Kajianberita.com
Beranda Headline Setelah Singkirkan Akhyar Dari PDIP, Akankah Bobby Nasution Singkirkan Ijeck Dari Golkar?

Setelah Singkirkan Akhyar Dari PDIP, Akankah Bobby Nasution Singkirkan Ijeck Dari Golkar?

Ketua umum DPP Golkar Airlangga Hartarto dan Bobby Nasution

Bobby Nasution bukanlah siapa-siapa kalau saja ia tidak menikah dengan Kahiyang Ayu, putri Presiden Joko Widodo. Ia tidak punya pengalaman sebelumnya di partai politik, tidak pula berstatus sebagai warga Medan. Tidak heran jika hanya secuil warga Medan yang kenal dengan anak muda ini.

Tapi pernikahan dengan Kahiyang Ayu telah membuka jalan baginya untuk menguasai lapak kekuasaan politik nasional. Betapa tidak, setelah pernikahan itu, Bobby langsung disulap bak seorang pemuda berprestasi, hebat dan cerdas. Jangan tanyakan apa prestasi dan kecerdasannya. Pokoknya seseorang yang mampu menikahi putri presiden pasti dianggap sosok yang istimewa.

Lihat saja kiprah Bobby Nasution saat ini. Ia yang awalnya tidak siapa-siapa, kini menjadi sosok berpengaruh di pentas nasional. Statusnya sebagai menantu presiden membuka jalan baginya untuk terlibat lobi tingkat tinggi demi menguasai jabatan strategis.

PDI Perjuangan adalah partai yang memberi dukungan awal bagi Bobby untuk berkiprah di arena politik. Partai ini yang menyusun skenario untuk mendaftarkan Bobby sebagai kadernya. Beberapa hari setelah terdaftar sebagai kader, PDIP resmi mengusung Bobby sebagai calon Walikota hingga akhirnya sukses meraih jabatan itu. Semua serba cepat dan serba instan.

Tidak sekedar menjabat Walikota Medan, Bobby juga berhasil menyingkirkan sosok Akhyar Nasution dari daftar kader PDIP karena sempat ngotot ingin mengalahkannya pada Pilkada Desember 2020.

Padahal Akhyar Nasution bukanlah sosok sembarangan di PDIP. Secara genetik, Akhyar berasal dari keluarga yang sangat mencintai Soekarno. Ayahnya Anwar Nasution pernah menjabat sebagai pengurus PNI di Medan Deli, partai besutan Soekarno yang pernah berjaya di masa Orde Lama.

Begitu cintanya kepada Soekarno, sampai-sampai rumah mereka di Pasar Bengkel, Brayan, pernah dijadikan sebagai markas berkumpulnya para pendukung Soekarno wilayah Medan Deli. Tidak heran jika Akhyar sejak kecil sangat dekat dengan ajaran Soekarno. Buku-buku tentang Soekarno ia lumat habis.

Saat kuliah di USU Medan pada 1988, Akhyar sebenarnya bisa saja bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) karena ia sejak kecil mendapat didikan agama cukup kuat di dalam keluarga. Namun ia tidak memilih kedua organisasi itu. Akhyar justru bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia  (GMNI), organisasi mahasiswa yang berbasis pada semangat Marhaenisme, ajaran yang dikembangkan Soekarno.

Pada 1996 saat pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto ingin menjauhkan pengaruh keluarga Soekarno di Partai Demokrasi Indonesia (PDI), gelombang aksi  massa muncul di seantero nusantara. Akhyar ikut dalam barisan yang aktif menggalang aksi di Kota Medan. Ayahnya Anwar Nasution mendukung penuh perjuangan anaknya itu. Semua demi kecintaan kepada keluarga Soekarno.

Bahkan pernah suatu malam Akhyar dan ayahnya melakukan aksi nekad dengan memasang baliho di kawasan Pasar Bengkel berisi tulisan yang mengutuk aksi penguasa Orde Baru. Beruntungnya, ulah anak dan ayah itu tidak sampai ketahuan. Kalau saja terciduk, keduanya pasti akan menjalani hukuman berat.

Sejarah membuktikan, people power yang bergejolak di seluruh Indonesia ketika itu berhasil meruntuhkan kekuasaan Orde Baru. Megawati yang berkali-kali mendapat tekanan dalam memimpin PDI pada akhirnya kembali mulus melanjutkan kepemimpinannya di partai itu.

Untuk membersihkan sejarah busuk Orde Baru di partainya, pada Februari 1999 Megawati mengubah nama PDI menjadi PDIP. Sejak itu Akhyar pun resmi berhikmad kepada partai tersebut sebagai ketua Dewan Pengurus Cabang di Medan Deli. Ia memimpin partai itu bak seorang gerilyawan perang yang aktif menyusup ke basis-basis massa.

Pada Pemilu 1999 Akhyar berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Medan. Sejak itu kiprahnya di PDIP semakin meningkat. Setelah menjadi pengurus cabang, Akhyar naik kelas menjadi pengurus Kota Medan dan selanjutnya berkiprah sebagai pengurus inti DPD PDIP Sumut.

Pengabdiannya di PDIP terus berkembang hingga akhirnya dipilih partai mendampingi Dzulmi Eldin sebagai wakil Walikota Medan pada 2016. Tatkala Dzulmi Eldin tersangkut kasus korupsi  di KPK, Akhyar kemudian didapuk sebagai Plt Walikota Medan. Menjelang Pilkada 2020, Akhyar bertekad ikut dalam kontestasi itu untuk bisa menduduki kursi walikota Medan.

Di sinilah tiba-tiba saja muncul sosok Bobby Nasution yang mendadak jago politik karena menikah dengan putri Presiden Joko Widodo. Status sebagai orang istana membuat posisi Bobby sangat kuat sehingga ia berhasil menyingkirkan Akhyar yang memiliki darah sangat kental sebagai kader PDIP.

Tidak sulit bagi Bobby menyingkirkan Akhyar sebab semua kekuatan elemen negara berada di belakangnya kala itu. Presiden Joko Widodo bahkan sampai menurunkan Tim Kemendagri, BIN dan dari Kantor Staf Presiden (KSP) guna mendukung Bobby di Pilkada Medan dengan menggunakan gerbong PDIP dan partai pendukung penguasa.

Akhyar yang akhirnya memutuskan pindah ke partai lain dinyatakan kalah pada Pilkada itu. Semua orang tahu kalau ada peran elemen kekuasaan yang bermain di balik Pemilu tersebut.

Akhyar hanya bisa pasrah. Pada dasarnya publik tahu bahwa ia tidak dikalahkan Bobby, tapi dikeroyok beramai-ramai oleh penguasa dan aparatur negara.

Sejak itu hubungan Akhyar dan PDIP sebagai partai yang pernah ia bela mati-matian di masa reformasi terputus sudah. PDIP rupanya lebih terpukau dengan Bobby Nasution karena statusnya sebagai keluarga istana meski dari sisi pengalaman ia kalah jauh dibanding Akhyar. Tak terbantahkan lagi, kejayaan Bobby di dunia politik merupakan buah dari kecerdasannya memanfaatkan pernikahan dengan Kahiyang.

Belakangan, bukan hanya Akhyar saja yang ditendang Bobby dari lingkup kekuasaan. PDIP sebagai partai utama yang menyokongnya terjun ke dunia politik juga dikhianati. PDIP hanya bisa menyesali diri. Mereka menyesal telah membawa Bobby melangkah ke arena kekuasaan. Lebih menyesal lagi karena telah memecat kader militan seperti Akhyar Nasution. Ibarat batu gunung, semua sudah lebur menjadi batu aspal.

Akankah Ijeck korban berikutnya

Sekarang pertarungan itu kembali berlanjut di Pilkada serentak 2024.  Bobby yang tidak mungkin lagi mendapat dukungan dari PDIP sangat berharap bisa menggunakan gerbong Partai Golkar untuk maju pada Pilkada November 2024.

Posisi Gubsu menjadi incaran Bobby karena ia merasa sudah pantas naik kelas. Apalagi mertuanya bakal melepaskan jabatan Presiden pada Oktober 2024 ini. Untuk melanjutkan cengkraman kekuasaan keluarga, Bobby merasa jabatan gubernur lebih ideal sebagai jalur menapak karir lebih meningkat di masa depan. Mumpung pengaruh kekuasaan mertua masih cukup kuat.

Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah alias Ijeck berpeluang disalip Bobby Nasution pada Pilgubsu mendatang.

Masalah muncul, sebab ada sosok Musa Rajekshah alias Ijeck di Golkar Sumut yang sejak awal sudah menunjukkan ambisi yang kuat untuk bersaing pada kontestasi Pilgubsu mendatang.

Ijeck tentu bukan sosok sembarangan di Golkar. Ia saat ini menjabat Ketua DPD Golkar Sumut yang di bawah kepemimpinannya Golkar Sumut meraih prestasi gemilang pada Pemilu 2024 lalu.

Di tingkat pusat Golkar Sumut berhasil merebut 8 kursi DPR RI, naik dua kali lipat dari Pemilu 2019. Sedangkan di tingkat provinsi, Golkar berhasil menguasai 22 kursi di DPRD Sumut, sekaligus mengunci posisi Ketua DPRD yang selama ini dikuasai oleh PDIP.

Capaian Golkar Sumut ini tentu membuat posisi Ijeck semakin berkilau di tingkat pusat. Tidak heran jika Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto cukup kagum dengan kinerjanya. Apalagi dari sisi finansial, Ijeck punya modal politik sangat kuat.

Tapi harus diingat, Airlangga tidak hanya kagum dengan prestasi Ijeck, ia juga bisa terpengaruh dengan kepentingan lainnya. Bobby berada pada tataran itu, sebab bagi Golkar, mendukung Bobby pada Pilgubsu berkaitan dengan diplomasi partai di tingkat nasional. Sudah pasti ada pengaruh Presiden Joko Widodo di sana. Bahkan presiden terpilih Prabowo Subianto berpeluang besar berada dalam barisan pendukung Bobby.

Jika itu yang menjadi pertimbangannya, Ijeck bisa saja akan diabaikan. Demi kepentingan nasional, bisa saja Ijeck disingkirkan dari persaingan menuju Pilgubsu. Persis seperti inilah yang menjadi alasan sehingga PDIP terpaksa menyingkirkan kader militannya Akhyar Nasution demi membuka ruang kepada Bobby maju di Pilkada Medan.

Jadi, meski Ijeck berhasil memimpin Golkar Sumut, bukan berarti peluangnya menjadi calon gubernur lebih besar ketimbang Bobby Nasution.

Jika Ijeck terus berusaha melawan, bukan tidak mungkin ia akan tersingkir secara menyedihkan dari partai beringan itu. Ijeck harus ingat, yang dilawan pada dasarnya bukan sosok Bobby, tapi kepentingan partai di tingkat pusat. Bisa saja akan ada bargaining position di tingkat nasional sehingga sebagai konsekuensinya Golkar harus memberi ruang bagi Bobby maju pada Pilgubsu.

Apalagi Bobby terlihat sangat ngotot maju pada Pilgubsu, bukan di Pilkada Kota Medan. Kondisi ini memaksa Ijeck harus siap mengatur strategi agar tidak dipermalukan.

Melalui jaringannya di Golkar Sumut, Ijeck sebenarnya sudah berupaya memberikan serangan awal. Sampai muncul ucapan kalau Bobby adalah ‘orang luar’ yang ingin mengusik harmonisasi internal Golkar.

Tapi Bobby sangat mudah menangkis semua itu mengingat dukungan baginya di tingkat pusat cukup kuat. Bisa dipastikan, dukungan ini yang akan menjadi andalannya menguasai Golkar.

Ijeck harus bersiap-siap saja, bukan tidak mungkin nasibnya akan sama seperti Akhyar Nasution, menjadi korban kepentingan keluarga Jokowi demi diplomasi di tingkat pusat. Kilauan prestasi Golkar di Sumut tidak bisa menjadi andalan. Harus diingat, dalam dunia politik, kepentingan lebih penting ketimbang prestasi.

Bisa-bisa Ijeck tidak hanya tersingkir dari persaingan menuju Pilgubsu. Jabatannya sebagai Ketua Golkar Sumut mungkin saja lenyap sebelum masanya. Maka itu bersiap-siaplah, akan ada korban baru dari jarahan politik keluarga Jokowi. *Ahmady

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan