Kajianberita.com
Beranda Ekonomi Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan

Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan

Kepala BPS Sumut saat paparkan pertumbuha ekonomi Sumut. (kajianberita/layar tangkap youtube)

MEDAN – Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan naik sebesar 12,69 persen di Sumatera Utara (Sumut). Menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Sumut di tahun 2022.

Kondisi ini diungkap Kepala BPS Provinsi Sumut, Hurul Hasanudin, dalam paparan secara virtual, Senin (6/2/2023).

Dia mengungkapkan ekonomi Sumut tahun 2022 tumbuh sebesar 4,73 persen, lebih tinggi dibanding capaian tahun 2021 yang tumbuh sebesar 2,61 persen.

“Kemudian dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 11,44 persen,” jelasnya

Lanjutnya, ekonomi Sumut di Triwulan IV-2022 terhadap Triwulan IV-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 5,26 persen (y-on-y).

Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,02 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,77 persen.

“Kemudian secara bulan ke bulan, ekonomi Sumatera Utara Triwulan IV-2022 terhadap triwulan III-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 0,46 persen,” tuturnya.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 3,89 persen.

Dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah merupakan komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 4,92 persen,” bebernya.

Adapun struktur ekonomi di Pulau Sumatera secara spasial pada tahun 2022 didominasi olehbeberapa provinsi besar.

Tiga terbesar diantaranya yaitu, Provinsi Riau yang berkontribusi sebesar 23,50 persen, Sumatera Utara 22,63 persen serta Sumatera Selatan yang berkontribusi sebesar 14,02 persen.

Sementara kontribusi terendah yaitu Bengkulu dengan kontribusi sebesar 2,14 persen.

Terpisah, Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menanggapi bahwa Ekonomi Sumut tumbuh di 2022 karena tertolong kenaikan harrga komoditas, khususnya sawit selama tahun 2022.

“Namun, Sumut harus mewaspadai fenomena penggunaan tenaga kerja yang mengalami penurunan yang sempat terjadi di beberapa wilayah di Indonesia tanpa terkecuali wilayah Sumut,” terangnya.

Dia bilang, fenomena karyawan kontrak di rumahkan ini menjadi indikasi awal bahwa bisa saja berdasarkan harga konstan, pertumbuhan ekonomi Sumut tidak sebesar rilis pertumbuhan ekonomi sekarang ini.

Selain itu, bila melihat kegiatan dunia usaha belakangan ini, sektor pertanian, perkebunan dan kehutan hingga industri pengolahan memang terlihat bagus hingga kuartal kedua.

Namun trennya menurun hingga penutupan tahun 2022. Seiring dengan penurunan harga komoditas seperti CPO, Batubara Dan Emas.

Demikian halnya juga dengan tanaman hortikultura yang mengalami penurunan harga pada kuartal keempat.

“Kalau tren harga komoditas yang turun ini berlanjut di tahun 2023 mendatang. Maka sejumlah kabupaten kota yang lebih banyak mengandalkan sektor pertanian (tanaman pangan, hortikutura, peternakan dan perikanan),” ungkapnya.

Sumut, lanjut dia, masih akan mampu mencetak pertumbuhan sekalipun mengalami perlambatan.

Namun jika harga komoditas perkebunan turun seperti sawit, pertumbuhan ekonomi secara nominal (harga berlaku) ini bisa menyebabkan kontraksi pada perekonomian Sumut di tahun ini.

Tetapi secara ril atau harga konstan, maka yang perlu dipertahankan adalah produksinya,” tandasnya. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan