Kajianberita.com
Beranda Headline Jemaah Idul Fitri Masjid Taqwa Meluber, Gubernur Edy: Kita Perkuat Semangat Toleransi

Jemaah Idul Fitri Masjid Taqwa Meluber, Gubernur Edy: Kita Perkuat Semangat Toleransi

Gubernur Edy Rahmayadi bersama Ustad Abdul Somad

Hampir semua masjid yang melaksanaan sholat idul fitri di Kota Medan dipenuhi jamaah yang antusias melaksakan sholat  berjamaah. Mereka bukan hanya dari kelompok Muhammadiyah, tapi juga dari kalangan simpatisan dan warga yang yakin kalau idul Fitri memang berlangsung pada hari ini.

Seperti halnya yang terlibat di Masjid Taqwa Jalan Eka Warni, Kelurahan Medan Johor, di mana jamaah yang melaksanakan sholat meluber hingga jalan raya. Sampai-sampai tempat parkir pun sulit didapatkan. Beberapa warga yang  tidak mendapatkan tempat  terpaksa melaksanakan sholat di depan rumah-rumah penduduk.

Seorang warga yang ikut sholat mengaku kalau ia memutuskan Jumat (21/4/2023) sebagai idul fitri karena ia yakin bahwa cara penghitungan Muhammadiyah lebih tepat.

“Saya dari dulu memang lebih condong dengan cara perhitungan Muhammadiyah, sehingga kami  percaya kalau hari ini sudah masuk idul fitri. Tapi saya tetap menghormati warga muslim lain yang tunduk kepada kebijakan Pemerintah yang memutuskan idul fitri esok hari,” kata Haikal, warga Komplek Medan Johor Indah.

Pemerintah sendiri telah resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444  jatuh pada Sabtu 22 April 2023. Namun tidak ada masalah kalau ada masyarakat yang merayakan Idul Fitri pada Jumat 21 April 2023.

Perbedaan itu, menurut Gubernur Sumut Edy Rahmayadi bukanlah hal baru bagi umat Islam di Indonesia. Ia meminta masyarakat Sumut menyikapi perbedaan dengan toleransi.

“Perbedaan ini bukanlah hal baru bagi kita, khususnya di Sumatera Utara. Sudah sejak lama perbedaan itu kita sikapi dengan biasa saja. Bahwa berbeda penentuan 1 Ramadan maupun 1 Syawal, karena berbeda metode penetapannya,” kata Gubernur Edy Rahmayadi, Kamis (20/04/2023) malam.

Gubernur Edy Rahmayadi juga meminta perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri tidak perlu dijadikan sumber perdebatan. Selama ini perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri juga disikapi dengan toleransi.

“Intinya tak perlu kita menjadikan perbedaan ini sebagai Polemik atau sumber perdebatan. Sebab hal ini adalah situasi yang telah lama kita terima dan maklumi, toleransi dan saling menghargai,” ujar Gubernur Edy Rahmayadi.

Selain itu, Gubernur Edy Rahmayadi meminta pada seluruh rakyat Sumut yang merayakan Idulftri untuk terus menjaga persaudaraan sesama Umat Islam. “Mari rayakan kemenangan, saling bermaafan dalam bingkai persaudaraan, Islam yang Rahmatan Lil Alamin,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kominfo Sumut Ilyas Sitorus yang menghadiri pengamatan rukyat hilal yang dilaksanakan di Lantai 9 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Kamis (20/04/2023), mengatakan hilal belum dapat teramati.

“Berdasarkan pengamatan tim hisab rukyat Provinsi Sumut, hilal belum dapat teramati, maka selanjutnya keputusan penetapan dilakukan pada sidang isbat yang dilakukan di Jakarta,” kata Kadis Ilyas Sitorus.

Pada kesempatan itu, Kadis Ilyas Sitorus pun menyampaikan bahwa perbedaan perayaan Idulftri jangan dijadikan masalah. “Terus jaga kebersamaan, saya atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengucapkan selamat merayakan Idulfitri 1444 Hijriah,” katanya.

Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, juga mengimbau umat Islam Indonesia untuk tetap menjaga ukhuwah dan toleransi terkait perbedaan waktu perayaan Hari Raya Idulfitri 1444 H.

“Saya mengimbau seluruh umat Islam untuk tetap menjaga toleransi, saling menghargai, dan ukhuwah Islamiyah menanggapi adanya perbedaan penetapan 1 Syawal. Saling menghormati perbedaan keyakinan itu indah,” ucap Menag Yaqut.

Menag Yaqut menyampaikan tahun ini, rukyah dilaksanakan Kemenag di 123 titik di Indonesia. Dari laporan para perukyah, hilal masih tidak terlihat. Oleh sebab itu Sidang Isbat yang dilaksanakan di Jakarta, Kamis (20/04/2034) itu menyepakati 1 syawal jatuh pada Hari Sabtu, 22 April 2023.

“Kita mendengar laporan dari sejumlah perukyah hilal yang bekerja di bawah sumpah, mulai dari Aceh hingga Papua. Di 123 titik tersebut, tidak ada satu pun perukyah dapat melihat hilal,” kata Menag. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan