Kajianberita.com
Beranda Olahraga Kisruh Liga 2 di Banda Aceh Berawal dari Tamparan Official Tuan Rumah kepada Tim Medis PSMS

Kisruh Liga 2 di Banda Aceh Berawal dari Tamparan Official Tuan Rumah kepada Tim Medis PSMS

Mendapat perlindungan dari Edy Rahmayadi, pemain PSMS Medan keluar dari lapangan Harapa Bangsa, Banda Aceh pada tengah malam.

Kabar seputar kekisruhan pertandingan antara tuan rumah Persiraja Banda Aceh melawan PSMS Medan pada Sabtu malam (18/11) lalu belum selesai dalam pembahasan. Pihak Persiraja masih ngotot menuding kalau pemicunya adalah para pemain PSMS Medan, Namun tuduhan itu dibantah. Pelatih PSMS Medan, Miftahudin Mukson mengaku official Persiraja lah yang memantik kerusuhan itu.

Ia juga keberatan dengan media-media di Aceh yang menuding Edy Rahmayadi telah  bersikap arogan membentak tim official Persiraja. Justru sebagai pembina PSMS Medan, Edy Rahmayadi telah berjuang keras untuk melindungi anak-anak PSMS Medan dari amukan massa.

“Kita bersyukur, anak-anak mendapat perlindungan dari Bapak Edy Rahmayadi yang siap berjibaku melawan kekisruhan itu,” kata Miftahudin.

Pertandingan kedua tim sebenarnya berlangsung cukup seru dan berimbang.  Kedua tim bermain keras. Setidaknya ada  12 kartu kuning yang dikeluarkan wasit pada pertandingan itu, plus satu kartu merah kepada pemain Persiraja di menit akhir.

Begitu kerasnya pertandingan, sehingga beberapa kali pemain dari kedua tim bersitegang di atas lapangan, dan bahkan nyaris berujung pada perkelahian.  Beberapa penonton mulai terlibat dengan melempar botol minuman kepada pemain PSMS di lapangan.

Saat salah seorang pemain PSMS cedera di lapangan di menit akhir, tim media langsung masuk ke lapangan untuk memberi pengobatan. Pihak official Persiraja keberatan dengan aksi itu. Mereka menuding pemain PSMS sengaja memperlambat waktu.

Tiba-tiba saja seorang official Persiraja menampar dan menendang salah seorang tim medis PSMS Medan. Ironisnya, aksi tidak terpuji itu mendapat dukungan dari penonton yang tidak mau menerima hasil imbang tersebut. Hal ini yang membuat official PSMS Medan keberatan dengan aksi kekerasan itu.

Situasinya berubah saat wasit meniupkan pluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Kemarahan official Persiraja semakin memuncak sehingga mereka beramai-ramai mendatangi pemain PSMS Medan di bangku cadangan. Kekisruhan semakin tidak terkendali setelah penonton terlibat ikut mau menyerang pemain PSMS Medan.

Para penonton melempar, memaki dan berupaya melakukan aksi kekerasan terhadap pemain PSMS Medan. Bahkan seorang pemain PSMS Medan sempat ditonjok saat berjalan ke ruang ganti.

“Salah seorang pemain PSMS Medan, Rachmad Hidayat menjadi korban pemukulan dari penonton. Kita sangat keberatan dengan tindakan itu,” kata  Miftahudin. Pelatih yang aktif sebagai prajurit TNI AD ini menilai kekisruhan itu bukan lagi laga sepakbola.

“Pemain saya ada dikeroyok, dipukul di ruang sempit seperti ini. Petugas gak ada. Ini mau perang atau main bola,” kata Miftahudin. Bahkan ada ratusan pendukung Persiraja yang berupaya masuk ke ruang ganti karena ingin menyerang pemain PSMS Medan.

Akibatnya Skuad tim berjuluk Ayam Kinantan itu harus mendapat pengamanan ekstra ketat. Pertandingan usai pukul 22.00 wib, namun pemain PSMS Medan baru bisa kembali ke hotel pada  pukul 01.00 WIB dini hari.

Edy Rahmayadi yang menonton pertandingan itu awalnya menganggap kekisruhan itu hal biasa.  Ia sempat hendak meninggalkan lapangan bersama pengawalnya. Namun situasi kian tak terkendali, sehingga Edy langsung terpikir keselamatan para pemain PSMS Medan.

Sebagai pembina, Edy langsung meminta aparat keamanan melindungi para pemain PSMS Medan. Ia juga menyampaikan protes kepada official Persiraja yang melakukan tindakan tidak terpuji.

“Main bola ya main bola. pemain jangan diganggu..!” ujar Edy Rahmayadi dengan nada tinggi.

Kemarahan Edy Rahmayadi juga ditujukan kepada jajaran Manajemen Persiraja Banda Aceh yang bersikap tidak terpuji.

Melihat kemarahan Edy Rahmayadi, sejumlah penonton di area depan stadion terpancing emosi. Beberapa penonton berusaha mendorong polisi yang mengiringi Edy Rahmayadi sambil menyuarakan protes. Tapi Edy Rahmayadi sama sekali tidak gentar dengan sikap tak beradab  itu.

Yang terpikir olehnya adalah melindungi anak-anak PSMS Medan dari segala bentuk ancaman para penonton. Untungnya, aparat keamanan bersikap tegas sehingga cepat  mengamankan mantan Pangkostrad itu dari  prilaku buruk penonton.

Kabar tentang ancaman yang diarahkan kepada pemain PSMS Medan itu cepat beredar di Medan. Edy Rahmayadi juga mengabarkannya lewat instagram pribadinya @edy_rahmayadi. Namun dalam statusnya, Edy meminta semua warga Sumut supaya tenang.

Kekisruhan itu menurutnya tidak layak untuk diperpanjang, sebab bagaimanapun juga, hubungan Aceh dan Sumut sangat dekat sejak dulu. Edy meminta agar warga Sumut sabar dengan segala fitnah yang menuding kalau official PSMS yang memulai kekisruhan itu. Fokusnya sekarang adalah menyiapkan kekuatan PSMS Medan menghadapi pertandingan berikutnya. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan