Kajianberita.com
Beranda Khazanah Mengungkap Kisah dan jejak Bahtera Nuh

Mengungkap Kisah dan jejak Bahtera Nuh

ilustrasi tentang cerita bahtera Nuh

Bahtera Nuh adalah salah satu kisah paling menawan dalam kitab agama-agama samawi. Para ahli pun sudah sejak lama memburu sisa kapal penyelamat dari banjir besar ini. Adakah bukti yang konkret?

Narasi di kitab-kitab lintas agama itu senada; Tuhan murka dengan kaum yang durhaka meski sudah mengutus Nabi Nuh untuk berdakwah. Dia lantas mengirimkan banjir besar untuk memusnahkan mereka.

Nuh dan pengikutnya pun diperintahkan membuat bahtera raksasa. Meski mulanya ditertawakan kaumnya dengan proyek itu, Nabi Nuh akhirnya bisa menyelamatkan orang-orang beriman dan pasangan satwa-satwa dari air bah.

Berbagai legenda di banyak negara mengklaim lokasi terdamparnya bahtera itu usai air bah kering. Salah satunya, lereng Gunung Ağrı di Turki.

Kisah sejenis hadir di teks-teks Mesopotamia, mulai dari Epos Gilgamesh, yang ditulis sekitar awal milenium kedua SM, hingga lempengan berhuruf paku Babilonia dari sekitar 1750 SM.

Bangsa Romawi dan Yunani pun memiliki legenda Deucalion dan Pyrrha yang menyelamatkan anak-anak dan hewan mereka dari banjir dengan mengapung di dalam kotak raksasa.

Dikutip dari National Geographic, pencarian arkeologis terhadap kapal suci yang selamat dari banjir besar ini setidaknya sudah berlangsung selama lebih dari satu abad.

Pada 1876, contohnya, pengacara dan politisi Inggris James Bryce mendaki Gunung Ararat, Armenia, lokasi yang disebut jadi tempat terdamparnya bahtera Nuh berdasarkan Alkitab.

Ia pun mengklaim sepotong kayu yang “sesuai dengan semua persyaratan kasus” bahtera itu.

Klaim penemuan lainnya datang dari dokter mata melihat formasi batuan di atas gunung pada 1940-an, hingga klaim pendeta soal temuan kayu yang membatu di puncak gunung pada 2000-an.

Terbaru, tim dari Universitas Teknik Istanbul (ITU) dan Universitas Ağrı İbrahim Çeçen (AİÇÜ) meneliti di area yang diduga jadi sisa-sisa Bahtera Nuh di Gunung Ağrı, Turki.

Hal itu berdasarkan temuan insinyur peta Kapten Ilhan Durupınar pada 1959 selama penerbangan untuk memetakan wilayah timur Anatolia. Daerah ini dalam bahaya karena terancam tanah longsor dan ceruk raksasa yang terbentuk di dekatnya.

Mereka memeriksa sampel fragmen tanah dan batuan yang diambil dari lapangan.

“Pemeriksaan laboratorium ahli mungkin akan selesai setelah satu setengah sampai dua bulan. Berdasarkan hasil ini, kami akan menentukan peta jalan,” kata profesor Faruk Kaya, wakil rektor AICU melansir Aerkeo News.

Pembuktian

Penelusuran ilmiah mestinya dilakukan bermula dari bukti keberadaan banjir besar. Kisah tentang air bah itu, jika merujuk bagian tertua dari Alkitab, berasal dari abad 8 SM. Sementara, kisah dari era Mesopotamia jauh lebih tua lagi.

“Tampaknya memang ada bukti geologis bahwa pernah terjadi banjir besar di wilayah Laut Hitam sekitar 7.500 tahun yang lalu,” kata Eric Cline, arkeolog di George Washington University.

Namun, para ilmuwan masih berdebat soal banjir besar itu. Yang lebih mungkin adalah banjir besar yang dialami di lokasi yang berbeda dan pada waktu yang berbeda. Peristiwa terpisah itu kemudian secara alami masuk ke dalam pengetahuan lisan dan tulisan peradaban dunia.

Masalah selanjutnya adalah lokasi bahtera. Para saintis berbeda pendapat tentang lokasi yang tepat Bahtera Nuh.

Temuan ilmuawan yang diduga-duga sebagai fosil Bahtera Nuh di salah satu pegunungan Turki

Dalam Kitab Kejadian di Alkitab, bahtera itu terdampar “di atas pegunungan Ararat” yang terletak di kerajaan kuno Urartu, sebuah wilayah yang sekarang mencakup Armenia, sebagian Turki timur, dan Iran.

“Tidak mungkin kita bisa menentukan di mana tepatnya di Timur Dekat (Near East) kuno itu terjadi,” kata Jodi Magness, arkeolog di University of North Carolina.

Cline dan Magness pun sepakat jika pun artefak dari bahtera itu ditemukan bakal sulit untuk mengaitkannya secara meyakinkan dengan peristiwa sejarah.

“Kami tidak memiliki cara untuk menempatkan Nuh, jika dia benar-benar ada, dan air bah, jika memang ada, dalam ruang dan waktu,” kata Magness.

“Satu-satunya cara Anda dapat menentukannya adalah jika Anda memiliki prasasti kuno yang otentik,” imbuhnya.

Alhasil, terlepas dari beragam riset dan klaim itu, para arkeolog menyebut belum ada yang bisa menunjukkan bukti otentik arkeologis temuan sisa bahtera Nuh.

“Tidak ada arkeolog sah yang melakukan [pencarian] ini,” kata Magness.

“Arkeologi bukanlah perburuan harta karun,” tambahnya. “Ini bukan tentang menemukan objek tertentu. Ini adalah sains di mana kami mengajukan pertanyaan penelitian yang kami harap dapat dijawab dengan penggalian.”

Harapan public

Answers In Genesis, sebuah pelayanan apologetika (uraian sistematis untuk membenarkan ajaran tertentu), mengakui keberadaan mitos terkait banjir di luar kisah Perjanjian Lama tentang Nuh dan bahkan mengakui bahwa Bahtera tidak pernah bisa ditemukan.

“Kami tidak berharap bahtera itu bertahan dan masih bisa ditemukan setelah 4.350 tahun,” kata Andrew A. Snelling, ahli geologi dan Direktur Riset untuk Answers In Genesis.

Magness, yang pernah memimpin penggalian di sebuah sinagoga Romawi akhir di Galilea, pencarian arkeologis terkait kisah-kisah dari kitab seperti Bahtera Nuh memang menarik.

Hanya saja, kata dia, itu bisa membingungkan publik. Bukan saja karena mengurangi gema penemuan arkeologi yang sebenarnya, tapi juga penemuan yang mendukung bagian-bagian Alkitab seperti keberadaan Rumah David.

“Kami tahu banyak tentang dunia alkitab, dan ini sangat menarik,” aku Magness.

Cline menyebut publik memiliki ekspektasi yang tidak realistis terhadap arkeologi, dengan media populer yang menyoroti sensasi pengejaran itu.

“Kami tidak seperti Indiana Jones,” katanya. “Ini adalah prosedur ilmiah. Ini melelahkan. Tapi apa yang menggairahkan kita belum tentu menggairahkan orang lain.”

“Orang-orang akan percaya apa yang ingin mereka percayai,” tandas dia. (cnn)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan