Kajianberita.com
Beranda Ekonomi Minat Petani Bertanam Kedelai di Sumut Minim

Minat Petani Bertanam Kedelai di Sumut Minim

Ilustrasi-Unsplash-Jasmine Waheed

MEDAN – Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (Ketapang TPH) Provinsi Sumatera Utara, Rajali, mengatakan minat petani bertanam kedelai masih tergolong minim di Sumatera Utara.

Indikasi itu terlihat dari data verifikasi Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) penerima bantuan kedelai di Sumatera Utara. “Dari alokasi untuk Sumatera Utara sebanyak 30 ribuan hektare, hanya ada sekira 9.971 hektare di 12 kabupaten yang menjadi CPCL,” katanya, Jumat (10/3/2023).

Dikatakannya, sebanyak 12 kabupaten/kota dimaksud adalah Labusel (165 ha), Sergai (320 ha), Langkat (310 ha), Asahan (171 ha), Batu Bara (65,5 ha), Nias Barat (200 ha), Gunungsitoli (500 ha), Mandailing Natal (904 ha), Kota Tanjungbalai (50 ha), Simalungun (6.314 ha), Tapanuli selatan (20 ha), Tapanuli Utara (250 ha), Nias Selatan (200 ha), dan Deliserdang (501 ha).

“Padahal, prospek budidaya kedelai saat ini cukup menjanjikan. Impor kedelai sudah dibatasi sehingga kesempatan ini harus dimanfaatkan petani Indonesia, termasuk Sumatera Utara,” pungkasnya.

Sebelumnya Dinas Ketapang TPH Provinsi Sumatera Utara, mulai mendistribusikan bantuan benih kedelai dari APBN Tahun Anggaran 2023 untuk sejumlah anggota kelompok tani (poktan) di Sumut.

Plh Kepala Seksi (Kasi) Aneka Kacang dan Umbi Bidang Tanaman Pangan Dinas Ketapang TPH Sumut, Hendrik Miraza, mengatakan distribusi benih kedelai tersebut telah dilakukan sejak awal Januari 2023.

“Sejumlah daerah yang sudah menereima benih kedelai yakni poktan di Kabupaten Serdangbedagai dengan bantuan varietas Anjasmoro sejak awal Januari 2023 lalu,” ujarnya.

Hendrik menyebutkan dari alokasi seluas 320 hektare (ha), benih kedelai yang didistribusikan ke petani Sergai baru berkisar 100 ha. Begitu juga di Kabupaten Langkat, benih kedelai yang diterima anggota poktan hanya untuk areal seluas 210 ha dari alokasi sebanyak 310 ha.

Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Asahan yang baru menerima benih kedelai untuk pertanaman seluas 117 ha dari alokasi sebanyak 171 ha.

Berbeda dengan Kabupaten Labuhanbatu selatan (Labusel) yang sudah menerima keseluruhan benih bantuan untuk pertanaman seluas 165 ha.

“Keterbatasan benih kedelai yang membuat bantuan dilakukan secara bertahap, selain lambannya pengajuan CPCL dari pihak kabupaten/kota,” ujarnya.

Hendrik mengemukakan, setiap penerima bantuan menerima tidak hanya benih kedelai, tapi juga sarana produksi pertanian (saprodi) seperti pupuk. Untuk setiap ha, penerima bantuan akan mendapatkan 50 kilogram (kg) benih kedelai, 50 kg pupuk NPK, 3 kg pupuk hayati dan 2 liter pestisida. (*)

 

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan