Kajianberita.com
Beranda Internasional Cetuskan Anti-Perang di Instagram, Mahasiswa Rusia Terancam Dipenjara 10 Tahun

Cetuskan Anti-Perang di Instagram, Mahasiswa Rusia Terancam Dipenjara 10 Tahun

Mahasiswi di Rusia, Olesya Krivtsova jadi tahanan karena anti-perang. (kajianberita/bbc)

JAKARTA – Seorang mahasiswi di Rusia, Olesya Krivtsova terpaksa absen dari sejumlah mata kuliah di kampusnya. Pasalnya, mahasiswi berusia 20 tahun itu kini telah menjadi tahanan rumah. Di kakinya terpasang peranti elektronik sehingga polisi bisa memantau setiap gerak-geriknya.

Olesya ditangkap karena mengunggah konten-konten bernada antiperang di media sosial. Salah satunya terkait dengan ledakan di jembatan yang menghubungkan Rusia dengan wilayah Krimea yang mereka aneksasi, pada Oktober lalu.

“Saya mengunggah Instagram story tentang jembatan itu, merefleksikan bagaimana orang-orang Ukraina senang dengan apa yang telah terjadi,” kata Olesya dilansir BBC, Senin (20/2/2023).

Dia juga membagikan unggahan temannya mengenai perang.

“Saya sedang menelepon ibu saya ketika mendengar pintu depan dibuka. Banyak polisi masuk. Mereka mengambil ponsel saya dan meneriaki saya untuk tengkurap di lantai,” kenang Olesya.

Olesya dituduh membenarkan aksi terorisme dan mendiskreditkan angkatan bersenjata Rusia. Dia menghadapi ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

“Saya tidak pernah membayangkan ada orang yang bisa dipenjara begitu lama karena mengunggah sesuatu di internet,” kata Olesya.

“Saya sudah melihat ada banyak vonis gila di Rusia, tetapi saya tidak terlalu memperhatikan dan tidak menyuarakannya,” tutur dia.

Olesya, yang merupakan mahasiswa Universitas Federal Utara di Arkhangelsk, kini telah masuk ke dalam daftar resmi teroris dan ekstremis Rusia.

“Ketika saya menyadari bahwa saya dimasukkan ke dalam daftar yang sama dengan penembak sekolah dan kelompok ISIS, saya pikir itu gila,” kenang dia.

Selama menjadi tahanan rumah, dia dilarang berbicara di telepon maupun online.

Sebelumhya, pemerintah Rusia mengharapkan dukungan penuh dan gigih untuk serangan di Ukraina.

Apabila ada warga tidak mendukung serangan tersebut, setidaknya warga itu diharapkan untuk tetap bungkam. Jika nekad cuap-cuap, akan ada serangkaian hukum represif untuk menindak perbedaan pendapat itu.

Itu termasuk undang-undang yang melarang penyebaran “informasi palsu” tentang militer dan “mendiskreditkan” tentara. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan