Kajianberita.com
Beranda Headline Tarik Menarik di Koalisi Besar Kian Seru, Potensi Bubar sangat Besar

Tarik Menarik di Koalisi Besar Kian Seru, Potensi Bubar sangat Besar

Presiden Joko Widodo bersama pimpinan partai pendukung Pemerintah.

Berbeda dengan Koalisi Perubahan untuk Persatuan yang digagas Nasdem, PKS dan Partai Demokrat yang terkesan solid dan tenang, Koalisi Besar yang diisi partai pendukung pemerintah, seperti Gerindra, Golkar, PKB, PPP dan PAN masih kacau balau. Tarik menarik kepentingan  terlihat begitu transparan.

Gerindra sudah pasti ngotot bahwa Koalisi itu harus mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

“itu sudah harga mati. Jika tidak, Koalisi ini pasti bubar. Tidak mungkin Prabowo dijadikan sebagai wakil,” kata Ahmad Muzani,  Sekjen Gerindra yang dihubungi Kajianberita.

Perdebatan justru mencuat untuk posisi bakal calon wakil presiden. Ada sejumlah nama yang disodorkan untuk mendampingi Prabowo, mulai dari Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Sandiaga Uno, Yusril Izha Mahendra, erick Thohir dan Ganjar.

Belakangan Prabowo juga berharap bisa membangun komunikasi dengan  PDIP, dengan memberi jatah kursi balal cawapres kepada partai itu. Prabowo menggadang-gadang Puan Maharani sebagai wakilnya asal PDIP mau bergandengan tangan di Koalisi Besar tersebut.

Prabowo Subianto menyebut sudah ada rencana komunikasi bersama antara partainya dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk membahas Pemilu 2024. Ia  mengatakan Gerindra terbuka dengan seluruh partai politik (parpol) dalam membahas kontestasi politik. Ia pun menilai saat ini seluruh parpol terbuka untuk melakukan komunikasi politik.

“Saya juga kemarin waktu HUT angkatan udara, saya juga sempat ngobrol sebentar dengan mbak Puan. Beliau katakan, mungkin sebentar lagi kita akan diatur untuk komunikasi politik,” kata Prabowo di Jalan Kertanegara 4, Jakarta Selatan, pada Senin (10/4).

Prabowo mengatakan dalam wacana pertemuan Gerindra dengan Puan juga akan membahas terkait pembentukan Koalisi Besar. Adapun rencana pembentukan Koalisi Besar ini muncul usai pertemuan Presiden Jokowi bersama lima ketua umum parpol yakni dari PPP, Golkar, PAN, Gerindra, dan PKB.

Gerindra belakangan ini menerima kunjungan Ketua Umum Parpol. Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo misalnya, telah mendatangi Kertanegara pada Rabu (5/4). Sehari berikutnya giliran Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra yang menemui Prabowo pada Kamis (6/4).

Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan pada Sabtu (8/4), dan teranyar pertemuan dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin yang berlangsung sekitar 100 menit pada Senin (10/4).

Cak Imin Tolak Airlangga jadi cawapres

Di tempat yang sama, Cak Imin menampik klaim dirinya sudah legowo apabila gagal diusung menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Prabowo di Pilpres 2024. Dibanding Airlangga, Muhaimin merasa lebih pantas sebagai calon pendamping Prabowo.

Respons itu disampaikan Cak Imin menyusul wacana Prabowo yang dijodohkan dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto apabila rencana pembentukan Koalisi Besar terealisasi.

“Siapa bilang, hahahaha, siapa bilang, jangan ngarang ya,” kata Cak Imin.

Cak Imin mengatakan proses penunjukan capres dan cawapres dalam koalisi masih sangat cair dan terus dibahas. Ia pun enggan membocorkan progres penetapan capres dan cawapres dalam koalisi KIR itu.

Ia pun tak membeberkan lebih lanjut isi pertemuan perwakilan petinggi PKB dengan Partai Gerindra di kediaman Prabowo yang berlangsung selama kurang lebih 100 menit itu. Cak Imin hanya menyampaikan maksud pertemuan itu untuk membahas dinamika politik dan tukar informasi antara dua parpol.

“Rahasia,” kata dia.

Di sisi lain, Cak Imin sepakat dengan pembentukan Koalisi Besar lantaran menurutnya semakin banyak personel parpol dalam koalisi, maka semakin baik dinamika politik dalam menyambut kontestasi politik 2024 mendatang.

Adapun rencana pembentukan Koalisi Besar ini muncul usai pertemuan Presiden Joko Widodo bersama lima ketua umum parpol yakni dari PPP, Golkar, PAN, Gerindra, dan PKB.

“Semua menambah pasukan, menambah kekuatan lebih baik,” ujar Cak Imin.

Sementara PDIP sendiri belum memastikan mau bergabung dengan Koalisi Besar yang dipimpin Gerindra. Kalau mereka bergabung, berarti partai itu hanya mendapat jatah kursi calon wakil presiden. Sementara PDIP adalah partai besar yang bisa mengajukan calon presiden tanpa berkoalisi dengan partai lain.

Ketatnya persaingan untuk mencari figure pendamping Prabowo di Koalisi Besar membuat sulitnya membangun kesepakatan di partai itu. Jika para kandidat wakil terus bersaing, ada kemungkinan Koalisi itu akan bubar.

Bukan tidak mungkin PPP akan bergabung dengan PDIP untuk mengusung kandidat lain. Partai ini besar kemungkinan akan mengajukan nama Sandiaga Uno sebagai cawapres setelah mantan politisi Gerindra itu resmi bergabung ke PPPP pekan ini. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan