Kajianberita.com
Beranda Headline Perolehan Suara PSI Melonjak Secara Mendadak, Ada Scenario Meloloskannya ke Senayan?

Perolehan Suara PSI Melonjak Secara Mendadak, Ada Scenario Meloloskannya ke Senayan?

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menggelar konferensi pers di Kantor DPP PSI, Jakarta, Jumat (1/3/2024).

Semua quick count telah memastikan bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak akan mampu mendapatkan suara mendekati 4 persen sebagaimana ambang batas di parlemen (parliamentary threshold). Analisi ini masuk diakal, sebab setelah lebih dari seminggu proses perhitungan suara PSI, perolehan mereka masih di di kisaran 2 persen.

Namun situasinya berbeda pada pekan ini, sebab perolehan suara PSI mengalami peningkatan yang mengejutkan hanya dalam waktu singkat. Kenaikan suara yang mendadak itu  menimbulkan kecurigaan banyak pihak.

Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud menduga suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) naik pesat dikarenakan mengambil suara partai lain, jangan-jangan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pengambilan suara itu dilakukan karena ada scenario dari penguasa untuk memaksa agar PSI bisa mendapat suara di atas 4 persen sehingga mendapatkan kursi di DPR RI.

Kecurigaan ini sangat wajar, sebab di saat suara PSI melonjak secarga signifikan, perolehan suara PPP justru menurun.

“Naiknya secara signifikan suara PSI dan turunnya suara PPP semakin menegaskan bahwa ada penggelembungan suara dengan mengambil suara dari partai lain,” kata Jubir TPN Chico Hakim melalui keterangannya yang diterima pada Minggu (3/2/2024).

Meski Raihan suara PPP kembali naik. Dalam real count sementara KPU per Sabtu (2/3/2024) pukul 21.00 WIB, raihan partai berlambang Kabah kembali ke angka empat persen, tapi Chico mencurigai sempat turun suara PPP dikarenakan ketidaksukaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Muhammad Mardiono cs karena mendukung Ganjar-Mahfud.

Sedangkan, tutur dia, partai anak Jokowi, Kaesang Pangarep mendukung Prabowo-Gibran. Sehingga, PPP berusaha dijegal masuk parlemen.

“Bila ini terus terjadi hingga akhir penghitungan suara, maka masyarakat akan menilai Presiden Jokowi sebagai presiden yang menghilangkan sejarah partai Kabah (karena mendukung Ganjar–Mahfud) dari Indonesia akibat dukungannya ke PSI,” katanya.

Menurutnya, selama ini PPP selalu memperoleh hasil pemilu di atas hasil survei karena sebaran pemilih di kantong-kantong Islam seluruh Indonesia secara merata dibandingkan PKB yang terkonsentrasi di Jawa Timur (Jatim). “Dan terbukti dari penghitungan suara sebelum hari-hari ini, suara PPP aman di atas empat persen,” ucapnya menjelaskan.

Chico berpandangan, sejak awal PSI seharusnya tidak lolos sebagai peserta pemilu 2024.  Ia menegaskan penggelembungan suara PSI harus ditolak. “Hanya karena campur tangan kekuasaan lah yang membuat PSI lolos,”ujarnya.

Ia mengaku tidak kaget dengan menggelembung suara PSI maupun kemenangan capres-cawapres Prabowo-Gibran. Sebab, dugaan kecurangan Pemilu 2024 diduga terstruktur, sistematis dan masif.

“Pemilu ini sarat dengan dugaan intervensi brutal dari kekuasaan yang diduga melibatkan ASN, TNI-Polri dan penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu) sejak awal masa kampanye bahkan sebelum,” kata dia memaparkan.

Diketahui, per Sabtu (2/3/2024), perolehan suara PSI kian meningkat. Pada pukul 11.00 WIB siang, PSI meraih suara sebanyak 3,12 persen.

Berdasarkan data Real Count Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam situs pemilu2024.kpu.go.id, PSI mendapatkan 2.395.363 suara dari suara masuk yang mencapai 65,74 persen atau 541.185 dari 823.236 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Dengan ini, PSI menjadi partai ke-10 yang memperoleh suara terbanyak dalam Pileg 2024. Diketahui pada Jumat kemarin pada pukul 06.00 WIB suara PSI yakni sebanyak 2.291.882 suara. Sehingga ada kenaikan 103.481 suara dalam kurun waktu 29 jam. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan