Kajianberita.com
Beranda Lifestyle Tak Hanya Berlebihan, Konsumsi Gula Nol Kalori Bisa Timbulkan Risiko Penyakit Lho..

Tak Hanya Berlebihan, Konsumsi Gula Nol Kalori Bisa Timbulkan Risiko Penyakit Lho..

ilustrasi/unsplash-Myriam Zilles

MEDAN – Gula merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan manusia. Namun, jika berlebihan bisa menimbulkan gangguan kesehatan.

Namun nyatanya, dalam mengonsumsi gula dengan jumlah nol kalori pun bisa berbahaya dan menimbulkan risiko penyakit.

Penulis studi utama, Stanley Hazen dari Cleveland Clinic Lerner Research Institute yang dipublikasi dalam jurnal Nature Medicine menemukan bahwa konsumsi gula nol kalori bisa meningkatkan risiko pembekuan darah, stroke, dan serangan jantung.

“Tingkat risikonya tidak kecil. Salah satu penyebabnya adalah eritritol, pengganti gula yang biasa ditemukan dalam stevia atau gula nol kalori lainnya,” kata Stanley yang dilansir dari CNN, Jumat (3/3/2023).

Kadar eritritol dalam darah yang tinggi membuat orang dengan diabetes dua kali lebih mungkin mengalami serangan jantung atau stroke.

“Jika kadar eritritol dalam darah berada di atas 25 persen, ada risiko serangan jantung dan stroke dua kali lipat lebih tinggi daripada mereka dengan kadar eritritol di bawah 25 persen,” ujar Stanley.

“Eritritol tampaknya menyebabkan trombosit darah menggumpal lebih mudah. Gumpalan dapat pecah dan berjalan ke jantung hingga memicu serangan jantung atau berjalan ke otak hingga memicu stroke,” lanjutnya.

Eritritol sendiri adalah gula alkohol atau karbohidrat yang ditemukan secara alami pada buah dan sayuran. Para ahli menyebut eritritol memiliki nol kalori dan tidak meningkatkan kadar gula dalam darah.

Hubungan antara eritritol dan risiko kardiovaskular sendiri ditemukan secara tidak sengaja dalam penelitian.

Stanley menjelaskan penelitian tersebut dilakukan untuk menemukan senyawa dalam darah yang dapat memprediksi risiko masalah kardiovaskular. Peneliti menganalisis 1.157 sampel darah pada orang yang memiliki risiko kardiovaskular sepanjang tahun 2004-2011.

“Kemudian kami menemukan bahwa senyawa itu adalah eritritol, pemanis nol kalori,” ungkapnya.

Untuk mengkonfirmasi temuan tersebut, tim yang dipimpin Hazel menguji sampel darah lain dari 2.100 orang di Amerika Serikat dan 883 sampel tambahan dari Eropa hingga tahun 2018.

Sekitar 75 persen dari ketiga populasi tersebut memiliki masalah kardiovaskular. Sementara seperlima di antaranya mengidap diabetes. Lebih dari setengahnya merupakan laki-laki berusia 60-70 tahun.

Pada ketiga populasi tersebut, peneliti menemukan bahwa tingkat eritritol yang lebih tinggi terkait dengan risiko serangan jantung dan stroke dalam kurun waktu tiga tahun.

Masih melansir CNN, Untuk mengetahui alasan di baliknya, peneliti kemudian melakukan pengujian lebih lanjut pada hewan dan laboratorium. Mereka menemukan Eritritol memicu peningkatan trombosis atau pembekuan darah.

Pembekuan darah tersebut merupakan proses alami yang diperlukan oleh tubuh. Pembekuan darah membantu darah berhenti mengalir saat seseorang mengalami luka.

Namun, ukuran gumpalan yang dibuat oleh trombosit bergantung pada ukuran pemicu yang merangsang sel tersebut. Misalnya, jika pemicunya hanya 10 persen, maka Anda hanya mendapatkan 10 persen gumpalan.

“Tapi, apa yang kami lihat dengan eritritol adalah trombosit yang menjadi sangat responsif. Stimulan 10 persen saja bisa menghasilkan 90-100 persen pembentukan gumpalan,” jelas Stanley.

Namun, studi belum berakhir. Pada bagian akhir penelitian, delapan sukarelawan sehat diminta mengonsumsi minuman yang mengandung 30 gram eritritol. Angka ini setara dengan 1/2 liter es krim keto.

Peneliti kemudian melacak kadar eritritol dalam darah dan risiko pembekukan tiga hari setelah konsumsi.

“Tiga puluh gram sudah cukup membuat kadar eritritol dalam darah naik seribu kali lipat. Itu angka yang tinggi di atas ambang batas dan bisa meningkatkan risiko pembekuan darah,” jelanya mengingatkan.

Namun demikian, ahli kimia di RMIT University, Australia Oliver Jones mencatat bahwa penelitian tersebut hanya mengungkapkan korelasi, bukan sebab akibat.

Ia mengungkap risiko kelebihan eritritol perlu diimbangi dengan risiko kesehatan yang nyata dari asupan glukosa berlebih. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan