Kajianberita.com
Beranda Sumut Bobby Nasution dan Kapolrestabes Medan Gelar Razia Asmara Subuh di Saat Ramadan

Bobby Nasution dan Kapolrestabes Medan Gelar Razia Asmara Subuh di Saat Ramadan

Selalu ada hal menarik seputar sahur, termasuk saat-saat pasca makan sahur dan shalat subuh. Waktu jelang siang yang tak terlalu lama bisa diisi banyak hal. Jika awalnya generasi muda memanfaatkannya untuk hal positif, belakangan ada yang terlihat negative sehingga Pemerintah Kota Medan dan Kepolisian merasa perlu meluruskannya dan merazianya.

Di awal-awal Ramadhan 1444 H tahun ini pun dilakukan, Walikota Medan Bobby Nasution dan Kapolrestabes Medan, Kombes Valentino Alfa Tatareda, SIK, SH. Mereka menggelar patroli. Alasannya pemantauan dan pencegahan asmara subuh. Terakhir dilakukan di Jalan Ringroad Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang.

Apa memang ada asmara subuh? Melihat pergeseran kebiasaan seputar waktu sahur dan subuh anak muda, hal itu bisa saja terjadi. Awalnya dikenal dengan aktifitas sahur on the road (SOTR). Aktifitas ini bermula kegiatan berbagi makanan menjelang sahur di bulan Ramadan bagi kalangan kurang beruntung.

Perlahan, sebagian diantaranya berubah atau bergeser jadi kesempatan kumpul-kumpul. Dari situ muncul oknum atau kelompok yang bisa beda pandangan yang berbuntut tawuran. Sebagian lain bisa melampiaskannya ke aksi balapan liar bahkan aksi kriminal lain, senbagian lain memanfaatkannya untuk mencari jodoh dan memadu kasih. Kegiatan ini yang kemudian disebut sebagai asmara subuh dan mengganggu kondusifitas keamanan di bulan Suci Ramadhan.

Alasan itu walikota dan kepolisian kota Medan melakukan patroli, pemantauan dan pencegahan asmara subuh setelah apel pasukan yang dipimpin langsung Walikota Medan, M Bobby Afif Nasution dan jajarannya Bersama jajaran kepolisian. hal serupa juga dilakukan di berbagai kota dan kabupaten lain di Sumut.

Kalau melihat sejarahnya, saat puasa Ramadan, makan sahur dan ibadah ikutannya merupakan sunnah Nabi dan bagian dari syiar Islam. Aktifitas yang penuh berkah bagian dari ibadah sehingga perlu dijaga agar maknanya tidak lari. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan