Kajianberita.com
Beranda Headline Merasa Tidak Mendapatkan Keadilan, AKBP Achiruddin Menolak Dipecat, Langsung Ajukan Banding

Merasa Tidak Mendapatkan Keadilan, AKBP Achiruddin Menolak Dipecat, Langsung Ajukan Banding

AKBP Achiruddin Hasibuan

Kepala Bidang Propam Polda Sumut Kombes Dudung Adijono mengatakan AKBP Achiruddin Hasibuan langsung mengajukan banding atas putusan Majelis Komisi Kode Etik yang menjatuhkan sanksi pemecatan. Ia tidak terima atas putusan dipecat dari Polri hanya karena membiarkan anaknya berkelahi dengan orang lain.

“Kita membuat memori banding 14 hari. Tergantung Mabes Polri kapan mau disidangkan,” kata Dudung di Mapolda Sumut, Selasa (2/5) malam.

Kapolda Sumut Irjen Panca Putra Simanjuntak mengatakan Achiruddin membiarkan anaknya Aditya Hasibuan menganiaya Ken Admiral di depan rumahnya.

“Anggota Polri tidak sepantasnya membiarkan kejadian itu ada di depan mata. Dia harus menyelesaikan dan melerai kejadian itu. Tapi tidak dilakukan apa yang seharusnya dan sepantasnya dilakukan,” kata Panca.

Panca menyebutkan Majelis Komisi Kode Etik menyatakan Achiruddin melanggar Kode Etik Profesi Polri sebagaimana yang diatur dalam Pasal 5, Pasal 8, Pasal 12, Pasal 13, Peraturan Polri Nomor 7 Tahun 2022.

“Sanksinya bahwa yang dilakukan AKBP AH itu melanggar etika kepribadian dan kedua melanggar etika kelembagaan dan ketiga etika kemasyarakatan. Tiga itu dilanggar sehingga majelis komisi kode etik memutuskan untuk AH agar dilakukan PDTH, ” ujarnya.

Eks Kabag Bin Ops Direktorat Narkoba Polda Sumut, Achiruddin akhirnya dijatuhi sanksi Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PDTH) dalam sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) di Bid Propam Polda Sumut, Selasa (2/5).

Majelis Komisi Kode Etik memutuskan bahwa Achiruddin terbukti bersalah karena tidak sepantasnya membiarkan penganiayaan yang dilakukan anaknya Aditya Hasibuan terhadap Ken Admiral terjadi.

Sidang tersebut berlangsung dari pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB. Setelah dijatuhi sanksi berat dipecat dari Polri, AKBP Achiruddin langsung menyatakan banding atas putusan itu.

Proses sidang etik yang dijalani AKBP Achiruddin Hasibuan di Polda Sumut

Ditreskrimum Polda Sumut juga telah menetapkan Achiruddin sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Ken Admiral. Achiruddin dijerat dengan Pasal 304 KUHP Jo Pasal 55, Pasal 56 KUHP.

Achiruddin sendiri merasa tidak mendapat keadalan dari proses sidang etik itu. Ia membandingkan dengan kasus  Bharada Richard Eliezer atau Bharada E yang divonis 1 tahun 6 bulan penjara atas kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua.  Richard Eliezer adalah orang yang menembak Josua.

Meki demikian, dalam sidang etik, Eliezer sama sekali tidak dipecat dari Polri, padahal korbannya yang merupakan anggota Polri tewas di tempat. Sementara untuk Kasus Achiruddin, ia hanya dituduh membiarkan anaknya menganiaya orang lain, di mana orang lain itu telah sembuh dan telah melanjutkan Pendidikan di luar negeri.

Oleh sebab itu Achiruddin merasa tidak mendapatkan keadilan dari proses sidang etik yang dijalaninya. Untuk itu ia mengajukan banding atas putusan yang telah memecatnya dari Polri.

Untuk diketahui, Achiruddin merupakan alumni SMA 3 Medan Angkatan 1990. Setelah lulus dari SMA, ia merintis karir sebagai polisi melalui jalur Pendidikan Secaba di Sampali, Medan.

Karirnya terus meroket sehingga ia mendapat kesempatan mengikuti Pendidikan Secapa Polri hingga berhasil meraih pangkat perwira menengah. Sejak itu beberapa jabatan penting diraihkan di Polri hingga Sekarang berpangkat AKBP.  (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan