Kajianberita.com
Beranda Headline Duh Nasib, Gaji Pertama sebagai Anggota DPRD pun Tak Sempat Dicicipi Mukmin Mulyadi

Duh Nasib, Gaji Pertama sebagai Anggota DPRD pun Tak Sempat Dicicipi Mukmin Mulyadi

Mukmin Mulyani sesaat setelah dinyatakan sebagai tahanan Polda Sumut

Roda hidup Mukmin Mulyadi begitu cepat berputar. Betapa tidak, baru 29 Maret lalu ia dilantik sebagai Pengganti Antar waktu  (PAW) anggota DPRD Tanjungbalai  dari Fraksi PKB untuk menempati kursi dari seorang  sahabatnya yang meninggal dunia. Namun sepekan kemudian, hidupnya terus diburu kegelisahan.

Banyak warga Tanjungbalai yang mempertanyakan keabsahan pelantikan Mukmin sebagai anggota DPRD. Mereka kemudian melakukan aksi demo di DPRD, di Polres dan Polda Sumut menuntut pelantikan Mukmin sebagai wakil rakyat dibatalkan.

Alasannya sangat mengejutkan, “ Mukmin adalah pelaku penyalaggunaan narkoba yang sudah lama dicari-cari aparat keamanan!” Ia disebut turut berperan dalam perdagangan 2.000 pil ekstasi yang digelar di Pengadilan Tanjungbalai pada tahun 2020.

Tubuh Mukmin bagaikan disambar petir tatkala mendengar banyak yang mengaitkan masa lalunya dengan kasus narkoba itu.  Padahal ia telah bermimpi akan tampil sebagai politisi yang vocal dan piawai dalam memperjuangkan nasib rakyat.

Sejak dulu ia memang selalu bermimpi ingin menjadi politisi yang terkenal. Makanya ia bergabung ke partai PKB. Namun pada Pemilu 2019 lalu, langkahnya tersendat karena perolehan suaranya tidak cukup. Justru rekannya Naryadi yang lolos dari partai itu.

Sejak itu Mukmin pun Kembali aktif melakukan  petualangan dalam berbisnis. Sementara statusnya sebagai politisi PKB tidak pernah dilepas.

Sampai akhirnya kabar menggembirakan menyinggahi dirinya tatkala partainya meminta Mukmin menyiapkan semua berkas administrasi untuk bisa dilantik sebagai PAW anggota DPRD Tanjungbalai.  Ia mendapat kesempatan menempati posisi itu karena sahabatnya Naryadi wafat pada pertengahan 2022.

Mukmin tentu saja sumringah bukan kepalang. Mimpinya mulai mendekati kenyataan. Seremonia pelantikannya sebagai anggota DPRD tanjungbalai berlangsung cukup meriah pada 29 Maret lalu.  Mukmin tampak gagah memakai jas dan dasi layaknya anggota dewan.

Sejak itu ia bertekad akan memulai petualangan baru sebagai politisi yang tangguh. Ia ingin berjuang atas nama rakyat. Membela Kepentingan rakyat, dan kemudian maju lagi pada Pemilu 2024 mendatang.

Tapi mimpinya itu harus terkubur hidup-hidup. Praktis hanya dua tiga hari saja Mukmin bisa menikmati kenyamanan sebagai anggota dewan. Setelah itu, hari-harinya terus diawarnai kegelisahan setelah maraknya protes terhadap pelantikannya.

Mukmin  tidak tahu harus berkata apa lagi menyikapi protes itu, sebab pemberitaan yang menyebutkan ia  pernah berperan dalam bisnis narkoba terus mengudara di dunia maya.

Mukmin sebenarnya sudah berupaya sekuat tenaga membantah pemberitaan itu. Ia mengaku tidak pernah berbisnis narkoba. Ia membantah pernah punya kaitan kerja dengan dua orang terpidana narkoba yang sudah ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Tanjungbalai.

“Mereka teman saya, tapi saya tidak pernah berbisnis narkoba. Saya bukan sejahat itu,” katanya.

Ia pun lantas memperlihatkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang menyebutkan bahwa ia adalah warga negara yang berkelakuan baik. SKCK itu diperolehnya sebagai syarat untuk dilantik sebagai anggota dewan.

“Bagaimana mungkin  saya dikatakan terlibat isnis narkoba, sementara saya sudah mendapatkan SKCK dari kepolisian,” ujarnya.

Mukmin sebenarnya sempat memelas kepada beberapa aktivis Tanjungbalai agar aksi demo yang melaporkan dirinya segera dihentikan. Tapi rupanya perjuangan itu gagal total.

Puncaknya adalah ketika sekelompok warga asal Tanjungbalai melakukan aksi ke Markas Polda Sumut di Tanjung Morawa, Deli Tua  pada 11 April lalu yang menuntut agar Kapolda segera bertindak tegas.

Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak rupanya langsung merepon tuntutan warga tersebut. Berkas-berkas lama terkait keterlibatan Mukmin Mulyadi kembali dibongkar untuk mendapatkan data yang lebih akurat.

Dan benar saja, berkas itu menunjukkan kalau Mukmin pernah masuk dalam Daftar Pencarian Orang  (DPO)  karena terlibat bisnis narkoba. Ketika itu ada tiga yang menjadi tersangka, dua di antaranya berhasil ditangkap dan kemudian disidangkan di pengadilan, sedangkan Mukmin adalah  tersangka yang berhasil melarikan diri.

Meski berhasil melarikan diri, tuduhan terhadap Mukmin sebagai bandar Narkoba tetap mencuat di pengadilan, khususnya  dalam dakwaan jaksa penuntut umum di perkara Nomor : 773/Pid.Sus/2021/PnMdn dan perkara Nomor : 774/Pid.Sus/2021/PnMdn atas nama terdakwa Ahmad Dhairobi alias Robi dan Gimin Simatupang. Kedua tersangka ini adalah sahabat dari Mukmin.

Dalam dakwaan tersebutm, Jaksa menyebutkan ada sosok Mukmin Mulyadi yang masih DPO dalam Kasus narkoba terlibat dalam bisnis yang dijalankan bersama kedua tersangka.

Mukmin Mulyadi diduga terlibat dalam kasus kepemilikan 2.000 pil ekstasi pada tahun 2020, dimana polisi kala itu berhasil menangkap Ahmad Dhairobi dan Gimin Simatupang. Sementara Mukmin berhasil melarikan diri. Namun Robi dan Gimin menjelaskan kalau Mukmin punya peranan penting dalam peredaran pil ekstasi itu.

Saat Robi dan Gimin ditangkap, sebenarnya tim Polres Tanjungbalai sudah pernah mendatangi rumah Mukmin guna melakukan penggeledahan.  Namun tidak ditemukan bukti lain, sedangkan Mukmin sendiri sudah tidak tampak lagi di rumah itu.

Selama dua tahun lebih praktis Mukmin tidak lagi sering berkeliaran di Tanjungbalai.  Ada yang menyebutkan ia tinggal di Medan, ada pula suara yang mengatakan ia berbisnis di daerah lain.

Gaung tentang keterlibatanya dalam peredaran eskstasi itu perlahan-lahan mulai meredup. Hal itu yang membuat Mukmin, sejak tahun lalu  mulai berani kembali ke Tanjungbalai.

Namanya tiba-tiba menjadi perbincangan publik setelah dilantik sebagai PAW anggota DPRD Tanjungbalai menggantikan Naryadi, politisi PKB yang meninggal dunia.

Sontak, warga pun terkejut. Tidak disangka, sosok yang sudah lama dicari polisi dalam kasus narkoba, tiba-tiba saja tampil menjadi public figur yang begitu terhormat, yakni sebagai anggota DPRD.

Kenangan indah Mukmin Mulyani saat dilantik Pergantian Antar waktu (PAW) sebagai anggota DPRD Tanjungbalai

Protes pun mencuat di sana sini. Kapolda yang mendengar desas-desus itu langsung memerintahkan anggotanya memanggil Mukmin Mulyani guna menjalani pemeriksaan.

Pemanggilan pertama dilayakangkan pada kamis 13 April lalu. Mukmin diminta datang untuk menjalani pemeriksaan di Polda Sumut. Namun Mukmin menolak hadir dengan alasan kurang sehat.

Kapolda tak mau bersikap lunak lagi. Ia pun segera mengerahkan tim khusus narkoba di bawah pimpinan Direktur Reserse Polda Sumut Kombes Yemi Mandagi untuk menjemput Mukmin di Tanjungbalai. Dan  akhirnya Mukmin Mulyadi tak kuasa menghindar.

Senin 17 April lalu Mukmin dipaksa menghadap ke Polda Sumut, dan sejak itu pula ia langsung bertatus tahanan. Baju  jas yang kerap dipakainya langsung dilepas untuk digantikan dengan baju kuning dengan tulisan “Tahanan Polda Sumut” di sisi belakang.

Polda sendiri mengaku sempat khilaf dalam menangani Kasus Mukmin itu. Pasalnya, mereka sempat mengeluarkan SKCK yang menyatakan Mukmin berkelakuan baik dan tidak pernah terlibat dalam Kasus narkoba.

“Saya sudah perintahkan jajaran Polda untuk mencabut lagi SKCK itu. Tentu saja itu sebuah kesalahan,” kata Kapolda Irjen RZ Panca Putra Simanjuntak.

Tidak hanya Polda Sumut, Partai PBK juga merasa kecolongan dengan menempatkan Mukmin sebagai pengganti antar waktu anggota DPRD Tanjungbalai. Tapi setelah mencuatnya Kasus narkoba itu,  Mereka lantas memecat Mukmin sebagai kader. Statusnya sebagai anggota DPRD langsung dibekukan. PKB mengaku akan mencari sosok lain yang menggantikan anggota mereka yang meninggal dunia di DPRD.

Direktur Reserse Polda Sumut Kombes Yemi Mandagi

Kini tinggal lah Mukmin sendirian yang harus merenungi naibnya. Ia tidak menyangka begitu cepatnya perubahan nasib yang melingkari hidupnya. Ia hanya beberapa hari saja bisa menikmati enaknya hidup sebagai anggota DPRD. Tapi setelah itu, tekanan yang dialaminya seakan tiada henti. Hidupnya selalu dicekam kegelisahan.

Dan puncaknya adalah ketika ia dijemput paksa di Tanjungbalai oleh Tim Reserse Narkoba dan selanjutnya dipaksa menjalani pemeriksaan di Polda Sumut.  Sejak itu Mukmini pun dinyatakan sebagai tahanan Polda. Begitu apesnya nasib Mukmin,  sampai-sampai ia pun tidak sempat menerima bagi pertama sebagai anggota dewan.

Mukmin pun hanya bisa merenung dan menerung. Kalau saja ia tidak dilantik sebagai anggota DPRD, barangkali ia masih bisa hidup nyaman tinggal bersama keluarga. Tidak ada yang mengusik.

Tidak disangka, pelantikan sebagai anggota dewan itu adalah cikal bakal yang membawa hidupnya hancur dalam kedukaan. Kini Mukmin hanya bisa menunggu waktu kapan saatnya ia disidang, dan berapa lama masa tahanan yang harus ia jalani.

Setidaknya untuk jangka panjang, Mukmin tidak lagi bisa berharap jadi politisi Tangguh. Ia lebih banyak memikirkan betapa perihnya hidup di penjara. Sungguh pilu nasib Mukmin Mulyani..! **

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan