Kajianberita.com
Beranda Headline Ternyata Ini Orang Terkaya di Sumut, Si Raja Sawit yang Berharta Rp60,4 Triliun

Ternyata Ini Orang Terkaya di Sumut, Si Raja Sawit yang Berharta Rp60,4 Triliun

Bachtiar Karim si raja bisnis kelapa sawit dari Medan

Medan – Mungkin namanya tidak terlalu popular di kalangan masyarakat Sumatera Utara, sebab ia lebih banyak tinggal di luar negeri. Namun asal usulnya tetap kota Medan. Dialah sosok pengusaha terkaya di provinsi ini. Bahkan salah satu terkaya di Indonesia.

Dia adalah Bachtiar Karim, pengusaha yang merupakan orang terkaya di Medan. Namanya pun masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia versi Forbes tahun 2022.

Harta Kekayaan kakek berumur 66 tahun ini tercatat mencapai USD3,9 miliar atau setara Rp60,4 triliun.

Bachtiar merupakan seorang pengusaha sawit dari Medan. Dia lahir pada 5 November 1957. Sebagai bos kelapa sawit, banyak produk yang telah dihasilkan. Salah satunya minyak goreng kemasan dengan merek Sunco.

Raja sawit dari Medan ini menjalankan bisnis bersama saudaranya Burhan dan Bahari untuk mengelola Musim Mas. Ketiganya mengurus perusahaan yang diwariskan Sang Ayah, Anwar Karim yang merupakan anak dari Lee Bun Liau.

Melansir website resmi musimmas.com, sejarah bisnis keluarga ini bermula dari sang kakek, Lee Bun Liau yang mendirikan pabrik sabun Nam Cheong di Medan tahun 1932. Produk sabun ini pun dijual di Indonesia dan Malaysia kala itu.

Namun Lee Bun Liau meninggal saat Anwar Karim baru berusia 12 tahun. Kemudian, Anwar Karim terjun langsung mengurus bisnis ayahnya ini sejak berusia 20 tahun. Bisnis produksi sabun batang ini pun berubah haluan menjadi bisnis kelapa sawit.

Anwar Karim mendirikan kilang minyak sawit atau pabrik rafinasi pertama di Indonesia pada tahun 1970. Lokasinya di Belawan, Sumatera Utara. Saat itu perusahaan telah berganti nama menjadi PT Lambang Utama. Tahun 1972, PT Lambang Utama berganti menjadi PT Musim Mas.

Sejak kecil, anak-anak Anwar Karim yakni Bachtiar, Burhan dan Bahari sudah diajak mengikuti berbagai pertemuan. Cara ini merupakan pembelajaran Anwar kepada keturunannya yang bakal meneruskan perusahaan keluarga.

Di tahun 1990, Musim Mas meresmikan pabrik penggilingan sawit pertamanya di Medan. Selang 12 tahun kemudian, Musim Mas membuka kantor cabang pertama di luar negeri yakni di Malaysia. Kala itu di tahun 2004, Musim Mas menjadi perusahaan Indonesia pertama yang menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Saat Musim Mas telah diwariskan kepada Bachtiar Karim, Musim Mas melebarkan sayapnya ke Eropa. Tahun 2007, Musim Mas menjalankan bisnis kelapa sawit di Asia, Eropa dan Amerika Utara.

Melansir dari website musimmas.com, Grup Musim Mas merupakan perusahaan kelapa sawit terintegrasi terbesar di dunia. Saat ini Musim Mas telah ada di 13 negara dengan operasional utamanya di Indonesia. Bisnis yang dijalankan mencakup pembudidayaan hingga penyulingan dan manufaktur.

Musim Mas mengambil sumber bahan baku dari Malaysia dan Indonesia. Kantor utama Musim Mas berbasis operasional di Indonesia. Pusat utama penelitian dan pengembangan (R&D) berbasis di Singapura. Sementara itu berbagai pabrik produksi berlokasi di Asia dan Eropa.

Musim Mas Group menjalankan bisnis kelapa sawit terintegrasi vertikal yang menawarkan portofolio produk hilir yang luas. Raja sawit Indonesia memanfaatkan keunggulan rantai pasokan untuk menghadirkan produk-produk yang dibutuhkan konsumen.

Setidaknya ada 10 jenis produk yang dihasilkan Musim Mas, antara lain, bahan bakar nabati, farmasi, industri, komoditas, makanan & minuman, nutrisi ternak. Ada juga produk perawatan rumah, perawatan tubuh & kosmetik, polimer & plastik, produk konsumen, hingga suplemen kesehatan & diet. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan