Kajianberita.com
Beranda Headline Akademisi Unand Sampaikan Manifesto Penyelamatan Bangsa, Akademi USU Penjilat Penguasa

Akademisi Unand Sampaikan Manifesto Penyelamatan Bangsa, Akademi USU Penjilat Penguasa

Para guru besar dan akademisi Universitas Andalan Padang menyamapaikan manipesta keprihatinan atas demokrasi yang berlangsung di era Jokowi. Serukan adanya perubahan bangsa

Setelah UGM, UI, UII, ITB dan berbagai kampus besar nasional menyampaikan kritik tajam atas demokrasi di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo, kini giliran akademisi Universitas Andalan (Unand), Padang yang menyampaikan petisi keprihatinan. Akademisi Unand adalah yang pertama di Sumatera melakukan gerakan perlawanan itu.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas (Unand) Charles Simabura mewakili segenap Civitas Akademika Unand, turut menyampaikan petisi sebagai bentuk keresahan menjelang pencoblosan Pemilu 2024.

Pihaknya risau akan kondisi negara saat ini karena banyaknya hal yang tak wajar telah terjadi mendekati perhelatan pesta demokrasi lima tahunan kali ini.

“Semoga ini menjadi salah satu kontribusi kita semua untuk mengawal demokrasi Indonesia,” kata Charles di pelataran Convention Hall Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Jumat (2/2/2024).

Charles menyatakan penyampaian petisi ini demi kejayaan bangsa Indonesia, serta bentuk solidaritas terhadap beberapa kampus, seperti UGM, UII, dan UI yang sudah lebih dahulu menyuarakan kegelisahannya.

Selain itu, penggagas Aliansi Civitas Akademika Unand Hary Efendi Iskandar, menyebut penyampaikan manifesto sebagai bentuk keprihatinan akan kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.

“Dapat dilihat banyak dari kampus negeri yang juga menyampaikan hal yang sama. Ini bukti bahwa kami punya batin dan keresahan yang sama,” ujar Hary, menekankan.

“Kami bersama-sama di sini untuk menyampaikan keprihatinan. Mudah-mudahan dapat didengar oleh pemangku jabatan,” tambah Hary.

Sebelumnya, tiga perguruan tinggi negeri, yaitu UGM, UII, dan UI menyampaikan pernyataan sikap yang serupa terkait situasi bangsa terkini menjelang Pemilu 14 Februari mendatang.

Setelah Unand, kemungkinan akan menyusul pernyataan sikap dari akademisi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.  Namun jangan berharap akademisi USU akan melakukan hal yang sama, sebab Rektor USU Muryantio Amin adalah sosok yang sangat dekat dengan penguasa.  Factor kedekatan itu yang membuat  Muryanto Amin sukses menapak kursi Rektor, meski pengalamannya dalam dunia akademisi sangat minim.

Muryanto juga dikenal sebagai pengikut setia menantu Jokowi, Bobby Nasution.  Saat Bobby Nasution baru saja dilantik sebagai walikota Medan, Muryanto memaksa sejumlah akademisi USU untuk ‘sowan’ guna menunjukkan kepatuhannya kepada Bobby,  sekaligus meminta bimbingan agar USU lebih maju ke depan.

Padahal Bobby merupakan walikota karbitan yang maju dalam politik bermodal perkawinanya dengan Kahiyang, putri Jokowi. Akademisi USU yang tidak mau ikut sowan ke Bobby pasti tidak mendapat posisi penting di kampus.

Dalam situasi seperti itu, tidak mungkin rasanya USU akan melakukan langkah yang sama untuk berani mengkritik carut marutnya  demokrasi yang berlangsung di era Jokowi. Bahkan akademisi USU hanya berdiam diri manakala melihat banyaknya pelanggaran Pemilu yang terjadi belakangan ini. (*)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan