Kajianberita.com
Beranda Headline Harga Beras Melambung, Pemerintah Jokowi Tak Punya Cara Mengatasinya

Harga Beras Melambung, Pemerintah Jokowi Tak Punya Cara Mengatasinya

Harga beras menjelang Ramadhan 1445 H yang tinggal sekitar 20 hari lagi melambung tinggi. Harga beras yang tadinya Rp 300 ribu untuk 30 kg kini sudah meningkat menjadi Rp 420 ribu bahkan lebih. Para keluarga mengeluh karena Pemerintah sama sekali tidak punya Solusi untuk mengatasi kenaikan harga beras ini.

Ketika masalah ini ditanyakan wartawan kepada presiden Joko Widodo, ia sama sekali tidak punya cara efektif untuk mengatasi kenaikanharga beras itu.  Jokowi malah menjawab yang tidak sesuai pertanyaan. Ia mengatakan soal stok beras masih cukup.

“Jangan kuatir soal stok beras,” kata Jokowi.

Tentu saja jawaban ini sangat mengelantur. Ditanya soal kenaikan harga beras yang melambung, yang dijawab  justru soal stok beras.

Kenaikan beras di tingkat pasar ini tidak hanya terjadi sekarang.  Indikasinya sudah terjadi sejak setahun belakangan ini. Hanya saja menjelang Ramadhan ini, kenaikannya semakin melonjak sehingga semua keluarga mengeluh.

Ketika ditanya soal kenaikan ini kepada badan Pengan nasional, jawabannya pun sama.  Mereka hanya sebatas bisa menasihati masyarakat agar tidak terpengaruh oleh kecenderungan panic buying dalam pembelian beras yang secara berlebihan.

“Jadi sebenarnya beras itu ada dan kami jamin cukup. Masyarakat tidak perlu panic buying karena memang pemerintah sudah mempersiapkan jauh jauh hari,” kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengutip Antara.

Arief menegaskan bahwa stok beras di Indonesia sudah dipersiapkan dengan baik oleh pemerintah jauh-jauh hari, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran akan kekurangan pasokan.

Dia menyebut per 19 Februari, stok beras secara nasional yang dikelola oleh Bulog total ada 1,4 juta ton. Penyerapan beras yang bersumber dari petani dalam negeri di tahun ini realisasinya telah menyentuh angka 107 ribu ton. Sementara itu untuk stok Cadangan Beras Pemerintah Daerah (CBPP) hingga minggu kedua Februari, total secara keseluruhan terdapat 7,5 ribu ton.

Cara Arief menjawab tidak beda dengan jawaban Jokowi, lain ditanya lain pula yang dijawab. Ditanya soal kenaikan harga yang dijawab  justru stok beras. Faktanya, sebanyak apapun stok beras yang dimiliki pemerintah, kenaikan harga di tingkat pasar tetap tidak terkendali.

Di satu sisi Pemerintah mengklaim stok beras berlimpah, tapi disisi lain mereka mengakui kalau  dalam delapan bulan terakhir produksi beras di Indonesia mengalami defisit jika dibandingkan dengan konsumsi. Kenaikan harga beras ini dipastikan akan berdampak kepada inflasi.

Bank Indonesia sudah memastikan bahwa kenaikan harga beras yang ada saat ini akan memicu inflasi yang tinggi. Apalagi BI menemukan ada sejumlah daerah yang harga berasnya mencapai Rp 18.800 per kilo gram (kg). Artinya, ada kenaikan harga 80 persen dari biasanya.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menjelaskan, salah satu penyebab utama melonjaknya harga beras ialah terganggunya pasokan, akibat mundurnya musim tanam padi. Hal ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang melanda Indonesia.

“Akibatnya tentunya ada pergeseran periode tanam beras,” katanya.

Kenaikan harga tersebut pun berdampak terhadap inflasi. Aida bilang, beras memiliki bobot sebesar 3,43 persen terhadap inflasi. Dengan adanya kenaikan harga, beras berkontribusi 0,64 persen terhadap inflasi secara bulanan (month to month/mtm) pada Januari lalu.

Lantas apa yang bisa dilakukan masyarakat?

Pemerintah sepertinya tidak punya solusi apapun bagi masyarakatnya terkait mengatasi kenaikan harga beras ini. Masyarakat hanya diminta mengencangkan ikat pinggang. Jangan terlalu banyak mengonsumsi beras, sebab tidak jelas kapan kenaikan harga beras ini akan bisa ditanggulangi.

Inilah konsukuensi bagi masyarakat jika negara dipimpin sosok yang tidak punya kemampuan. Rakyat hanya bisa pasrah..! (**)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan