Kajianberita.com
Beranda Headline Selain Dua Warga Sumut, Ada Tujuh Warga Lainnya Tewas Korban Rusuh Papua

Selain Dua Warga Sumut, Ada Tujuh Warga Lainnya Tewas Korban Rusuh Papua

Suasana rusuh di Papua Jumat (24/2/2023) yang menewaskan sembilan warga, dua di antaranya asal Sumut

Kerusuhan dan pembakaran yang terjadi Wamena, Kamis (23/2/2023), menewaskan 9 orang dan belasan luka. Semua yang meninggal dalam kerusuhan ini jenis kelami laki-laki.

Berikut daftar nama 9 orang korban tewas kerusuhan Wamena yang dihimpun Tribun:

  1. Albert Sitorus (usia 26 Tahun, luka robek di kepala belakang, luka panah bagian punggung).
  2. Ramot Siagian (usi 28 tahun, luka robek di kepala belakang, luka panah pada punggung)
  3. Stepanus Wenda (luka tembak di bagian perut)
  4. Alfredo Elopete (luka tembak di leher)
  5. Korwa Wanimbo (luka tembak di punggung)
  6. Tinus Yelipele (luka tembak di paha kanan)
  7. Vicky Kogoya (luka tembak di ketiak)
  8. Temias Pokneagge
  9. Identitas belum teridentifikasi

 

Sementara yang mengalami luka-luka hingga kini masih dirawat di rumah sakit. Sebagian besar laki-laki warga setempat, yang mengalami luka tembak.

Satu di antara korban tewas pada kerusuhan di Wamena Povinsi Papua ini adalah Albert Sitorus. Dia menghembuskan nafas terakhir di lokasi kejadian, setelah dia dituduh baca Jugasebagai pelaku penculikan anak.

Albert meninggal dengan kondisi tubuh dihujani anak panah dan luka parah pada bagian kepala. Albert Sitorus adalah suami dari Erika Siagian. Mereka sudah punya dua orang anak.

Kedua anaknya masih kecil. Anak sulung masih berusia tiga tahun. Erika Siagian, membuat postingan atas kepergian suaminya yang begitu mengenaskan. Dia menyampaikan curahan hatinya lewat media sosial pada Kamis (23/2/2023) malam.

“Kamu pergi tanpa pesan. Sungguh kamu tega. Bagaimana nasib dua anak kita ini nanti,” kata Erika dalam postingan itu.

Dia menyampaikan ucapan selamat jalan untuk suaminya, dan juga berharap diterima di sisi Tuhan.

baca juga: Dua Warga Asal Sumut Dibunuh Secara Sadis di Papua, Pemuda Batak Bereaksi

Kesedihan Erika sesungguhnya bukan hanya kehilangan suami pada peristiwa tragis yang terjadi di Kampung Sapalek, Wamena itu. Sebab, satu lagi yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah adiknya yang bernama Ramot Siagian. Erika harus merelakan kehilangan dua orang sekaligus orang yang dia cintai.

Peristiwa kerusuhan ini berawal dari kedatangan Albret dan Ramot naik mobil dengan tujuan Kampung Yomaima. Tapi saat berada di Kampung Sinakma, mobil pikap yang dikendarai mereka ditahan oleh sejumlah warga.

Mereka dituduh sebagai pelaku penculikan anak. Informasi ini pun menyebar dengan capat, yang menyebabkan kehebohan. Di mobil itu sebenarnya tidak ada anak-anak yang dibawa oleh Albret dan Ramot.

“Sopirnya dituduh penculik anak. Itu yang menyebabkan terjadi kehebohan,” kata Kombes Pol Ignatius Benny Ady Prabowo, dikutip dari Tribunpapua.

Sebelum terjadinya pengadangan kepada Albret dan Ramot, memang telah beredar dalam pesan beratantai di grup WA, mengabarkan ada pendatang pelaku penculikan anak.

Diduga pesan berantai itu adalah hoaks atau kabar bohong. Namun ketika kedua korban ini melewati desa itu, mereka jadi sasaran. Polisi yang mendapat kabar ada penahanan terhadap warga yang dituding penculik anak, datang ke lokasi.

Mereka berusahan menenangkan warga yang sedang menahan dua orang pria perantau dari Sumatera Utara itu.

“Saat berusaha menenangkan massa, kami diserang pakai batu. Kami memberi tembakan peringatan agar massa mundur,” ungkap AKBP Hesman Napitupulu, Kapolres Jayawijaya.

Penjelasannya, saat diberi tembakan peringatan, massa malah jadi semakin berulah.

“Mereka berulah, sampai membakar beberapa bangunan ruko,” ujar dia.

Selanjutnya situasi semakin tidak terkendali. Terjadi kebakaran hebat yang disertai dengan penyerangan.

Aktivis HAM di Papua, Theo Hesegem menyebut pada kejadian ini ada 9 orang korban tewas. Jumlah korban yang mengalami luka, ungkapnya, belasan orang, dari data sementara.

Kepolisian kini meningkatkan pengamanan di lokasi kejadian itu. Selain itu, Kapolres Jayawijaya berjanji akan mengusut tuntas kasus ini.

“Kami akan mengusut siapa dalangnya dan juga pembuat kericuhan,” kata Kapolres.

Kondisi di sekitar Wamena sudah bisa dikendalikan. Namun warga masih merasa takut. Apalagi empat tahun lalu, di sana juga ada terjadi kerusuhanbesar, yang masih teringat jelas dalam ingatan warga sekitar.

Saat itu, lebih dari 20 orang yang meninggal dunia, ribuan orang harus mengungsi.

Kapolres meminta supaya masyarakat jangan mudah percaya pada informasi yang belum pasti kebenarannya. Hal ini demi keamanan dan keselamatan semua pihak. Dia berharap tidak ada lagi hoaks yang dipercayai masyarakat. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan