Kajianberita.com
Beranda Ulama Sumut Kisah Ulama Sumut: Syekh Musthafa Husein Pendiri Pesantren Purbabaru (Episode3)

Kisah Ulama Sumut: Syekh Musthafa Husein Pendiri Pesantren Purbabaru (Episode3)

Tokoh ulama Sumut, Syekh Haji Musthafa Husein. (KAJIANBERITA/Istimewa)

SELAIN  perannya sebagai ulama, Musthafa Husein termasuk seorang yang giat dalam urusan dagang dan pertanian. Dia berhasil membuka beberapa hektar lahan perkebunan, seperti lahan karet di Desa Purba Lama dan Desa Jembatan Merah, serta kebun buah rambutan yang cukup luas di sekitar daerah Aek Godang. Musthafa Husein termasuk salah seorang yang pertama sekali membuka usaha kebun secara modern di daerah Mandailing.

Tentunya hal itu tidak lepas dari pola pikirnya yang visioner sehingga mampu melihat peluang ke depan. Lagipula, Musthafa tidak mau membebankan para muridnya dengan biaya pendidikan yang mahal. Mau tidak mau ia harus mencari penghasilan lain untuk bisa menjalankan misinya menyebarkan ilmu Islam kepada masyarakat. Hasil dari pertanian merupakan modal utamanya untuk terus mengembangkan pendidikan di Pesantren Musthafawiyah.

Seiring perjalanan waktu, nama Syekh Musthafa Husein semakin terkenal sehingga ia pun diminta aktif memimpin sejumlah organisasi masyarakat. Dalam bidang politik misalnya, Musthafa Husein pernah menjabat sebagai Ketua Syarikat Islam cabang Tanobato pada 1915. Selanjutnya dia mengembangkan organisasi Persatuan Islam di Tapanuli Selatan.

Dalam kurun waktu 15 tahun kemudian, atas anjurannya, berdirilah Persatuan Muslim Tapanuli (PMT), tepatnya pada 1930 berkantor pusat di Padangsidimpuan, di mana Musthafa Husein dipercaya menjabat sebagai Ketua Majelis Syar’i.

Selain mendirikan Peratuan Muslim Tapanuli, Musthafa juga mendirikan “Al-Ittihadiyah al-Islamiyyah” yang bertujuan untuk menyatukan gerakan ulama di wilayah Tapanuli. Keberadaan Al-Ittihadiyah al-Islamiyyah juga sangat berperan memperkuat sistem pembelajaran di sekolah-sekolah agama agar lebih tertata dan terpadu.

Organisasi ini berpusat di Purbabaru dan kemudian tersebar hingga memiliki beberapa cabang, seperti di Mandailing, Angkola, Sipirok, dan PadangLawas. Syekh Musthafa adalah pendiri sekaligus ketua organisasi ini.

Ketika tersiar kabar para ulama di Jawa mendeklarasikan kehadiran Nahdlatul Ulama (NU), Syekh Musthafa adalah orang yang diminta untuk mengembangkan organisasi itu di Sumatera Timur dan Mandailing. Para ulama tanah Jawa menghubungi Musthafa karena mereka tahu betapa kuatnya pengaruh ulama ini di Sumatera. Lagi pula jaringan alumni Mekkah sudah terbangun pada masa itu. dan Musthafa adalah salah satu alumni Mekkah yang cukup disegani.

Tentu saja tidak sulit bagi Musthafa untuk mengembangkan NU di Tapanuli melalui jaringan ulama yang telah didirikannya telah berkembang cukup luas. Melalui “Al-Ittihadiyah al-Islamiyyah” Ia lantas mengundang para ulama Tapanuli untuk bermusyawarah di Padangsidempuan pada 1947, sehingga tercetuslah deklarasi untuk menghadirkan cabang NU pertama di wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur.

Para ulama itu sepakat memilih Syekh Musthafa Husein sebagai Rois Syuriah atau dewan Pembina, sedangkan ketuanya ditunjuk Syekh Bahruddin Thalib Lubis, ulama yang aktif mengembangkan Islam di Sibolga dan Tapanuli Tengah. Dari fakta sejarah ini, bisa dipastikan bahwa Syekh Musthafa merupakan salah satu ulama yang sangat berperan mengembangkan NU di Sumatera.

Selain aktif mengajar di pesantren yang didirikannya, Musthafa Husein kerap diundang memberikan ceramah di berbagai daerah. Dengan semua kesibukan itu, Musthafa Husein nyaris tidak punya cukup waktu untuk mengajar dan berkumpul dengan keluarga.

Untuk membantunya mengembangkan pendidikan Islam. sesekali ia meminta murid senior untuk menggantikan dirinya. Mulanya hanya menggantikan di dalam kelas, tapi kemudian para murid itu juga dilatih untuk bisa menyampaikan dakwah ke desa-desa.

Di saat bersamaan, kegiatan belajar di Pesantren Musthafawiyah semakih berkembang. Terhitung sejak tahun 1920-an, pesantren itu telah menghasilkan sejumlah alumni yang kemudian banyak dikenal sebagai tokoh agama di berbagai daerah. Beberapa di antara alumni itu kemudian mendirikan pesantren baru dengan nama yang berbeda-beda.

Tidak heran jika hampir setiap pelosok muncul pesantren atau sekolah yang guru-gurunya merupakan tamatan Musthfawiyah. Sekolah-sekolah ini menyebar tidak saja di daerah Tapanuli Selatan,
tapi juga di SumateraTimur, Aceh dan berbagai tempat lain di Indonesia. Dengan kehadiran pesantren baru itu, nama besar Pesantren Musthafawiyah semakin mencuat. Tak terbantahkan lagi, Pesantren Musthafawiyah adalah satu pusat pendidikan yang berperan besar menyebarkan aqidah bagi umat Islam. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-4618385670255637, DIRECT, f08c47fec0942fa0