Kajianberita.com
Beranda Headline Harga Beras Melambung, Jokowi Masih Jualan Mimpi Indonesia Akan Jadi Negara Maju

Harga Beras Melambung, Jokowi Masih Jualan Mimpi Indonesia Akan Jadi Negara Maju

Jokowi dan proyek IKN

Semakin hari harga beras semakin melambung tinggi. Meski masyarakat sudah berteriak soal harga yang tak terkendali, tapi Pemerintah seakan tutup mata. Presiden Joko Widodo justru semakin sibuk dengan proyeknya untuk membangun Ibukota Negara (IKN) yang menelan anggaran hingga Rp 500 triliun.

Awalnya Jokowi pernah berjanji pembangunan IKN itu tidak akan mengganggu APBN. Nyatanya, ia kembali berdusta sebab APBN tetap saja terkuras untuk membangun sejumlah sarana di kawasan itu.

Padahal IKN hanya sebuah proyek untuk memindahkan ASN, bukan untuk mengurangi beban Ibukota Jakarta secara efektif. IKN lebih kepada sebuah proyek yang menghamburkan uang ketimbang mengatasi permasalahan  nasional.

Ketimbang mengatasi harga beras yang kian melambung, Jokowi justru lebih mementingkan keberlanjutan proyek IKN.  Ia seakan tidak peduli keluhan masyarakat bawah yang kian kesulitan membeli beras.

Faktanya harga beras di tingkat pasar di Sumut saat ini jauh di atas  Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp 15 ribu – Rp 17 ribu per kg. Padahal, untuk HET beras medium dipatok seharga Rp 11.500 per kg dan HET beras premium sebesar Rp 14.400 per kg.

Diperkirakan harga beras itu akan terus melambung saat Ramdahan dan Idul Fitri ke depan. Sedangkan Pemerintah sampai saat ini tidak punya jalan keluar. Paling sebatas melakukan operasi pasar untuk kepentingan segelintir orang.

Di Tengah kesulitan rakyat mendapatkan beras, Jokowi masih saja menjual mimpi bahwa Indonesia akan menjadi negara maju. Hal itu disampaikannya saat membuka Kongres XXIII PGRI Tahun 2024 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Sabtu, 2 Maret.

“Saya tidak pernah bosan mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kesempatan emas untuk melompat menjadi negara maju, dalam tiga periode kepemimpinan nasional ke depan,” ujar Presiden Jokowi dalam sambutannya.

Jokowi menekankan, dirinya tak asal bicara soal kesempatan Indonesia melompat dari negara berkembang menjadi negara maju.

“Itu bukan hitung-hitungan saya, itu hitung hitungan Bappenas, hitung-hitungan IMF, hitung-hitungannya World Bank. Semuanya ngitung peluang melompat menjadi negara maju,” ungkap Jokowi.

Jokowi juga mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak terjebak di zona nyaman sebagai negara berkembang. Dia pun mewanti-wanti agar Indonesia jangan sampai turun level menjadi negara miskin seperti yang terjadi kepada negara-negara di Amerika Latin.

“Hati hati, jangan kita terjebak pada middle income trap. Negara-negara di Amerika latin di tahun 60, 70 sudah menjadi negara berkembang. Mereka diberi kesempatan, karena dalam peradaban negara itu biasanya sekali diberi kesempatan, tapi tidak bisa menggunakan kesempatan itu akhirnya negara-negara di sana sampai sekarang ya tetap jadi negara berkembang. Bahkan ada yang turun levelnya menjadi negara miskin. Jangan sampai itu terjadi di negara kita Indonesia,” kata Jokowi.

Oleh karena itu, kepala negara meminta semua rakyat menggunakan kreativitasnya untuk mengambil peluang. Khususnya dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan mendapat bonus demografi di mana negara akan sangat produktif.

Kalimat yang disampaikan Jokowi itu terasa sangat indah. Mimpi-mimpi yang disampaikannya bisa membuayai orang-orang yang tidak peduli dengan kondisi masyarakat arus bawah saat ini. Tapi ia sama sekali tidak bisa menjelaskan bagamana caranya membuat mimpi itu menjadi kenyataan di Tengah sulitnya masyarakat membeli pangan.

Bagi Jokowi, mengatur negara tak ubahnya bermain di tataran kata-kata. Hanya perlu menyampaikan pernyataan yang indah-indah, dan rakyat akan terbuai. Buzzer akan bermain untuk membuat rakyat semakin hanyut dengan mimpi itu.

Kalaupun  ada rakyat lain yang berteriak kepedihan, tetap akan diacuhkan karena dianggap kelompok itu adalah orang-orang yang sakit hati. Di mata Jokowi, kenaikan harga beras akan mudah di atasi dengan seruan buzzer. Masalah kecil itu.

IKN jauh lebih penting, meloloskan PSI ke DPR RI lebih utama dan mendorong anak dan menantunya sukses di pentas politik tetap menjadi prioritas ke depan. **

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan