Kajianberita.com
Beranda Headline Tim AMIN Tunjukkan Bukti Jokowi Gunakan Bansos Untuk Kampanye Terselubung Prabowo-Gibran

Tim AMIN Tunjukkan Bukti Jokowi Gunakan Bansos Untuk Kampanye Terselubung Prabowo-Gibran

Presiden Joko Widodo memberikan bantuan sosial kepada warga yang tinggal di kawasan yang bukan pendukung Prabowo-Gibran

Anggota tim hukum Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Bambang Widjojanto menyebut bahwa tingginya perolehan suara Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dan menjadi pemenang Pilpres 2024 disebabkan oleh ketidaknetralan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bambang menyebut, salah satu intervensi yang dilakukan Jokowi untuk mendulang suara Prabowo-Gibran adalah penyalahgunaan bantuan sosial (bansos). Jokowi, kata Bambang, membagikan bansos pada wilayah-wilayah yang perolehan suara Prabowo perlu dinaikkan.

Hal ini disampaikan Bambang dalam sidang perdana sengketa Pilpres 2024 di gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

“Pelanggaran berupa pelibatan lembaga kepresidenan untuk kepentingan paslon 02 nampak dan terbukti dari kampanye terselubung oleh Presiden Jokowi dalam berbagai kunjungannya, yang disertai dengan pembagian bansos di provinsi yang menjadi area operasi adalah wilayah di mana Prabowo Subianto ternyata memperoleh suara rendah pada pemilu 2014 dan 2019 dengan sasaran pemilih diperkirakan 27 juta,” kata Bambang, Rabu, 27 Maret.

Bambang mencontohkan, ada 15 daerah di Jawa Tengah yang menjadi sasaran lokasi penyaluran bansos yang ternyata menghasilkan kenaikan suara untuk Prabowo-Gibran secara signifikan dalam Pilpres 2024 dibandingkan suara Prabowo di pilpres sebelumnya.

Contoh lain yang Bambang soroti adalah perolehan suara Prabowo-Gibran di Kepulauan Talaud Sulawesi Utara yang juga menjadi sasaran titik penyaluran bansos, yakni sebesar 75,39 persen.

Sementara, dalam Pilpres 2014, suara Prabowo hanya sebesar 21,91 persen. Lalu, suara Prabowo di Pilpres 2019 hanya 9,01 persen.

“Setelah kunjungan dari Pak Jokowi ke beberapa tempat di beberapa daerah, kalau kita mengkategorisasi angka Prabowo di 2014, 2019, dan 2024 di mana intervensi-intervensi kekuasaan terjadi, maka terjadi lonjakan yang luar biasa sekali,” urai Bambang.

Dari intervensi Jokowi yang disebutkan itu, Bambang lalu memaparkan survei tren elektabilitas capres sebelum masa pendaftaran Pemilu 2024 hingga menjelang pencoblosan.

Sebelum agustus 2023, Prabowo Subianto menurut survei berkisar di angka 24,6 persen. Saat Prabowo mendaftar bersama Gibran Rakabuming Raka yang merupakan putra Jokowi pada Oktober 2023, suara pasangan tersebut naik di atas 30 persen.

Kemudian, survei pada bulan Februari 2024 sebelum pemungutan suara, elektabilitas Prabowo-Gibran menyentuh angka 58,4 persen.

“Dengan menyandingkan survei antara sebelum dan sesudah adanya intervensi kekuasaan, terdapat kenaikan tidak wajar sebesar 34 persen hanya dalam kurun waktu 5 bulan terhitung sejak Oktober 2023 sampai dengan Februari 2024. Ini sesuatu yang sangat luar biasa menunjukkan ada intensi kecurangan yang dahsyat,” tutur Bambang.

Sebagai informasi, gugatan sengketa pilpres yang dilayangkan Anies dan Muhaimin memiliki nomor perkara 2/PHPU.PRES-XXII/2024. Dalam gugatan tersebut, mereka menginginkan adanya pemungutan suara ulang dengan mendiskualifikasikan Gibran Rakabuming Raka. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan