mengalami penurunan di tahun ini, yang bisa menambah jumlah orang miskin,” bebernya.

Kalau melihat angka kemiskinan Sumut September 2022 dibandingkan dengan September 2021, kata Gunawan, mengalami penurunan sekitar 11 ribu jiwa.

Komoditas unggulan di Sumut khususnya CPO itu naik dari kisaran 4.300 ringgit per ton pada September 2021, dan di 2022 sempat menyentuh 7.100-an per ton pada periode April, dan bertahan diatas 5.500 hingga bulan Juni, sebelum akhirnya sempat turun dikisaran 3.200 pada September.

Sayangnya, imbuh dia, laju tekanan inflasi paling besar justru di rasakan pada bulan desember yang menyentuh 1.5%. Selanjutnya di tahun 2023, harga CPO justru berada di bawah 4.000 ringgit per ton, dikisaraan 3800-an ringgit saat ini.

Padahal akhir tahun 2022 sempat berada di level 4.175 ringgit per ton. Harga beras juga dalam tren naik dalam 3 bulan terakhir.

“Inflasi masih akan bertahan tinggi di tahun 2023 ini setidaknya sampai kuartal pertama 2023,” ucapnya.

Jadi ancaman penambahan jumlah angka kemiskinan hingga maret 2023 sangat terlihat. Dan bisa diperburuk dengan kemungkinan kenaikan harga komoditas cabai.

Sumut belakangan diselamatkan dengan kenaikan harga komoditas seperti sawit yang membuat industrinya tetap hidup, dan NTP petaninya masih diatas 100. Namun hal tersebut tidak menjadi garansi lagi, periode september ke desember kemarin fenomena karyawan kontrak di rumahkan sempat terjadi di wilayah ini.

Sebelumnya, BPS merilis tingkat kemiskinan di wilayah Sumut mengalami penurunan sebesar 0.09 poin, atau 8.33% pada September 2022. Dibandingkan posisi Maret 2022 sebesar 8.42%. Jumlah penduduk miskin di Sumut turun 6,1 ribu jiwa dalam satu semester. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan