Kajianberita.com
Beranda Politik Julukan si Gemoy untuk Prabowo apakah Bisa Menjadi Gimmik yang Menguntungkan?

Julukan si Gemoy untuk Prabowo apakah Bisa Menjadi Gimmik yang Menguntungkan?

Calon presiden Prabowo Subianto dengan gimik politik sebagai ‘gemoy’, berjoget di salah satu acara di TV

Citra tegas berwibawa, dan kharismatik yang melekat dalam diri Prabowo Subianto tampak mencair akhir-akhir ini, terutama semenjak muncul istilah Prabowo ‘gemoy’. Frasa tersebut membuat sang Menteri Pertahanan seolah lebih dekat dengan masyarakat, utamanya kalangan anak muda. Ini adalah sebuah perjudian besar bagi Prabowo yang sudah tiga kali kalah di Pilpres.

Entah siapa yang pertama kali memberikan istilah Prabowo ‘gemoy’ pada Capres nomor urut 2 tersebut. Tapi kenyataannya, saat ini sebutan tersebut makin populer di kalangan masyarakat.

Bagi rivalnya di ajang Pilpres, Prabowo disebut hanya menjual gimik ‘gemoy’ demi menarik simpati publik. Tapi Ketua Tim Kemenangan Nasional (TKN) Roslan Roeslani mengklaim julukan ‘gemoy’ yang disematkan kepada jagoannya muncul dan menyebar secara organik dimasyarakat.

Kata ‘gemoy’ memang cukup populer di kalangan anak muda. Biasanya, gemoy ini ditunjukkan untuk menyebut anak yang lucu dan menggemaskan.

Tapi belakangan ini frasa ‘gemoy’ justru melekat di kancah politik. Adalah Prabowo Subianto yang disebut sebagai sosok ‘gemoy’. Juru bicara TKN Maman Abdurrahman mengakui citra ‘gemoy’ adalah bagian dari gimik politik yang tujuannya untuk membangun politik riang gembira.

Keberanian Prabowo

Popularitas ‘gemoy’ makin melesat setelah Prabowo Subianto sering terlihat berjoget di depan publik. Seperti yang ia lakukan di acara pengundian nomor urut pasangan Capres-Cawapres di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta.

Istilah ‘gemoy’ ini lalu dimanfaatkan kubu lawan untuk menyerang Prabowo. Ia disebut hanya menjual gimik demi popularitas menjelang Pilpres pada 14 Februari mendatang.

Tapi, apakah jualan gimik ‘gemoy’ salah dalam kontestasi politik?

Dedi Kurnia Syah dari Indonesian Politic Opinion (IPO) berpendapat, Prabowo Subianto melakukan keberanian luar biasa dengan memilih tema karakter politik ‘gemoy’ saat ini.  Ia juga menilai ini adalah salah satu cara jitu menggaet pemilih anak muda, karena berdasarkan data KPU 56 persen pemilih pada Pemilu 2024 adalah generasi Z dan milenial.

“Prabowo sejauh ini dilihat sebagai ksatria, militer, wibawa, dan kharismatik, tetapi dalam catatan IPO yang menyukai sikap ksatria tersebut hanya 48 persen, dan sebagiannya sudah menjadi loyalis Prabowo,” kata Dedi kepada VOI.

“Sementara 52 persen pemilih adalah kelompok muda yang mereferensi memilih berdasar kedekatan emosional, Gemoy ini menjadi berhasil meraup simpati anak muda,” imbuhnya.

Mirip Bongbong Marcos

Citra ‘gemoy’ yang dibangun Prabowo Subianto mendapat kritik, di antaranya dari kubu pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Jubir Tim Nasional (Timnas) AMIN, Surya Tjandra mengklaim gimik ‘gemoy’ yang dipopulerkan Prabowo ini berbahaya.

Dalam sebuah kesempatan, Surya Tjandra bahkan menyamakan kampanye gimik Prabowo dengan yang diterapkan Ferdinand Romualdez Marcos atau Bongbong Marcos saat Pilpres di Filipina. Bongbong Marcos merupakan anak diktator Filipina, Ferdinand Marcos, yang berkuasa selama 21 tahun dan dianggap otoriter.

Bongbong Marcos memenangi Pilpres Filipina karena kampanye masif di media sosial dan menggaet suara anak muda. Sama halnya dengan sasaran kampanye gimik pasangan Prabowo-Gibran yang juga adalah anak muda. Surya menilai kampanye gimik yang dilakukan pasangan nomor urut 2 itu berbahaya karena memanipulasi kondisi yang sebenarnya.

Lomba joget gemoy yang diselenggarakan oleh politikus Partai Gerindra yang mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi di Subang, Jawa Barat pada Sabtu (25/11/2023). (Antara/HO-Dok. Dedi Mulyadi)

Namun, Dedi tidak melihat ada yang salah dengan kampanye ‘gemoy’ yang tengah digembar-gemborkan kubu Prabowo. Ia justru menilai ini adalah cara cerdas dari tim Prabowo mengeruk suara pemilih pemula. Terutama, Dedi melihat peran Gibran yang dianggap bisa mewakili anak muda justru belum berkontribusi maksimal.

“Dari sisi upaya mendekati pemilih muda, itu sudah berhasil, meskipun untuk Gibran justru alami kebalikannya, anak muda jauh lebih menyukai Prabowo dibanding Gibran. Dengan itu peluang dipilih lebih besar,” Dedi menjelaskan.

Di saat yang sama, Dedi juga mengomentari mengapa Prabowo Subianto rela melepaskan citranya sebagai sosok yang berwibawa dan penuh kharisma dalam beberapa bulan ke belakang. Prabowo sekarang ini terlihat lebih mencair dan tidak kaku, seperti yang ia tunjukkan di dua Pilpres sebelumnya.

“Prabowo atau tim nya menyadari jika pemilih 2024 lebih banyak anak muda, sehingga tidak bisa hanya andalkan sikap kharismatik, terlebih Gibran sebagai Cawapres yang dari kalangan muda juga belum berhasil meraup suara dari anak muda, justru Prabowo yang mendominasi pilihan anak muda saat ini,” pungkasnya.

Prabowo Subianto sedang melakukan perjudian dengan mempopulerkan politik gemoy seperti sekarang ini. Setelah ia rela melepaskan citra sebagai sosok yang berwibawa dan kharismatik, apakah perjudian Prabowo akan terbayar saat Pilpres 2024 nanti? (voi)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan