Kajianberita.com
Beranda Ekonomi Sepeda Motor Kian Padat di Kota Medan, Jumlahnya Lebih Banyak dari Populasi Penduduk

Sepeda Motor Kian Padat di Kota Medan, Jumlahnya Lebih Banyak dari Populasi Penduduk

Jumlah Sepeda motor semakin padat di Kota Medan,  jumlahnya bahkan lebih banyak dari jumlah penduduk kota dan berpotensi menyebabkan terjadinya kemacetan makin tinggi. Data terakhir angka sepeda motor di Indonesia sudah mencapai 128 juta unit artinya, hampir separuh jumlah penduduk yang tahun ini diperkirakan akan mencapai 280 juta orang.

Dari data yang ada Sumatera Utara ada 6.368.014 unit unit sepeda motor dan di Medan ada 2.724.585 unit, jauh lebih banyak dari kabupaten kota lain, seperti Serdang yang hanya ada 443.631 unit, Asahan 404.586 unit, Labuhan Batu 366.359 unit dan Langkat 334.116 unit. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Kota Medan berpenduduk 2.460.858 jiwa pada tahun 2022.

Artinya jumlah sepeda motor di Medan sudah melebihi jumlah penduduknya. Tingginya jumlah itu pun tak sebanding dengan pertumbuhan luasan jalan kota, bahkan akan semakin mengancam kemacetan di kawasan pusat kota, apalagi sejak perubahan struktur jalan dan perubahan bentuk trotoar di kawasan inti kota, terutama kawasan Kesawan.

Sementara kalau melihat pasar, sepeda motor baru selalu muncul dan masuk pasar. Bukan hanya sepeda motor berbahan bakar fosil, sepeda motor listrik. tingginya populasi sepeda motor itu tentunya menjadi masalah yang kompleks buat kota, walau bisa saja diartikan jumlah sepeda motor yang tinggi menandakan ekonomi berputar kencang karena mobilisasi orang dan barang tinggi.

Tapi itu, menurut pakar Kesehatan Lingkungan Zulfendri, bisa saja malah sebaliknya terutama dari sisi emisi dan perubahan iklim. Tingginya populasi sepeda motor akan menjadi masalah dan ancaman serius bagi keberlangsungan lingkungan hidup dan kesehatan, terutama di perkotaan.

Selain itu juga menjadi tugas besar pemerintah menyiapkan angkutan umum perkotaan, sebab sepeda motor bisa saja menyebabkan sulitnya perkembangan angkutan umum. Ini juga akan menimbulkan persoalan di kehidupan masyarakat dan ekonomi suatu negara yang dominan menggunakan dan mengandalkan sepeda motor.

Situasinya akan semakin buruk saat pengelola kota tidak punya program road diet, aliat pengurangan penggunaan jalan, bahkan terkesan memanjakan pertumbuhan kendaraan pribadi. “Hal seperti itu seharusnya dipikirkan secara holistik oleh pengelola kota, jadi bukannya bangga dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang memberikan gambar seakan pertumbuhan ekonomi masyarakat bagus. Untuk kota yang tidak bisa dikembangkan lagi jalannya, sudah harus lebih mengelola sistim transportasi dan pendukungnya,” ungkap pakar transportasi Burhan Barubara.

Dia menambahkan. Untuk diet road yang dikatakannya, sebaiknya pengelola kota tidak lagi memanjakan kendaraan pribadi untuk datang ke pusat kota dan pusat-pusat keramain. “Misalnya dengan menyediakan kantong-kantong parkir diluar kawasan pusat kota,” jelas Burhan.

Kantong-kantong parkir itu katanya, diharapkan mengurangi beban di kawasan yang seharusnya lebih ramah buat manusia. (Rizanul)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan