Kajianberita.com
Beranda Internasional Terperangkap 10 Hari, Remaja Perempuan Bertahan Hidup di Reruntuhan Gempa

Terperangkap 10 Hari, Remaja Perempuan Bertahan Hidup di Reruntuhan Gempa

Petugas penyelamat dan petugas medis mengeluarkan seseorang dari bangunan yang runtuh di Antakya, Turki, Rabu (15/2/2023). Foto/Aawsat

ANKARA – Seorang remaja perempuan usia 17 tahun bertahan hidup selama 248 jam atau sekitar 10 hari di bawah reruntuhan di Provinsi Kahramanmaras pasca gempa Turki 6 Februari 2023. Dia diselamatkan pada Kamis (16/2/2023).

Sebelumnya, seorang wanita usia 40-an juga berhasil diselamatkan pada Rabu (15/2/2023), setelah bertahan 222 jam di bawah puing-puing bangunan yang runtuh akibat gempa magnitudo 7,8.

Namun, semakin hari harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat semakin memudar.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu mengatakan kebutuhan kesehatan bagi para penyintas gempa Turki dan Suriah sangat besar.

“Fase pencarian dan penyelamatan sekaran akan berakhir, tetapi bagi WHO, tugas menyelamatkan nyawa baru saja dimulai,” kata Ghebreyesus seperti dikutip dari Gulf News.

Al Jazeera yang melansir data otoritas Turki menyebutkan, korban tewas akibat gempa dahsyat di negara itu menjadi 36.187 sekarang. Sementara itu, lebih dari 108.000 orang terluka.

Adapun pemerintah Suriah dan PBB menyatakan, terdapat lebih dari 5.800 kematian di Suriah.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, hampir 8.000 penyelamat dan pekerja bantuan dari 74 negara masih membantu tim Turki. Sekitar 4.200 personel lainnya dari 15 negara telah pulang.

Salah satu tim yang sudah kembali ke negaranya adalah tim penyelamat dari Yunani, yang beranggotakan 27 orang. Mereka menjalankan misi di Kota Adiyaman, salah satu yang terdampak parah.

Ketua tim penyelamat dari Yunani, Ioannis Papastathis, mengatakan kepada kantor berita Anadolu pada Rabu malam bahwa dia meninggalkan Turki dengan kenangan yang tak terlupakan.

“Di satu sisi ada cinta dan sambutan hangat dari masyarakat, di sisi lain ada penderitaan. Kehancuran itu sangat besar. Cuacanya dingin. Ini sangat memengaruhi saya,” ujarnya.

Sebagai wujud terima kasih, kepergian mereka diiringi dengan riuh tepuk tangan di Bandara Internasional Istanbul. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan