Kajianberita.com
Beranda Headline Makna Politis Dibalik Kebersamaan Pj Gubsu dan Edy Rahmayadi Saat Sholat Eid di Rumah Dinas

Makna Politis Dibalik Kebersamaan Pj Gubsu dan Edy Rahmayadi Saat Sholat Eid di Rumah Dinas

Edy Rahmayadi mencium kening Pj Gubernur Sumut Hassanudin saat keduanya bersilaturrahmi setelah sholat eid berjamaah Rabu (10/4/2024) di halaman Rumah Dinas Gubernur Jalan Sudirman 41 Medan.

Kehadiran Edy Rahmayadi dalam acara sholat Eid bersama Pj Gubernur Sumut Hassanudin di rumah dinas Jalan Jenderal Sudirman Medan, Rabu (10/4/2024) pagi di luar perkirakan banyak pihak. Biasanya seorang mantan gubernur tidak pernah diundang untuk mengikuti acara tersebut, apalagi dilaksanakan di lingkungan rumah Dinas.

Namun tidak demikian halnya dengan Edy Rahmayadi. Ia justru mendapat undangan kehormatan dari Pj Hassanudin untuk melaksanakan Sholat Eid bersama ribuan masyarakat di sana. Kebersamaan itu semakin meriah, sebab sebagian besar pejabat Pemprovsu ikut bergabung dalam momentum saklar itu.

Sebagian besar dari mereka merupakan pejabat yang dilantik semasa kepemimpinan Edy Rahmayadi. Tak heran jika suasana Sholat Eid itu menjadi arena reuni bagi Edy Rahmayadi dan para anak buahnya. Hassanudin pun menyambut kehadiran Edy dengan ramah mengingat keduanya sama-sama pernah aktif  sebagai perwira tinggi TNI-AD.

Edy Rahmayadi memang lebih senior dari Pj Hassanudin. Edy merupakan alumni Akmil 1985 sedangkan Hassanudin empat tahun di bawahnya. Edy pensiun dengan pangkat terakhir Letnan Jendera (Letjen) sedangkan Hassanudin mengakhiri karir militernya dengan pangkat Mayor Jenderal, satu tingkat di bawah Edy. Tak heran jika Pj Hassanudin tetap menaruh hormat kepada seniornya itu.

Edy pun menunjukkan rasa sayangnya kepada Hassanudin. Hal itu terlihat ketika keduanya bersilaturrahmi sesudah Sholat Eid pada lebaran pertama Rabu lalu. Edy tidak hanya menyalam dan memeluk Hassanudin, tapi ia juga mencium sahabatnya itu.

Tak pelak lagi, keabrakan keduanya langsung mencairkan suasana yang semula agak kaku. Para pejabat Pemprovsu yang menyaksikan momentum itu merasa terharu. Bersama masyarakat lainnya, mereka berlomba-lomba berselfi ria dengan Edy Rahmayadi dan Pj Hassanudin.

Undangan Sholat Eid bersama di halaman rumah Dinas itu sepertinya hanya ditujukan Hassanudin kepada Edy Rahmayadi. Tidak ada kepala daerah atau mantan kepala daerah lain hadir pada acara itu. Bahkan Walikota Bobby Nasution dan mantan Wakil Gubernur Musa Rajekshah alias Ijeck juga tidak diundang. Bobby dan Ijeck Sholat Eid di tempat yang lain.

Pj Hassanudin terlihat begitu memuliakan Edy Rahmayadi. Keduanya duduk bersama di barisan depan saat sholat berjamaah dan mendengarkan tausiah dari ustad. Tampak pula Sekda Arief S Trinugroho di barisan itu, selain para kepala dinas dan pejabat Eselon II Pemprovsu lainnya.

Sebelumnya muncul anggapan kalau hubungan keduanya sempat berjarak setelah Edy Rahmayadi memilih menjadi Ketua Tim Pemenangan Daerah (TPD) bagi pasangan Anies Baswedan-Muhaimin di Pilpres yang lalu. Sudah menjadi pandangan awam bahwa posisi sebagai TPD Anies-Muhaimin sama saja dengan mengambil sikap sebagai oposisi bagi pemerintah.

Siapapun tahu kalau Pemerintah Jokowi lebih mendukung pasangan Prabowo-Gibran di Pilpres yang lalu. Dukungan Pemerintah kepada Capres nomor 2 itu sudah pasti merupakan gambaran dukungan para kepala pemerintahan di semua daerah. Tidak terkecuali di Sumut.

Beruntung bagi Pj Hassanudin sebab pasangan Prabowo-Gibran meraih suara sangat dominan di Sumut pada Pilpres lalu sehingga posisinya sebagai Pj Gubernur masih aman.

Bandingkan dengan Pj Gubernur Aceh, Akhmad Marzuki yang di wilayahnya pasangan Anies-Muhaimin meraih kemenangan telak dari pasangan Prabowo-Gibran. Alhasil, presiden Jokowi melalui Menteri Dalam Negeri langsung memensiunkan Akhmad Marzuki dari jabatan Pj Gubernur Aceh. Padahal masa jabatan itu seharusnya masih berlaku sampai Juli 2024.

Hanya di Provinsi Sumbar saja Jokowi tidak mampu berbuat apa-apa. Meski di daerah itu pasangan Anies-Muhaimin juga menang, tapi posisi Malyeldi sebagai gubernur tidak tersentuh sebab ia merupakan gubernur definitif hasil Pilkada 2020 yang masa jabatannya baru akan berakhir Desember 2024. Kalau saja jabatan itu dipegang seorang penjabat (Pj) gubernur, sudah pasti akan bernasib sama dengan Aceh.

Dengan pemetaan politik seperti ini, tidak heran publik menganggap kalau posisi Pj Hassanudin pada dasarnya berseberangan dengan Edy Rahmayadi. Pj Hassanudin jelas berada di barisan pendukung pemerintah, sedangkan Edy tegas memilih posisi berseberangan.

Bukan tidak mungkin posisi yang berseberangan itu bakal terbawa-bawa pada saat berlangsung Pemlihan Gubernur Sumut pada November 2024.

Sebagai diketahui, Edy Rahmayadi sudah memastikan tampil kembali sebagai kontestan pada pesta demokrasi itu. Di sisi lain, kubu pro Pemerintah yang didukung barisan Golkar, Gerindra dan PAN juga sudah mempersiapkan kandidat lain. Mencuat kabar kalau figur yang akan diajukan kelompok itu adalah Bobby Nasution.

Kalau sosok Bobby yang maju, tidak bisa dibantah bahwa Edy Rahmayadi akan berhadapan dengan putra mahkota yang sarat dukungan dari atas. Kalau skenario ini yang berjalan, potensi kecurangan di Pilpres nanti sulit terbahtahkan. Bagaimana pun juga elemen kekuasaan sangat berpotensi dikerahkan untuk mendukung kemenangan bagi si putra mahkota.

Kenyataan ini bisa dilihat pada Pilkada Kota Medan tahun 2020 lalu di mana hampir semua kekuatan Pemerintah dikerahkan untuk memenangkan Bobby Nasution. Tim khusus dari Kantor Staf Presiden, BIN, dan Kemendagri sampai turun ke Medan untuk melakukan aksi di lapangan guna mendukung kemenangan bagi menantu Jokowi itu.

Praktik yang sama bukan tidak mungkin akan terjadi lagi manakala Bobby tampil sebagai calon gubernur di Pilgubsu mendatang. Dalam situasi itu, Pj Hassanudin sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah tentu tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau ia harus tunduk kepada komando. Karena itu besar kemungkinan jarak antara Pj Hassanudin dan Edy Rahmayadi akan semakin terbentang luas.

Tapi situasi yang tergambar saat hari pertama idul fitri ini membantah analisi itu. Sikap Pj Hassanudin yang secara khusus mengundang Edy Rahmayadi sholat eid berjamaah di halaman kantor Gubernur membuat suasana di antara keduanya sangat cair.

Menariknya lagi, Bobby Nasution dan Ijeck sama sekali tidak terlihat dalam barisan sholat eid itu. Hassanudin memang hanya mengundang Edy Rahmayadi, tidak yang lain.

Keakraban yang ditunjukkan kedua jenderal itu membuat suasana sholat eid penuh haru biru. Pandangan yang menganggap keduanya saling berseberangan secara politik, kini pudar sudah. Terutama tatkala Edy Rahmayadi menunjukkan rasa sayangnya kepada Pj Hassanudin dengan mencium kening juniornya itu.

Edy benar-benar mampu menunjukan bahwa ia adalah seorang kakak yang baik bagi adik yang menggantikan posisinya sebagai kepala pemerintahan di Sumut. Sama sekali terkesan tidak ada persaingan di antara mereka. Yang tampak adalah persahabatan yang akrab, berbagai analisis tentu saja muncul mengiringi suasana itu. Ada yang mengatakan momentum kebersamaan Edy dan Pj Hassanudin itu sebagai gambaran bahwa Pemerintah provinsi Sumut akan benar-benar netral pada Pilgubsu nanti. Ada pula yang menganggap kalau kebersamaan itu menjadi gambaran berakhirnya pengaruh kekuasaan Jokowi di pemerintahan.

Pengaruh Jokowi diyakini akan melemah di Pilkada nanti karena jabatannya sebagai presiden hanya sampai 20 Oktober. Sedangkan Pilkada berlangsung satu bulan kemudian. Artinya, harapan Bobby Nasution untuk mendapat dukungan dari kekuasaan akan menipis.

Bahkan di internal Golkar sendiri, dukungan terhadap Bobby Nasution telah mengundang perdebatan panjang. Track record-nya sebagai pengkhianat partai menjadi catatan bagi pengurus Golkar Sumut sehingga mereka menilai Bobby tidak layak didukung sebagai calon gubernur dari partai itu. Dukungan bagi ketua Golkar Sumut, Musa Rajekshah justru lebih menguat.

Kalau skenario ini yang berjalan, berarti persaingan Pilgubsu nanti tidak lagi fokus kepada Edy dan Bobby, tapi kepada Edy dan Ijeck. Jika hal ini yang terjadi, bukan tidak mungkin Pj Hassanudin dalam kapasitas sebagai Pj Gubernur akan bersikap netral karena pemaksaan bagi elemen negeri untuk berpihak kepada putra mahkota tidak akan ada lagi.

Bagi Edy Rahmayadi tentu saja ini sebuah kabar menggembirakan. Dengan demikian ia bisa bersaing pada Pilgubsu secara fair, tanpa campur tangan elemen kekuasaan.

Maka itu, sikap Edy Rahmayadi yang menunjukkan keakraban dengan Pj Hassanudin adalah sebuah gambaran kegembiraan itu. Mudah-mudahan keabrakan itu mengandung makna bahwa lembaga Pemerintah tidak akan campur tangan memenangkan salah satu kandidat di Pilgubsu nanti sehingga tidak ada aroma kebusukan di dalamnya. Jangan sampai terjadi seperti Pilkada Medan 2020 yang begitu busuk dan kental berbau oligarki. Semoga Pilgubsu 2024 berjalan luber, Asn dan semua elemen kekuasan harus netral.

(Ahmady)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan