Kajianberita.com
Beranda Headline Raket Itu Tetap Mengayun Dibalut Himpitan Ekonomi Menuju Puncak Prestasi

Raket Itu Tetap Mengayun Dibalut Himpitan Ekonomi Menuju Puncak Prestasi

Gesti Prayetno Pelatih PB ABC-Pro Medan. (Kajianberita/dok)

AWAL mengayunkan raket di kota kelahirannya Ambarawa, Gesti Prayetno tak pernah menduga akan sukses menjadi pebulutangkis.

Bagaimana tidak, keterbatasan ekonomi kala itu membuat Gesti tak percaya diri. Semangat, menjadi modal satu-satunya Gesti untuk terus berkiprah di dunia bulutangkis.

Siapa sangka lewat semangat dan keyakinannya itu, Gesti meninggalkan jejak kedigdayaan sebagai pelatih selama lebih kurang 11 tahun lamanya di kota Jakarta.

Itulah sepenggal kisah Gesti Prayogi, pelatih kepala PB ABC-Pro Medan, salah satu klub bulutangkis yang mulai diperhitungkan di Kota Medan ini.

Bagaimana perjalanan kisah pelatih asal Jawa Tengah ini hingga bisa hadir dan melatih di Medan? Gesti coba membagikannya kepada awak media, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Gesti merupakan satu di antara banyak pebulutangkis yang besar dari keterbatasan.

Mimpi yang terajut dan kesuksesan yang diraih Gesti hadir di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit keluarganya saat itu.

Namun keterbatasan itu tak lantas menyurutkan semangatnya dan terus berjuang dengan satu keyakinan, bahwa prestasi tak harus hadir dengan balutan ekonomi memadai.

Ya, pria kelahiran 17 Mei 1979 silam ini ingin mengajarkan kepada para generasi muda, bahwa kekuatan finansial tak selamanya menjamin seseorang untuk berprestasi.

Seperti kisah pahit yang pernah dirasakan dan dijalaninya.

Gesti mengaku, dirinya mulai akrab dan mencintai bulutangkis sejak duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar di Ambarawa.

Berkisar tahun 1987, seorang legenda bulutangkis Ambarawa, Hendro melihat bakat dan potensi dalam diri Gesti.

Ajakan untuk berlatih pun hadir. Namun, Gesti mengaku sempat ragu.

Pasalnya, saat itu Gesti mengaku tak memiliki biaya membeli perlengkapan untuk mendukungnya menekuni bulutangkis.

Beruntung, Hendro yang melihat bakat tersembunyinya tak sungkan membiayai semua perlengkapannya kala itu.

“Saya dari kalangan orang biasa, raket, sepatu gak mampu beli,” kenang Gesti.

Namun dari pengakuannya juga, jika Hendro tetap memaksanya datang berlatih di tempatnya.

“Gak apa-apa, datang aja entar dikasih,” ujar Gesti menirukan ucapan Hendro saat itu.

Halaman: 1 2 3
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan