Kajianberita.com
Beranda Headline Jokowi Punya Pengaruh Kuat di DPP Golkar, Bobby Nasution Tetap Berpeluang Singkirkan Ijeck

Jokowi Punya Pengaruh Kuat di DPP Golkar, Bobby Nasution Tetap Berpeluang Singkirkan Ijeck

Bobby Nasution bersama metuanya Presiden Joko Widodo

Baik Bobby Nasution maupun Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah sama-sama telah mengantongi rekomendasi dari DPP Golkar untuk maju pada Pemilihan Gubernur Sumut (Pilgubsu) November mendatang. Namun dari kedua nama itu, nantinya hanya dipilih satu. Dibanding Ijeck, Bobby Nasution disebut-sebut lebih berpeluang mengantongi dukungan dari Golkar.

Tanda-tanda menguatnya dukungan Golkar ke Bobby sudah terlihat tatkala ia diundang hadir pada acara pembekalangan calon kepala daerah yang diselenggarakan DPP Golkar pada 6 April lalu di Jakarta. Kala itu Bobby sempat berbincang dengan ketua umum Airlangga Hartarto. Secara pribadi Airlangga menegaskan dukungannya kepada Bobby untuk maju pada Pilgubsu.

Pernyataan Airlangga itu yang menjadi landasan sehingga Bobby berani berbicara kepada media bahwa ia siap untuk bersaing pada Pilgubsu 2024.

Tapi rupanya para pengurus Golkar Sumut mulai kepanasan dengan pernyataan Bobby itu. Mereka mengatakan bahwa belum pernah sama sekali nama Bobby disebutkan secara langsung oleh Ketua Umum Golkar untuk diajukan maju pada Pilgubsu.

“Secara terbuka ketua Umum belum pernah menyebutkan nama. Jadi tidak benar kalau Bobby langsung mengklaim bahwa ia yang akan diusung Partai Golkar maju pada Pilgubsu nanti,” tegas Sekretaris Golkar Sumut Dato’ Ilhamsyah.

Bersama rekan-rekannya pengurus Golkar Sumut, Ilhamsyah malah menegaskan kalau mereka tidak akan pernah mengusulkan Bobby untuk diusung pada Pilgubsu.

“Kami menilai Bobby belum layak bersaing di tingkat provinsi. Ia cocoknya main di Pilkada Kota Medan saja,” kata Ilhamsyah.

Sedangkan untuk tingkat Provinsi, Golkar Sumut memastikan bakal mengusulkan Musa Rajekshah alias Ijeck untuk diusung. Ilhamsyah menampik soal adanya pertemuan pribadi antara Airlangga dengan Bobby di Jakarta beberapa waktu lalu.

Alasan Ilhamsyah dan kawan-kawannyan mendukung Ijeck, sebab di bawah kepemimpinan Ijeck, Golkar Sumut berhasil menorehkan prestasi yang lebih baik. Terbukti jumlah perolehan kursi Golkar Sumut di DPR RI pada Pemilu 2024 lalu naik dari 4 kursi menjadi 8 kursi.

Peningkatan signifikan juga diperoleh Golkar di DPRD Sumut, dari 15 kursi pada pemilu 2019 menjadi 22 kursi pada Pemilu 2024 atau 22 persen. Dengan perolehan kursi sebanyak itu, Golkar Sumut merupakan partai yang bisa mengusung calon gubernur tanpa berkoalisi dengan partai lain.

Namun Bobby kabarnya tidak akan mau mengalah begitu saja. Ia terus berupaya melakukan lobi di tingkat pusat untuk menggeser nama Ijeck dalam daftar kandidat Gubsu.

Kabarnya Prabowo Subianto akan turut mem-back-up Bobby untuk bisa meraih impiannya itu. Kalau Bobby yang akan diusung Golkar, Gerindra akan siap memberi dukungan lebih maksimal.

Di sisi lain, Gerindra Sumut tidak bisa mengusung calon sendirian karena perolehan kursi mereka di DPRD Sumut hanya 13 kursi. Partai itu harus berkoalisi dengan partai lain untuk dapat mengusung calon sendiri mengingat syarat ambang batas partai untuk mengusung calon kepala daerah harus memperoleh kursi minimal 20 persen di parlemen.

Syarat ambang batas ini yang menjadi alasan sehingga Bobby bersikeras ingin mendapatkan dukungan Golkar.  Maka itu segala cara akan ia lakukan untuk menggeser Ijeck. Mertuanya Presiden Joko Widodo tentu tidak akan tinggal diam membiarkan menantunya berjuang sendirian.

Lagi pula, keberhasilan Ijeck menaikkan perolehan kursi Golkar di Sumut tidak bisa menjadi jaminan bahwa posisinya di Golkar akan lebih kuat. Pasalnya, dalam menentukan sosok calon kepala daerah, keputusan akhir ada di tangan Ketua Umum DPP Golkar, bukan di tangan DPD Golkar Sumut.

Pengalaman menunjukkan ada sejumlah Ketua Golkar di Sumut yang harus tersingkir dari daftar calon kepala daerah karena tidak mendapat dukungan dari pengurus Golkar di tingkat pusat.

Pada Pilkada 2008 misalnya DPP Golkar memutuskan untuk mengusung HM Ali Umri sebagai calon Gubernur, padahal kala itu yang sukses membesarkan Partai Golkar di Sumut adalah H Abdul Wahab Dalimunthe. Pada akhirnya kekisruhan ini membuat Abdul Wahab hengkang ke Partai Demokrat.

Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah alias Ijeck berpeluang disalip Bobby Nasution untuk maju pada Pilgubsu mendatang

Lalu pada Pemilu 2013, DPP Golkar memutuskan mengusung Chaeruman Harahap, mantan jaksa senior Kejaksaan Agung sebagai calon gubernur, menyingkirkan Syamsul Arifin dan Ajib Shah yang keduanya pernah menjabat ketua DPD Golkar Sumut. Padahal kiprah Chaeruman di Golkar Sumut kalah jauh dibanding kedua nama tadi.

Pada 2018, tatkala Golkar Sumut dipimpin oleh Ngogesa Sitepu, sempat mencuat usulan agar Ngogesa diusung partai itu maju sebagai Cagubsu berdampingan dengan T Erry Nuriadi. Namun pada akhirnya DPP Golkar menolak usulan itu dan memutuskan untuk mendukung Edy Rahmayadi.

Pengalaman sejarah ini menunjukkan bahwa Ketua Golkar Sumut tidak serta merta menjadi kandidat terkuat untuk diusung partai itu pada Pilgubsu mendatang. Keputusan akhir tetap ada di tangan DPP Golkar.

Maka itu, meski pengurus Golkar Sumut menunjukkan sikap keberatan atas keputusan Bobby Nasution yang ngogot ingin maju bersama Golkar pada Pilgubsu nanti, namun peluang menantu presiden itu menyingkirkan Ijeck tetap cukup besar. Kunci sukses Bobby sangat bergantung pendekatannya kepada elit Golkar di tingkat pusat.

Dengan dukungan Prabowo, Gibran dan Presiden Joko Widodo, bukan tidak mungkin aspirasi pengurus DPD Golkar Sumut untuk mengusung Ijeck akan dikebiri. Ijeck bisa saja hanya ditempatkan sebagai anggota DPR RI, sedangkan kursi calon Gubsu tetap diberikan kepada Bobby.

Jadi meski pengurus Golkar Sumut mulai kepanasan dengan kiprah politik Bobby, tetap saja peluang menantu presiden itu maju pada Pilgubsu nanti sangat besar. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan