Kajianberita.com
Beranda Headline Prabowo yang Lagi Bingung..!

Prabowo yang Lagi Bingung..!

Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto

Di saat  ketua umum Megawati mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai kandidat presiden yang diusung PDIP pada pemilu 2024, Prabowo Subianto mungkin terpaksa garuk garuk kepala. Ia bingung sebab mesti memikirkan langkah yang rebih rumit ke depan.

Bagaimanapun juga Prabowo pasti sadar, keputusan PDIP mengusung Ganjar sangat berpotensi mengusik keutuhan Koalisi Besar yang tengah dirancangnya dengan partai-partai pendukung  Pemerintah, antara lain, PAN, PKB, Golkar dan PPP.

Tadinya Prabowo bermimpi, setidaknya Koalisi Besar itu menjadi senjatanya untuk mengadakan bargaining dengan PDIP untuk bisa bersama-sama melangkah pada Pemilu nanti. Tawarannya, tentu saja PDIP bisa menduduki kursi calon wakil presiden, pendampingnya.

Kalau impian itu tercapai, ia yakin koalisinya akan sangat solid, tangguh dan kuat. Potensi menangnya sangat besar.  Apalagi dalam beberapa survei menunjukkan kalau elektabilitas Prabowo selalu teratas.

Namun skenario berubah total. Ganjar yang semula sempat disebut-sebut akan disingkirkan oleh PDIP,  justru kemudian menjadi calon yang diunggulkan partai itu.

Selain PDIP, PAN juga pernah menjagokan Ganjar.  Bahkan dalam musyawarah partai berlambang matahari itu di Jawa Tengah beberapa waktu lalu, nama Ganjar adalah calon tunggal yang diputuskan untuk diusung PAN pada Pemilu mendatang.

Namun PAN pada akhirnya sempat goyah juga tatkala melihat PDIP belum mau menunjukkan sikapnya untuk mendukung Ganjar.  Oleh karena itu PAN kemudian mengambil sikap turut bergabung dalam Koalisi Besar Bersama Gerindra dan partai lainnya.

Tidak berbeda jauh dengan PAN, PPP pun telah mengadakan pembicaraan politik dengan PDIP jauh hari sebelumnya dalam rangka membahas pencalonan Ganjar. Terlihat jelas kalau PPP cenderung ingin membangun Koalisi dengan PDIP asal Ganjar yang dicalonkan.

Sayangnya, PDIP tidak memberi jawaban tegas kala itu, sehingga PPP pun terpengaruh dengan rayuan untuk bergabung dalam Koalisi Besar.

Tapi kini semuanya telah tampak jelas. PDIP  tegas telah menyerahkan mandatnya kepada Ganjar Pranowo untuk maju pada Pemilu mendatang. Situasi itu tak pelak membuat PAN dan PPP goyah.  Besar kemungkinan kedua partai ini akan berbalik bergabung membentuk koalisi dengan PDIP.

PKP dan Golkar pun tidak tertutup kemungkinan melakukan langkah yang sama. Semua orang tahu, kedua partai ini sangat dekat dengan PDIP. Kalau saja Jokowi meminta kedua partai itu berkoalisi mendukung Ganjar,tentu saja dengan kompensasi politik yang jelas. bukan tidak mungkin keduanya  akan meninggalkan Koalisi Besar yang sedang dirancang  bersama Prabowo.

Lantas bagaimana dengan Gerindra?

Kondisinya kini memang sedang tidak menentu. Kalau saja partai-partai lain di Koalisi Besar bergabung ke PDIP, habis sudah peluang partai itu mencalonkan Prabowo Subianto. Dengan kekuatan suara sekitar 13 persen di parlemen, Gerindra tentu tidak memenuhi kualifkasi untuk mencalonkan presiden tanpa berkoalisi dengan partai lainnya.

Ini yang membuat Prabowo terpaksa garuk-garuk kepala saat memikiran nasibnya menjelang Pilpres mendatang. Masa depannya akan sangat bergantung kepada  sikap partai-partai yang ada di Koalisi Besar. Jika ia ngotot ingin maju sebagai calon presiden, Prabowo harus memelas habis-habisan kepada salah satu partai di koalisi itu agar tetap bertahan. Mungkin ia memelas kepada PKB, atau mungkin juga kepada Golkar.

Jika salah satu dari partai itu bersedia berdampingan dengan Gerindra, maka sudah cukup syarat bagi mereka untuk mengusung kandidat pada Pemilu mendatang.  Tentu mesti ada konsekuensi politik yang harus diberikan Gerindra kepada partai mitra itu. Bisa dalam bentuk materi, posisi calon wapres atau konsekuensi lain.

Lain lagi jika kemudian Prabowo memutuskan bergabung dengan PDIP untuk mengusung Ganjar, maka ambisinya untuk maju sebagai calon presiden pasti harus terkubur. Peluang yang realistis bagi Prabowo adalah sebagai calon wakil presiden pendamping Ganjar Pranowo.

Bagi seorang Prabowo, menjadi wakil adalah sebuah langkah degradasi yang  amat memalukan. Perlu kita ingat, Prabowo itu sudah tiga kali ikut pada Pemilu presiden di negeri ini, dan Ia selalu gagal.

Pada periode lima tahun belakangan ini, Prabowo memang sudah melakukan langkah kontroversi dengan meninggalkan konsituensinya untuk kemudian memutuskan berkoalisi dengan pemerintah. Prabowo pun mengambil jabatan sebagai Menteri di Pemerintahan Jokowi.

Namun tidak bisa dibantah, keputusannya menjadi menteri adalah strategi untuk mempersiapkan diri maju sebagai Capres  pada Pemilu 2024. Sejak awal Prabowo sangat berharap bakal mendapat dukungan dari Jokowi untuk dapat merebut kekuasan  itu.

Di saat muncul kebimbangan PDIP dalam menentukan calon, Jokowi memang sempat menunjukkan dukungan itu. Namun siapa sangka, peta berubah tatkala Megawati akhirnya tunduk dengan selera survei yang menjagokan Ganjar.  Jokowi pun terpaksa harus menuruti kehendak itu. Dukungan yang ia tunjukkan kepada Prabowo selama ini berubah menjadi absurd.

Akkibatnya, nasib Prabowo menjadi terombang-ambing. Langkahnya mulia gontai dalam menatap Pemilu  nanti.

Jokowi memang sempat menyebut nama Prabowo sebagai salah satu calon wakil presiden pendamping Ganjar.  Namun sulit rasanya bagi Prabowo menerima tawaran itu.

Di samping lebih senior, sebagai ketua sebuah partai besar, dan telah tiga kali ikut pada kontestasi Pemilu untuk merebut kursi presiden. Sejak awal Prabowo berpikir bahwa Pemilu 2024 adalah titik puncaknya dalam mekangkah di belantara politik nasional. Ia bertekad akan menang pada Pemilu itu, apalagi usianya tidak muda lagi, sudah 72 tahun.  Boleh jadi inilah Pemilu terakhir yang berpotensi untuk diikutinya jika ingin menjadi presiden.

Jauh-jauh hari ia sudah menyiapkan amunisi. Apalagi  kedekatan Prabowo selama ini dengan pemerintahan telah mendatangkan sejumlah pendukung baru bagi dirinya dan  partainya. Toh, berbagai survei juga selalu menempatkan Prabowo unggul dari kandidat lainnya. Artinya, meski Ganjar dan Anies maju, jika merujuk hasil survei, Prabowo masih berpeluang menggungguli kedua kandidat itu.

Tapi masalahnya, Prabowo merasa sulit bertarung jika tidak didukung kekuatan Pemerintahan. Apalagi ia tidak mampu lagi mengandalan pendukungnya dari basis Islam yang pernah ditinggalkannya. Prabowo pun tidak bisa membantah kalau dukungan yang muncul kepadanya belakangan ini adalah basis suara dari pendukung pemerintahan. Pengaruh Jokowi cukup besar dalam menggiring dukungan itu.

Sekarang setelah PDIP dan Jokowi cenderung meng-endorse Ganjar,  mau tidak mau Prabowo harus berpikir ulang memikirkan langkahnya dalam percaturan politik ke depan. Kalkulkasi harus dipertajam.  Hasil survei jelas tidak bisa lagi dijadikan sebagai andalan.

Di sinilah kebingungan itu kian membuncah. Selain harus memikirkan koalisi dengan partai lain,  Prabowo juga cari cara untuk mencegah agar ia tidak mencetak quadtric kalah empat kali berturut-turut dalam Pemilu di negeri ini.  Karena itu jangan heran kalau pekan ini Prabowo terpaksa harus mengadakan pertemuan lagi dengan sejumlah staf ahlinya  guna menyusun strategi ke depan.

Pilihanya dua, tetap maju sebagai calon presiden dengan konsekuensi berpisah jalan dari kebijakan pemerintah, atau memilih opsi untuk menjadi pendamping Ganjar.

Sebagai seorang kesatrian, pilihan kedua adalah hal memalukan bagi seorang Prabowo. Namun politik bukan soal malu atau tidak malu, tapi soal menang atau kalah. Maka pilihannya adalah, Prabowo siap malu tapi  tetap berada dalam barisan pemerintah, atau bersikap kesatria tapi berpotensi besar untuk kalah…! ***

Ahmady, alumni East West Center, Hawaii

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan