Kajianberita.com
Beranda Tokoh Kisah Ulama Sumut: Syekh Musthafa Husein Pendiri Pesantren Purbabaru (Episode 2)

Kisah Ulama Sumut: Syekh Musthafa Husein Pendiri Pesantren Purbabaru (Episode 2)

Tokoh ulama Sumut, Syekh Haji Musthafa Husein. (KAJIANBERITA/Istimewa)

PADA 28 November 1915 terjadi banjir besar yang menghanyutkan Pasar Tanobato, sehingga gubuk pengajian yang dibangun Musthafa lenyap di telan gelombang banjir. Ia pun terpaksa pindah ke desa yang lebih aman, yaitu Purbabaru. Sejak itu Musthafa mengajar di sana dengan dibantu sejumlah muridnya. Beberapa muridnya menjuluki Syekh Musthafa Husein dengan sebutan Tuan na Bonang, atau guru yang dituakan.

Di antara muridnya yang cukup senior adalah Syekh Abdul Halim Khatib yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tuan Na Poso” atau tuan guru muda. Kelak Syekh Abdul Halim Khatib juga menjadi salah seorang menantunya dan menjadi pemimpin di pesantren Purbabaru yang didirikannya.

Awalnya murid-murid yang turut menyertai Musthafa Husein pindah dari Tanobato ke Purbabaru
berjumlah 20 orang. Tak lama kemudian jumlah muridnya itu terus bertambah hingga mencapai 60 orang. Mereka belajar dengan sistem halaqah ala masjidil Haram di masjid yang baru dibangun di Purbabaru itu. Sistem halaqah lebih banyak menggunakan metode ceramah di mana para murid duduk bersila mengelilingi gurunya yang menyampaikan materi ajaran.

Seiring perkembangan waktu, jumlah murid itu terus bertambah. Dengan dibantu warga sekitar, Musthafa lantas mendirikan sejumlah pondok di sekitar pengajian yang ia dirikan sebagai tempat tinggal para muridnya. Di saat bersamaan, kegiatan dakwahnya di berbagai desa juga semakin berkembang.

Atas anjuran masyarakat setempat, digagaslah pendirian pusat pendidikan Islam di sekitar rumah Musthafa di Purbabaru. Ia menyebut pusat pendidikan itu dengan nama Madrasah atau Pesantren Musthafawiyah, mengambil penggalan dari namanya sendiri. Sejak itu murid yang belajar semakin membludak, sehingga ruang belajar di masjid tidak mampu lagi menampung jumlah murid tersebut.

Pada 1927, Musthafa Husein kemudian mendirikan lagi satu unit gedung di samping rumahnya sebagai tempat belajar. Awalnya hanya santri laki-laki yang diterima di madrasah itu. Tapi belakangan santri perempuan pun ikut belajar. Penerimaan santri perempuan di Madrasah Musthafawiyah dimulai pada tahun 1959, setelah dibangunnya sebuah asrama khusus Wanita.

Seiring dengan berdirinya gedung sekolah tersebut, proses pembelajaran pun lebih tertata sesuai perkembangan zaman. Terkait tentang tingkatan pendidikan misalnya, ada tahap-tahap tertentu yang harus dilalui para santri. Untuk tingkatan Tajhiziyah masa belajarnya selama 3 tahun, tingkatasn Ibtida’iyah selama 4 tahun, Tsanawiyah selama 3 tahun dan tingkatan ’Aliyah selama 2 tahun.

Seiring perkembangan waktu, Pesantren di Purbabaru itu semakin maju. Santri yang mendaftar tidak hanya dari sekitar Panyabungan dan sekitarnya, tapi juga dari provinsi lain. Mau tidak mau, bangunan fisik pesantren harus diperluas lagi. Sesuai tuntutan itu, pada 1959 didirikan gedung tambahan sebanyak 20 lokal, sehingga murid pun makin banyak yang bisa ditampung setiap tahunnya.

Awalnya kurikulum yang diajarkan di Madrasah Musthafawiyah adalah pelajaran agama semata. Namun, setelah masa kemerdekaan, apalagi setelah terbitnya Peraturan Menteri Agama RI Nomor 7 tahun 1952 yang mengatur tentang sistem kependidikan di sekolah agama, Pesantren Musthafawiyah juga mengajarkan para santrinya mata pelajaran umum. Dengan begitu pesantren tersebut dianggap setara dengan lembaga pendidikan lainnya.

Terobosan ini ternyata semakin membangkitkan keinginan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan itu. Sejak tahun 1970, nama Pesantren Musthafawiyah semakin popular di Indonesia. Santro yang belajar di sana bukan hanya dari Sumatera Utara, tapi juga dari provinsi lain, seperti Sumatera Barat, Aceh, Riau dan dari Pulau Jawa. Bahkan tidak sedikit pula para santri itu yang berasal dari mancanegara, seperti negara tetangga, Malaysia dan Brunai Darussalam.

Bersambung….

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan