Kajianberita.com
Beranda Nasional Angka Kelahiran Anak di Rasio 2,1, Indonesia Tak Alami Resesi Seks

Angka Kelahiran Anak di Rasio 2,1, Indonesia Tak Alami Resesi Seks

kajianberita/ilustrasi

JAKARTA – Pertumbuhan penduduk di Indonesia masih terjaga secara seimbang dan tidak mengalami resesi seks seperti negara Jepang ataupun Thailand. Sebab, Angka Total Fertility Rate (TFR) atau rata-rata perempuan Indonesia melahirkan anak berada pada rasio 2,1.

“Hal tersebut menunjukkan pertumbuhan penduduk Indonesia terjaga dan tidak ada resesi seks seperti yang dialami diberbagai negara,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr Hasto Wardoyo, yang dilansir dari berbagai sumber, Kamis (26/01/2023).

Hasto menjelaskan TFR itu dari hasil berbagai survei dan Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK-21) yang dimutakhirkan di 2022 oleh BKKBN. “saat ini angka TFR di Indonesia sudah mendekati 2,1. Capaian tersebut merupakan patut dibanggakan namun juga dikhawatirkan,” ujarnya

Sebab, lanjut Hasto, TFR yang mendekati 2,1 berarti satu perempuan memiliki kemungkinan untuk melahirkan satu anak perempuan secara rata-rata. Otomatis jika satu perempuan di Indonesia meninggal, katanya, akan digantikan oleh satu perempuan yang lahir.

Hal tersebut menjaga kesinambungan dan sustainability pertumbuhan penduduk tetap terjaga. Namun, jumlah penduduk di Indonesia diprediksi akan terus bertambah karena angka kematian yang lebih rendah dari kelahiran.

“Maka dari itu, pertumbuhan penduduk saat ini hanya mengandalkan pertambahan angka usia atau angka harapan hidup. Karena itu angka 2,1 adalah angka yang pas. Tapi amannya memang bisa lebih sedikit dari 2,1. Ini karena semakin ke depan rata-rata perempuan menikah usianya semakin mundur, rata-rata sudah mencapai angka 22 tahun untuk perempuan,” sebutnya.

Deputi Bidang KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Eni Gustina menambahkan dalam menciptakan jarak kehamilan dan kelahiran yang aman bagi ibu dan bayi, BKKBN sudah menggencarkan capaian penggunaan kontrasepsi di semua daerah.

Capaian KB dibeberapa daerah dalam pantauan BKKBN juga bertambah. Hanya saja, ada sejumlah alasan  utama pasangan usia subur (PUS) tidak mengikuti KB seperti ingin hamil atau punya anak, berkaitan dengan alasan kesehatan, adanya akibat dari efek samping obat, mengalami infertilitas atau masa menopause serta
penolakan baik dari pihak pasangan atau keluarga.

“Alasan lainnya pasangan tinggal di tempat yang jauh atau jarang berhubungan, belum menemukan alat atau obat atau cara ber-KB yang sesuai. Minimnya edukasi tentang KB, adanya keyakinan terkait agama, biaya yang mahal, jauhnya tempat pemberian layanan, tidak tersedianya alat, obat atau cara ber-KB dan tidak adanya petugas yang memberikan layanan KB,” sebutnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengapresiasi capaian tersebut pada pembukaan Rapat Kerja Nasional Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana serta Percepatan Stunting, di Jakarta, Rabu (25/1/2023).

Menurutnya, pertumbuhan penduduk di angka 2,1 dengan jumlah pasangan yang menikah menyentuh 2 juta dan adanya 4,8 juta kehamilan membuktikan resesi seks tidak terjadi di Indonesia. Presiden pun mengingatkan, tujuan dari pembangunan penduduk yang hendak dicapai adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Berbeda dari sejumlah negara di Asia yang kini diterpa banyak warga ogah menikah dan punya anak, Indonesia disebut masih jauh dari risiko serupa atau yang disebut sebagai resesi seks. Pasalnya, kebanyakan warga RI menikah masih dengan tujuan prokreasi atau ingin punya anak. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan