Kajianberita.com
Beranda Headline Djarot Saiful Hidayat Sosok Politisi Agak Laen, Perjalanannya Memburu Jabatan di Sumut Bakal Tutup Buku

Djarot Saiful Hidayat Sosok Politisi Agak Laen, Perjalanannya Memburu Jabatan di Sumut Bakal Tutup Buku

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat

Djarot Saiful Hidayat dikenal sebagai politisi yang haus kekuasaan. Ia tidak hanya memburu jabatan di kampung halamannya di Blitar dan Jawa Timur, tapi juga ikut bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta dan di Sumut.

Ia sempat gagal dalam persaingan pada Pilkada Sumut 2018, tapi Djarot tidak menyerah. Ia melanjutkan perburuan jabatan merebut kursi legislatif dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut III pada Pemilu 2019. Dan Djarot boleh berbangga, sebab setidaknya ia pernah sukses menjabat anggota DPR RI mewakili Sumut hasil Pemilu periode lalu.

Namun perjalanan Djarot memburu kekuasaan di Sumut diperkirakan berakhir pada Pemilu kali ini setelah ia tidak lagi mampu bersaing merebut hati warga di daerah ini. Terbukti, dalam pengumpulan suara sampai Selasa (27/2/1017)  Djarot tertinggal jauh dari caleg lainnya. Peluangnya mempertahankan satu kursi di DPR RI diperkirakan bakal lenyap.

Minimnya dukungan terhadap Djarot tidak lepas dari rasa tanggungjawabnya yang minim terhadap Sumatera Utara sejak terpilih sebagai anggota DPR RI pada periode lalu. Walau berhasil meraih kursi sebagai anggota DPR RI dari Sumut, nyatanya Djarot memang jarang sekali menginjakkan kaki di daerah ini.

“Cocoklah itu. Dia kan bukan orang Sumut. Ngapain pula kita memilih Caleg yang tidak kenal dengan Sumut,” kata Iwan Dahlan, seorang warga Batubara.

Apa yang dikatakan Iwan cukup masuk diakal, sebab Djarot memang sama sekali tidak memiliki latar belakang yang dekat dengan Sumatera Utara.  Ia lahir pada 6 Juli 1962 di Magelang, Jawa Timur  dan selanjutnya menempuh pendidikan hingga sarjana di daerah itu.

Dalam karir politiknya, Djarot pernah menjabat sebagai anggota DPRD Jawa Timur masa bakti 1999-2000.  Baru dua tahun sebagai anggota dewan di sana, ia kemudian bertarung pada Pilkada pada tahun 2000 dan sukses merebut jabatan sebagai Walikota Blitar. Bahkan ia menguasai jabatan itu selama dua periode, dari 2000-2010.

Setelah itu Djarot melanjutkan pemburuan jabatan di DKI Jakarta untuk mengisi posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Basuki Tjahja Purnama alias Ahok pada 2017.  Keduanya sempat bersama-sama ikut Pilkada DKI 2017 bersaing melawan pasangan Anies dan Sandiaga Uno, namun kalah.

Meski demikian sebelum habis masa jabatannya di DKI Jakarta, pada penghujung 2017 Djarot sempat menikmati jabatan sebagai Gubernur DKI karena Gubernur Ahok pada waktu itu harus hidup dipenjara karena terlibat kasus penistaan agama.

Gagal dalam Pilkada DKI pada 2017, Djarot melanjutkan pemburuan jabatan di Sumatera Utara, daerah yang sama sekali baru baginya. Selama hidupnya Djarot sebenarnya tidak pernah tinggal di daerah ini. Ia pun  tidak mengenal daerah ini. Namun dengan dukungan penuh penguasa, Djarot dengan mudah mendapatkan KTP Sumut sehingga ia mengklaim sebagai orang Sumut.

Dengan bermodal dukungan kekuasaan, Djarot nekad ikut Pilkada Gubernur Sumut pada 2018 berpasangan dengan Sihar Sitorus. Sayangnya, pasangan Djarot -Sihar yang didukung PDIP harus mengakui keunggulan pasangan Edy Rahmayadi- Musa Rajekshah pada Pilkada itu.

Tidak jera, Djarot lantas melanjutkan pemburuan kekuasaan untuk meraih kursi DPR RI dari wilayah Sumut. Sisa-sisa popularitas pada masa Pilkada 2018 dimanfaatkannya dengan baik sehingga pada Pemilu legislatif 2019, ia sukses meraih suara signifikan sehingga bisa mendapatkan satu kursi DPR RI dari Dapil Sumut III meliputi wilayah Kabupaten Asahan, Dairi, Karo, Langkat, Pakpak Bharat, Simalungun, Kota Binjai, Kota Pematang Siantar, Kota Tanjung Balai dan Kabupaten Batubara.

Saat menjabat sebagai anggota DPR RI, Djarot pula yang bersikeras untuk mendukung agar menantu Jokowi, Bobby Nasution dicalonkan partainya maju pada Pilkada Kota Medan 2020. Djarot yang kala itu mendapat kepercayaan sebagai Plt Ketua DPD PDIP Sumut tega menyingkirkan kader militan PDIP Akhyar Nasution yang juga ngotot bersaing merebut kursi Walikota Medan.

Djarot adalah politisi yang paling vocal menyerang Akhyar. Sampai-sampai ia tega menuding Akhyar sebagai kader PDIP yang haus kekuasaan.

“Partai kami tidak mendukung Akhyar, salah satunya karena Ia harus kekuasaan,” kata Djarot kepada para wartawan di Medan.

Pernyataan Djarot membuat warga Sumut terheran-heran, sebab warga tahu bahwa yang sebenarnya yang haus kekuasaan itu adalah dirinya sendiri. Betapa tidak, Djarot telah melampaui banyak wilayah untuk bisa mendapatkan jabatan, mulai dari Jawa Timur, Blitar, DKI Jakarta dan kemudian Sumut.

Tapi Djarot tidak mau peduli. Rasa percaya dirinya sangat tinggi karena merasa sudah sangat popular di Sumut. Modal percaya diri itu yang menjadi penguat semangatnya kembali bersaing mendapatkan kursi DPR RI dari Dapil Sumut III pada Pileg 2024 ini. Tidak tanggung-tanggung, sebagai elit partai, ia menempati nomor 1 dari 10 caleg PDIP yang didaftarkan ke KPU.

Namun siapa sangka, kali ini dukungan untuknya menurun tajam.  Di antara 10 caleg PDIP di Dapil yang sama, Djarot hanya menempati posisi keempat sebagai peraih suara terbanyak. Sementara dibanding seluruh caleg dari semua partai, Djarot berada di urutan 15. Dengan demikian peluangnya kembali bersuara di Senayan semakin tipis.

Jika ia gagal mendapatkan kursi parlemen dari Sumut, bisa dikatakan upaya Djarot memburu jabatan di daerah ini bakal berakhir.  Mungkin saja ia akan mencoba lagi pada Pemilu 2029, tapi peluang itu semakin tipis karena nama Djarot sudah tenggelam seiring perjalanan waktu.

Perjalanan politik Djarot memburu kekuasaan di Sumut sepertinya akan tutup buku setelah Pemilu 2024 ini. Belum jelas daerah mana lagi yang akan menjadi sasaran pemburuan kekuasaan Djarot Syaiful Hidayat. Tapi setidaknya posisinya di partai masih cukup kuat, sebab saat ini Djarot masih tercatat sebagai salah satu Ketua DPP PDIP. Sosok Djarot memang seorang politisi yang Agak Laen.

Posisi untuk Caleg Dapil Sumut III kursi DPR RI sampai Selasa (27/2/2024)

  1. Rudy Hartono Bangun (Nasdem) 75.069
  2. Delia Pratiwi Br Sitepu (Golkar) 69.576
  3. Ahmad Doli Kurnia Tanjung (Golkar) 449
  4. Mangihut Sinaga (Golkar) 46.332
  5. Bob Andika Mamana Sitepu (PDIP) 42.740
  6. JR Saragih (Nasdem) 38.238
  7. Bane Raja Manalu (PDIP) 37.250
  8. Junimart Girsang (PDIP) 29.166
  9. Nasir Bahar (PAN) 28.724
  10. Hinca IP Pandjaitan (Demokrat) 27.732
  11. Ikhwan ( Nasdem) 26.223
  12. Sugiat santoso (Gerindra) 26.087
  13. Ansory Siregar (PKS) 25.125
  14. Rudolf Saragih (PDIP) 23.319
  15. Djarot Syaiful Hidayah (PDIP) 23.206

Catatan: Caleg dengan nama huruf tebal adalah anggota DPR RI periode 2019-2024 (petahana). ***

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan