Kajianberita.com
Beranda Headline Kecurangan UTBK-USU: Jika Lulus Fakultas Kedokteran akan Bayar Rp500 Juta, Begini cara Kerjanya

Kecurangan UTBK-USU: Jika Lulus Fakultas Kedokteran akan Bayar Rp500 Juta, Begini cara Kerjanya

Beginilah alat yang melekat di tubuh peserta. Para peserta akan menerima jawaban dari Joki yang berada di sebuah hotel di Medan, Komunikasi dilakukan dengan kamera dan jaringan internet

Terbongkarnya kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) 2023 di Universitas Sumatera Utara (USU) terus menjadi sorotan public. Salah seorang peserta yang tertangkap melakukan kecurangan itu membeberkan kalau aksi mereka  dilakukan secara terorganisir. Jika saja tembus Fakultas Kedokteran USU,  mereka akan membayar koordinator sebesar Rp500 juta.

Ketujuh peserta itu, diamankan dari ruangan ujian di Kampus USU, Rabu 10 Mei 2023. Mereka merupakan peserta mengikuti ujian masuk Fakultas Kedokteran, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama, yakni UI, UNEJ, UNDIP dan UNAIR.

“Yang disebut itu, tempat. Ketujuh ini, ujian masuk kedokteran, ada Kedokteran UI, dan kedokteran universitas Negeri lainnya. Ngapain orang itu, bimbel (bayar) mahal-mahal. Kalau tidak mau masuk kedokteran ini,” sebut Wakil Rektor I USU, Dr Edy Ikhsan saat dikonfirmasi awakmedia.

Pasca diamankan 7 peserta itu, Edy mengatakan status mereka gugur secara otomatis karena  diamankan sebelum ujian dilaksanakan.

“Gugur lah, dia tidak ikut ujian. Sudah diamankan sebelum ujian dan dia tidak bisa menyelesaikan,” jelas Edy. Kasus kecurangan ini sudah ditangani oleh pihak kepolisian, Edy juga membantah kalau kasus kecurangan ini telah didamaikan.

“Oh  tidak ada damai. Ini perlu saya luruskan. USU melaporkan dan melimpahkannya kasus ini, hukumnya ke pihak kepolisian. Ini delik umum, bukan delik aduan. Oleh karena itu, USU tidak bisa mencabut laporan,” jelas Edy.

Dengan demikian tidak ada hak USU melakukan perdamaian atau mencabut laporan atas dugaan kecurangan dilakukan 7 peserta UTBK-SNBT itu. Adalah tugas dari pihak kepolisian dari Polsek Medan Baru mengusut tuntas kasus ini.

Beberapa jam setelah tujuh peserta itu diamankan dari ruangan ujian di Kampus USU, mereka kemudian dibawa ke Mako Polsek Medan Baru untuk dilakukan pemeriksaan.

“Hari pertama kejadian itu, dengan dilakukan pemeriksaan terhadap 6 dari 7 peserta, yang diindikasikan akan melakukan kecurangan atau sudah melakukan kecurangan,” sebut Edy

rangkaian alat yang digunakan dalam kecurangan UTBK-USU

Cara kerja

Wakil Rektor I Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Edy Ikhsan membeberkan adanhya keterlibatan sebuah lembaga bimbingan tes  yang mengendalikan kasus perjokian itu.  Cara kerjanya menggunakan teknologi komunikasi.

Ketujuh peserta itu, saat hendak menjalankan ujian UTBK-SNBT ini, pihak Bimbel melengkapi mereka dengan peralatan elektronik, seperti handpone, perekam audio dan visual. Alat itu, ditempelkan di badan mereka dengan menggunakan lakban.

Ketujuh peserta itu mengikuti UTBK-SNBT dengan lokasi ujian di Kampus USU, Rabu 10 Mei 2023. Mereka diantar dan dijemput oleh pihak Bimbel hingga didandani agar peralatan mereka gunakan tidak diketahui petugas pengawas.

Peralatan yang digunakan peserta dilengkapi kamera kecil. Kamer ini yang menyampaikan soal sehingga bisa diterima joki yang  berada di sebuah hotel. Joki itu adalah orang-orang pilihan dari bimbingan Belajar tersebut.

Mereka akan bekerja menyelesaikan soal di dalam kamar hotel, dan kemudian menyerahkan jawabannya juga melalui alat komunikasi yang dipasang di badan peserta.

Namun para peserta dan coordinator tidak sadar bahwa pengawas ujian UTBK juga telah menggunakan alat metala detector. Sehingga ketika alat ini diaktifkan seorang pengawas yang berkeliling ke seluruh ruangan, alat itu tiba-tiba saja berbunyi persis di samping salah satu peserta yang menggunakan alat di badannya.

Karena curiga, pegawas ujian lantas memeriksa peserta yang terdekat dengan dektektor itu, sehingga terbongkarlah semua praktik kecurangan tersebut.

Dari pengakuan peserta diamankan itu, muncul pengakuan bahwa tidak ada rencana untuk menggunakan alat-alat elektronik yang melekat di badan mereka. Semua itu diatur pihak bimbingan belajar.

“Orang tua pun, konon tidak tahu menahu. Tidak ada dalam skema itu. Bimbel dalam iklannya itu, di medsosnya. Menjamin lulus 110 persen,” kata Edy.

Kini, kasus tersebut tengah dilakukan penyelidikan oleh petugas Polsek Medan Baru. Dalam waktu dekat USU akan menyurati Polsek Medan Baru guna mempertanyakan terkait penanganan kasus kecurangan tersebut. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan