Kajianberita.com
Beranda Headline Kalimat soal ‘Goblok’  Dipelintir, Gubsu Bantah Menyudutkan Kadis Koperasi dan UKM Sumut

Kalimat soal ‘Goblok’  Dipelintir, Gubsu Bantah Menyudutkan Kadis Koperasi dan UKM Sumut

Edy Rahmayadi saat menyampaikan pidato motivasi kepada UMKM Sumut agar mampu menguasai digitalisasi untuk meningkatkan produksi

Sejumlah media  dalam dua hari ini memuat berita dengan judul  seakan-akan Gubernur Edy Rahmayadi memarahi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumut dengan sebutan ‘Goblok..!’. Gubernur menyesalkan pemberitaan itu, sebab ucapan ‘Goblok’ yang dimaksud saat itu konteknya adalah sebuah motivasi, bukan untuk menyudutkan.

Munculnya cerita tentang ‘Goblok’ itu mencuat tatkala berlangsung  acara pembukaan Pelatihan Digitalisasi bagi 1000 UMKM di Sumatera Utara yang berlangsung pada Senin 13 Februari lalu.  Kala itu Edy Rahmayadi memberikan sambutannya sebagai motivasi bagi UMKM di daerah ini untuk maju.

Edy pun bercerita banyak hal sebagai perbandingan. Misalnya, ia bercerita  tentang bagaimana hebatnya perkembangan UMKM di Yogya yang produknya bisa menembus pasar global.

“UMKM kita di Sumut ini sembilan kali lipat lebih banyaknya dari UMKM Jogja. Tetapi persoalan UMKM kita, hari ini jualan tapi untuk dimakan hari ini juga, itu pun minus,” ujar Edy di depan para pelaku UMKM yang hadir pada kesempatan itu.

Edy lantas menceritakan seorang perempuan tua yang kerjanya berkebun pisang di desa. Saat panen tiba, perempuan itu lantas menjual pisangnya ke masyarakat. Pisang itupun diolah menjadi bahan jadi, misalnya pisang goreng.

“Si Mbok yang menanam pisang itu mungkin masuk surga, karena ia hanya tahunya menanam, dan tidak pernah mengambil pisang orang lain,” katanya.

Sementara, tambahnya,  yang banyak untung adalah pengusaha yang mampu mengolah pisang itu menjadi bahan jadi.

“Kita pun makan pisang yang sudah jadi dengan harga lebih mahal. Dan kita pun ngomel-ngomel karena harganya mahal. Marah-marah itu yang membuat kita nanti bisa masuk neraka,” kata Edy yang disambut tawa para hadirin.

Edy pun bercerita lagi tentang produk coklat (cacao) yang banyak dihasilkan di Sumatera Utara, termasuk  di Mandailing kampung istrinya.

“Di kampung istri saya, coklat ini ditanam dan buahnya dipanen kemudian dikeringkan di pinggir-pinggir jalan,” katanya. Perlu waktu lama untuk bisa menjual buah coklat itu ke tingkat pasar.

“Petani di kampung kita tidak pernah berpikir bagaimana mengolah coklat itu menjadi barang mahal,” ujarnya. Yang justru terpikir melakukan itu adalah Belgia. Dunia mengakui kalau Belgia merupakan negara  produsen makanan berbahan coklat yang sangat terkenal. Harganya pun mahal.

“Padahal di Belgia itu, tidak ada kebun coklat,” ujar Edy. “Salah satunya dari Mandailing sana mereka datangkan coklat itu. Orang kita yang tanam,  mereka yang menikmati hasilnya,” cerita Gubernur Edy.

Tentu saja tujuan Edy menyampaikan cerita itu adalah untuk mendorong agar UMKM  mau berpikir maju dengan lebih cerdas mengolah bahan baku menjadi produk  jadi bernilai tinggi.

Lalu ia pun mencoba melihat akar masalahnya. Ia pun berkesimpulan kalau ada yang kurang optimal dalam produksi dan pemasaran produk di daerah ini sehingga UMKM cenderung bermain di level bawah. Edy pun berkesimpulan salah satu akar persoalannya adalah keberadaan UMKM yang gaptek alias gagap teknologi.

“Inilah kondisi UMKM kita. Makanya yang paling berdosa, ya Ketua Koperasi ini. Ia tak pernah berpikir apa yagn mau dibuat,” ujar Edy Rahmayadi yang disambut riu tawa para peserta.

Halaman: 1 2
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan