Kajianberita.com
Beranda Headline Demi Menjilat Penguasa, Ketua KNPI Serang Anies dengan isu SARA, Ini Jawaban Bijak Demokrat

Demi Menjilat Penguasa, Ketua KNPI Serang Anies dengan isu SARA, Ini Jawaban Bijak Demokrat

Umar Bonte, Ketua DPP KNPI yang menyerang Anies Baswedan dengan isu SARA

Ketua DPP KNPI Umar Bonte yang selama ini dikenal  dekat dengan penguasa mulai menyerang Anies Baswedan dan pendukungnya dengan tuduhan berbau rasis. Pernyataan intoleran Umar Bonte tersebut diunggah di akun TikTok pribadinya, @UmarBonte_official dan viral di media sosial.

Dalam pernyataannya, Umar Bonte menilai Anies sudah cukup diberi kesempatan untuk mengemban jabatan strategis dalam pemerintahan seperti Menteri Pendidikan dan Gubernur DKI Jakarta.

Sehingga, kata Umar Bonte, jika Anies ‘meminta’ untuk menjadi Presiden, maka hal tersebut sudah berlebihan.

“Bangsa ini sudah memberikan ruang yang begitu besar kepada Anies Baswedan, sudah diberi kesempatan untuk menjadi menteri, pernah diberi kesempatan untuk menjadi gubernur, itu cukup dalam pentas politik tanah air, tapi kalau sampai meminta ingin jadi ini (presiden) terlalu berlebihan. Biarkanlah putra-putra bangsa Indonesia sendiri yang menjadi Presiden Republik Indonesia,” katanya dalam video tersebut.

Pernyataan itu tentu saja mengudang kemarahan banyak pihak karena seakan Umar Bonte  menganggap Anies bukan warga Indonesia. Sikap Bonte ini tidak mengherankan, sebab selama ini memang ia merasa sangat dekat dengan pemerintahan Jokowi.  Dengan menyerang Anies, ia berharap bisa lebih dekat dengan  penguasa yang memang tidak suka kalau Anies menang pada Pilpres mendatang.

“Pernyaan Bonte itu sangat tidak manusiawi. Berbau rasis  yang bertujuan untuk menjilat penguasa. Sungguh pernyatan orang bodoh. Orang seperti itu tidak layak ada di negeri ini,” ujar Farid Hamzah, salah seorang pegiat demokrasi.

Farid sendiri mengaku belum tentu mendukung Anies, tapi pernyataan Bonte itu menurutnya sangat menjijikkan. Semestinya penguasa  di nergti ini memberi tindakan hukum kepada Bonte,  apalagi ia seorang pengurus inti DPP KNPI, induk organisasi pemuda terbesar di Indonesia.

Respon yang tidak kalah pedasnya disampaikan pula oleh  Wasekjen Partai Demokrat, Jansen Sitindaon. Ia  mengungkapkan terkait istilah presiden ‘asli’ Indonesia telah dihapuskan melalui amandemen UUD 1945. Jansen mengatakan istilah ‘asli’ telah dihilangkan dan menjadi calon presiden adalah warga negara Indonesia ‘sejak kelahirannya’.

Ia pun mendukung atas perubahan istilah tersebut melalui amandemen UUD 1945.

“Karena jika kita masih pakai kata ‘asli’ seperti di UUD lama, sangat sulit sekarang apalagi puluhan tahun kedepan utk menentukan keaslian orang Indonesia ini. Terlebih dgn semakin banyaknya perkawinan campuran.”

“Masak mau kita bentuk lagi lembaga/badan untuk menentukan keaslian seseorang jadi orang Indonesia asli?” tulisnya dalam akun Twitter pribadinya, @jansen_jsp pada Jumat (12/5/2023).

Kemudian, Jansen pun menjelaskan terkait unsur historis dalam istilah ‘warga Indonesia asli’ karena dilatarbelakangi suasana saat era Kemerdekaan Indonesia.

Intinya, pernyataan Bonte itu menunjukkan kalau pengurus KNPI tersebut memiliki kualitas berpikir yang sangat rendah. Ia dinilai tidak paham nilai-nilai kebangsaan. Demokrat  sangat menyayangkan kalau di KNPI adalah duduk pengurus dengan kualitas rendah seperti sosok Bonte.

Siapa Sosok Umar Bonte                 

Dikutip dari Wikipedia, La Ode Umar Bonte lahir pada 08 Maret 1982. La Ode Umar Bonte merupakan seorang pengusaha yang berasal dari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Sebagai informasi, La Ode Umar Bonte juga merupakan seorang penyanyi yang kini menjabat sebagai Ketua Umum (Ketum) DPP KNPI. Saat ini namanya ramai dibahas publik lantaran secara tegas ia menolak Anies Baswedan untuk menjadi Presiden RI.

Dari usia dan pengalamannya dalam politik, jelas sekali anak muda ini masih sangat hijau. Namun karena merasa dekat dengan penguaha, ia merasa seenaknya bisa melontarkan kalimat berbau rasis kepada orang yang dianggap musuh politiknya.

Kalaupun kasus Umar Bonte ini diadukan ke polisi, belum tentu kasusnya diproses, sebab mungkin saja ada banyak pihak yang melindunginya. (faz)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan