Kajianberita.com
Beranda Sumut Damai dengan Ibu dan Adik Tiri, Pemuda Ini Bebas dari Penjara

Damai dengan Ibu dan Adik Tiri, Pemuda Ini Bebas dari Penjara

Tersangka kasus penganiayaan terhadap adik dan ibu tirinya, Imam Debiansyah Panjaitan, 26 tahun, dihentikan dengan pendekatan keadilan restorasi. (kajianberita/istimewa)

MEDAN – Tersangka kasus penganiayaan terhadap adik dan ibu tirinya, Imam Debiansyah Panjaitan, 26 tahun, batal mendekam dipenjara lebih lama.

Pasalnya, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) menghentikan penuntutan perkaranya dengan pendekatan keadilan restoratif (restorative justice).

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sumut, Yos A Tarigan, mengatakan perkara yang dihentikan penuntutannya merupakan perkara dari Kejari Labuhanbatu dengan nama tersangka Imam Debiansyah Panjaitan, melakukan penganiayaan kepada adik tirinya.

Penghentian kasus tersebut setelah tersangka telah berdamai dengan adik dan ibu tirinya, sehingga jajaran kejaksan melakukan ekspose secara daring kepada Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum), Fadil Jumhana.

“Ekspose perkara disampaikan Kajati Sumut Idianto, Wakajati Sumut Asnawi, Aspidum Luhur Istighfar, Aswas Darmukit, para Koordinator dan para Kasi. Kegiatan ekspose juga diikuti Kajari Labuhanbatu Furkon Syah Lubis beserta jajarannya,” kata Yos, Selasa (28/2/2023).

Yos menjelaskan tersangka dikenai Pasal 335 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana atau Pasal 45 Ayat (1) UU RI No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau Pasal 80 Ayat (1) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU RI No. 1 Tahun 2016 Atas Perubahan Kedua UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang Undang.

“Tersangka sebelumnya diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp4.500. Setelah dilakukan mediasi, akhirnya antara tersangka dengan korban (adik tiri) dan ibunya sepakat berdamai,” ujar Yos.

Yos menambahkan dalam ekspose melalui virtual tersebut, tersangka juga dimaafkan oleh adik-adiknya dari Kantor Kejari Labuhanbatu kepada tersangka yang berada di lembaga pemasyarakatan. Tersangka pada kesempatan itu berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Alasan dilakukan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restorasi tersebut adalah tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana dan tindak pidana hanya diancam dengan pidana denda atau diancam dengan pidana penjara tidak lebih dari 5 tahun.

Berdasarkan Pasal 5 PERJA Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif). Mantan Kasi Pidsus Kejari Deli Serdang ini menambahkan, dengan diterapkannya penghentian penuntutan berdasarkan Perja No.15 Tahun 2022 telah membuka ruang yang sah bagi masyarakat untuk memperoleh rasa keadilan.

Penghentian penuntutan dengan keadilan restoratif ini juga telah mengembalikan dan memulihkan keadaan kepada keadaan semula. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan