Kajianberita.com
Beranda Lifestyle Intip Virus Marburg yang Buat Indonesia Waspadai Wisatawan Afrika

Intip Virus Marburg yang Buat Indonesia Waspadai Wisatawan Afrika

Ilustrasi virus marbrug,

JAKARTA – Pemerintah Indonesia akan mengawasi wisatawan dari Afrika, khususnya Guyana Ekuatorial menyusul temuan baru kasus virus Marburg.

Selain Guyana Ekuatorial, negara tetangganya, Kamerun, juga ditemukan dua kasus suspek.

“Seorang epidemiolog mengatakan kasus virus Marburg semakin intensif, membuka potensi yang semakin meluas menjadi pandemi. Sementara sistem kesehatan Indonesia disebut “rawan”,” seperti dilansir BBC, Selasa (21/2/2023).

Karenanya, ahli kesehatan mendorong komitmen anggaran pemerintah pada tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan untuk melakukan langkah mitigasi.

Dilansir viva, Virus Marburg tengah menjadi sorotan lantaran penularan yang terjadi di Afrika dan menyebabkan kematian hingga 88 persen.

Meski belum ada di Indonesia, namun masyarakat patut mewaspadai penularannya yang dapat terjadi melalui pertukaran cairan, termasuk seks anal.

Dikutip laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), virus Marburg pertama kali diidentifikasi pada tahun 1967 secara bersamaan di Marburg dan Frankfurt di Jerman dan di Belgrade, Serbia.

Setelah temuan kasus tersebut, dilaporkan wabah dan kasus sporadis di Angola, RD Kongo, Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda.

Sejak tahun 1967 hingga saat ini, telah dilaporkan sebanyak 593 kasus konfirmasi penyakit virus Marburg dengan 481 kematian.

Persentase kematian hingga 81 persen yang tersebar pada berbagai negara di dunia baik di wilayah Afrika, Amerika, maupun Eropa.

Tiga negara dengan pelaporan tertinggi kasus penyakit virus Marburg sejak tahun 1967 adalah Angola (374 kasus), RD Kongo (154 kasus), dan Jerman (29 kasus).

“Saat ini, wabah penyakit virus Marburg sedang terjadi di negara Guinea Khatulistiwa sejak 7 Februari 2023. Terhitung hingga 13 Februari 2023, telah dilaporkan sebanyak 1 kasus konfirmasi, 16 kasus suspek, dan 9 kematian (CFR dari kasus konfirmasi: 100 persen),” tulis laman Kemenkes.

Terhadap wabah terakhir yang sedang berlangsung di Guinea Khatulistiwa, gejala yang dialami kasus konfirmasi dan kasus suspek adalah demam, fatigue, muntah darah, dan diare.

Namun hingga saat ini, belum pernah dilaporkan kasus konfirmasi penyakit virus Marburg di Indonesia dan di negara sekitar Indonesia.

“Sehingga risiko importasi penyakit virus Marburg di Indonesia rendah,” tulis Kemenkes.

Virus Marburg dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui darah dan cairan tubuh lainnya.

Ini termasuk urin, saliva atau air liur, keringat, feses atau tinja, bekas muntahan, ASI, dan cairan semen atau sperma dari manusia baik masih hidup atau sudah meninggal yang terinfeksi virus Marburg.

Virus Marburg dapat masuk melalui kulit yang terluka atau membran mukosa yang tidak terlindungi seperti mata, hidung, dan mulut.

Selain itu, virus ini juga dapat menyebar melalui alat-alat seperti pakaian, tempat tidur dan perlengkapannya, jarum suntik, serta alat medis yang telah terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi virus Marburg.

“Dalam beberapa kasus, virus Marburg dapat ditularkan melalui cairan semen dari seseorang yang sembuh dari penyakit virus Marburg. Penularan dapat terjadi baik melalui oral, vaginal, atau seks anal,” tambah laman Kemenkes.

Gejala penyakit virus Marburg dapat muncul secara tiba-tiba, dengan demam tinggi, sakit kepala parah, malaise parah, dan nyeri otot.

Pada hari ketiga, seseorang dapat mengalami diare berair yang parah, nyeri perut, kram, mual dan muntah dimana diare dapat bertahan selama seminggu.

Selain itu, pada fase ini seseorang dapat terlihat memiliki mata cekung. Pada 2-7 hari setelah awal gejala, ruam yang tidak gatal dapat timbul.

Gejala berat berupa perdarahan dapat terjadi pada hari kelima hingga ketujuh, dan pada kasus fatal perdarahan terjadi di beberapa area.

Perdarahan dapat terjadi di hidung, gusi, dan vagina serta dapat keluar melalui muntah dan pada feses.

Selama fase penyakit yang berat, pasien menderita demam tinggi, dan gangguan pada sistem saraf pusat sehingga dapat mengalami kebingungan dan mudah marah. Orkitis (radang testis) telah dilaporkan kadang-kadang pada fase akhir penyakit (15 hari).

Dalam ksus yang fatal, kematian paling sering terjadi antara 8 dan 9 hari setelah timbulnya gejala.

Biasanya didahului oleh kehilangan darah yang parah dan syok. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan