Kajianberita.com
Beranda Nasional Korupsi di Masa Jokowi Kian Mengerikan, Mahfud MD: Noleh Kemana Saja Sekarang Ada Korupsi

Korupsi di Masa Jokowi Kian Mengerikan, Mahfud MD: Noleh Kemana Saja Sekarang Ada Korupsi

Menko Polhukam Mahfud MD mengaku kalau korupsi kian merajalela saat ini

Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan korupsi di Indonesia saat ini telah terjadi di berbagai sektor. Ia menyebut korupsi sudah menjadi fenomena yang gila.

“Sekarang saudara noleh kemana saja ada korupsi kok. Noleh nih ke hutan ada korupsi di hutan, noleh ke udara ke pesawat udara ada korupsi di garuda, asuransi ada asuransi, koperasi korupsi, semuanya korupsi,” kata Mahfud dalam Sarasehan Sinkronisasi Tata Kelola Pertambangan Mineral Utama Perspektif Politik, Hukum dan Keamanan, Selasa (21/3).

Mahfud mencontohkan korupsi di sektor pertambangan. Ia mengutip pernyataan mantan Ketua KPK Abraham Samad beberapa tahun lalu.

Menurutnya, Samad pernah mengatakan jika negara bisa menghapus celah-celah korupsi di bidang tambang, setiap warga di Indonesia bisa mendapatkan uang Rp20 juta tiap bulan dari negara.

“Saudara bayangkan betapa besar korupsi dunia pertambangan ini sejak saat itu dan sejak sebelumnya, mengapa kita melakukan Reformasi. Itu pertambangan, belum kehutanan, belum perikanan, belum pertanian, apalagi? Gilanya korupsi di negara kita ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga bercerita pengalamannya meminta bantuan Menteri ESDM Arifin Tasrif untuk membebaskan kapal milik pengusaha tambang yang ditahan oleh petugas.

“Saya dapat laporan dari seorang pengusaha. ‘Pak, kapal saya ditahan’. Padahal Pak Arifin sudah menyatakan semua kapal yang mengangkut batu bara sekarang harus dilepas. Diberi izin keluar lagi karena waktu itu kan nggak boleh keluar, lalu beberapa hari kemudian lepas,” ujarnya.

Namun, Mahfud tidak mengungkap di wilayah mana kapal itu ditahan. Mantan ketua MK itu hanya mengatakan kapal tersebut hendak menuju Hong Kong

“Kalau Jumat dia belum sampai berarti melanggar kontrak. Puluhan miliar dia rugi, sehingga dia lapor kalau saya tidak dapat izin untuk berangkat,” ujarnya.

Ia lalu menghubungi Arifin untuk memberi data soal kapal tersebut. Kapal kemudian dibebaskan. Namun Mahfud mengaku terkejut lantaran ternyata ada ratusan kapal yang ditahan.

“Sorenya orang yang melapor ke saya itu datang, ucapkan terima kasih. ‘Terima kasih pak, bukan hanya kapal saya, 126 kapal lain langsung dilepas’. Berarti ada 126 kapal ditahan dan dimintai uang untuk berangkat. Untung Pak Arifin turun tangan, dan itu saudara, situasi tahan-menahan bagian dari mafia tambang,” katanya.

Indek Korupsi RI Memburuk

Fakta memburuknya korupsi di Indonesia sejalan dengan hasil riset Transparency Internasional.  Laporan Transparency Internasional terbaru menunjukkan, indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia tercatat sebesar 34 poin dari skala 0-100 pada 2022. Angka ini menurun 4 poin dari tahun sebelumnya.

Penurunan IPK ini turut menjatuhkan urutan IPK Indonesia secara global. Tercatat, IPK Indonesia pada 2022 menempati peringkat ke-110. Pada tahun sebelumnya, IPK Indonesia berada di peringkat ke-96 secara global.

Menurunnya IPK Indonesia mengindikasikan persepsi publik terhadap korupsi di jabatan publik dan politis di tanah air memburuk sepanjang tahun lalu.

Secara tren, IPK Indonesia cenderung membaik dibandingkan periode dua dekade terakhir. IPK tertinggi yaitu pada 2019 yang mencapai 40 poin, sedangkan yang terendah pada 2002 yaitu 19 poin.

Transparency International melibatkan 180 negara dalam survei IPK-nya. Skor 0 artinya, banyak praktik korupsi di negara tersebut, sebaliknya skor 100 menandakan negara tersebut bersih dari korupsi.

Adapun rata-rata IPK dunia pada 2022 tercatat sebesar 43. Nilai ini tidak berubah selama 11 tahun berturut-turut. Dua per tiga negara masih memiliki skor di bawah 50, yang mengindikasikan negara-negara tersebut memiliki masalah korupsi serius. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan