Kajianberita.com
Beranda Headline Okor dan Tosa Ginting, Keluarga Berpengaruh di Langkat Akhirnya Mendekam di Sel

Okor dan Tosa Ginting, Keluarga Berpengaruh di Langkat Akhirnya Mendekam di Sel

Okor Ginting (berpakaian biru) ditangkap di Pekanbaru setelah terlibat kasus penggelapan dana peremajaan sawit. Ia saat ini ditahan di Polres Langkat

Medan – Masih ingat kasus pembunuhan  terhadap Paino, 56 tahun, mantan anggota DPRD Langkat masa bakti 2014-2016 yang ditembak pada Kamis (26/2/2023) lalu? Otak pelakunya, Luhur Sentosa Ginting  atau Tosa Ginting, 27 tahun,  yang kini telah ditahan di Polda Sumut.  Ayah Tosa, Okor Giting,  pun juga tidak beda nasib dengan anaknya.

Okor Ginting yang selama ini dikenal sebagai sosok cukup berpengaruh di Langkat juga harus merasakan hidup di sel Polres Langkat. Bedanya Okor Ginting ditangkap dalam kasus korupsi dana peremajaan sawit. Okor ditangkap di Pekanbaru pada 8 Februari lalu setelah buron selama beberapa pekan.

Kasus penanaman Okor dan Tosa Ginting ini cukup menggegerkan Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, sebab ayah dan anaknya ini dikenal sangat berpengaruh  di desanya. Mereka centeng yang amat ditakuti semua warga di kecamatan itu. Siapa yang melawan keinginan mereka, pasti akan kenda damprat.

Tidak jarang Okor dan Tora melakukan penganiayaan. Begitu ditakutinya mereka, sehingga aksi ayah dan anak itu jarang diadukan ke polisi.

Okor dan Tosa sama-sama bergelut dalam bisnis kelapa sawit. Okor adalah coordinator untuk kegiatan peremajaan sawit di kecamatan Wampu  yang didanai oleh Pemerintah. Tapi siapa sangka, dana yang seharusnya diberikankepada warga, oleh Okor Ginting diambil masuk ke kantornya. Polisi memperkirakan uang yang ditilep Okor mencapai Rp 29,10 miliar.

“Peruntukan uangnya masih kami selidiki,” kata Kapolres Langkat, AKBP Faisal Rahmat Husein Simatupang, Rabu (15/2/2023). Faisal mengatakan, sekarang ini Okor Ginting sudah ditahan setelah ditangkap di persembunyiannya di Pekanbaru, Provinsi Riau.

Faisal mengatakan, dalam kasus korupsi itu, Okor tidak bermain sendirian. Ada delapan tokoh di Langkat yang terlibat kasus itu, tiga di antaranya sudah ditahan, termasuk Okor Ginting.

Tidak kalah dengan ayahnya, Tosa Ginting juga punya pengaruh sangat besar di Kecamatan Wampu. Tosa mengembangkan bisnis pembelian buah sawit dari penduduk desa. Ia memaksa warga desa untuk menjual semua sawit kepada kepada Tosa.  Yang tidak mau, pasti akan dianiaya dan diintimidasi.

Warga tidak kuasa melawan karena pengaruh Tosa juga cukup kuat di kalangan pemuda.  Meski harga sawit yang dibeli Tosa relative murah, tapi warga tidak punya pilihan lain. Selama lebih 10 tahun terakhir warga Kecamatan Wampu merasa selalu dalam tekanan Tosa Ginting dan ayahnya Okor Ginting.

Siapa saja warga yang tidak mau menjual hasil kebun sawitnya pada keluarga Okor Ginting, pasti akan didenda. Tak jarang, keluarga Okor Ginting, lewat Tosa Ginting kerap merampas hasil panen milik masyarakat di Desa Besilam Bukit Lembasa, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat.

“Dia (keluarga Tosa Ginting) yang ingin merampas hasil pertanian kebun sawit di Desa Besilam Bukit Lambasa itu. Dia yang mau memonopoli, menjajah masyarakat, tapi masyarakat enggak mau ngikuti kemauan dia, kami mau merdeka,” kata Rika, anak almarhum Paino.

Rika sendiri mengaku kalau ia mengenal dengan baik sosok Tosa Ginting karena keduanya teman sekelas saat masih sekolah. Sejak masih sekolah, perilaku Tosa sudah dikenal cukup brutal dan merasa jagoan.

Tosa Ginting (paling kiri), anak dari Okor Ginting bersama komplotannya ditahan di Polda Sumut

Sebagai mantan anggota DPRD, Paino merasa prihatin dengan tekanan yang dialami warga Kecamatan Wampu atas ulah ayah dan anak ini. Lantas ia pun mulai mengembangkan bisnis penampungan sawit dari warga dengan harga yang lebih tinggi.

Hal ini yang membuat Tosa Ginting murka karena warga yang tadinya menjual sawit kepadanya, beralih menjual sawit ke Paino.

Merasa tersaingi, Tosa langsung merencanakan pembunuhan terhadap Paino hingga akhirnya ayah tiga anak itu ditemukan tewas bersimbah darah karena tembakan dari jarak dekat. Polisi akhirnya berhasil mengungkap kasus itu sehingga Tosa dan komplotannya berhasil diringkus.

Dengan ditangkapnya ayah dan anak itu, warga Kecamatan Wampu, Langkat, kini mulai merasa lega.

“Rasanya seperti baru merdeka dari tekanan. Selama ini kami memang sangat tersiksa dengan tekanan dari pihak keluarga mereka,” ujar Anto, salah seorang petani sawit di Kecamatan Wampu.

Warga berharap  ayah dan anak itu mendapat hukuman berat, sehingga mereka tidak lagi melakukan aksi main hakim sendiri kepada warga.  (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan