Kajianberita.com
Beranda Headline Siapapun Lawan Bobby di Pilgubsu, Wajib Memiliki Divisi Khusus Anti Kecurangan

Siapapun Lawan Bobby di Pilgubsu, Wajib Memiliki Divisi Khusus Anti Kecurangan

Menantu dan Anak Jokowi: Bobby Nasution, Kaesang dan Gibran

Merebut dan mempertahankan kekuasaan adalah misi yang diemban keluarga Jokowi dalam mengaruhi dunia politik. Misi ini tetap akan dilakoni meski ia tidak lagi menjabat sebagai presiden mulai Oktober mendatang. Jokowi akan menggapai misi itu dengan cara mendukung ambisi politik anak dan menantunya.

Sebagian misi itu sudah tercapai. Putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka telah mulus melangkah sebagai Wakil Presiden masa bakti 2024-2029. Putra bungsunya, Kaesang telah bercokol sebagai salah satu ketua partai politik. Kini giliran menantunya Bobby Nasution yang dipersiapkan untuk merebut kursi Gubernur Sumut.

Jokowi disebut-sebut akan turun gunung demi berkampanye bagi Bobby pada Pilkada nanti. Saat kampanye berlangsung, ia sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Jadi sah-sah saja bagi Jokowi ikut berkampanye di pesta demokrasi itu.

Mungkin Jokowi ia tidak akan berteriak-teriak di panggung sebagaimana aksi juru kampanye yang meminta warga Sumut memilih Bobby. Cukup berkali-kali bolak-balik datang ke Medan untuk menampakkan betapa dirinya sangat peduli dengan anak dan menantunya. Kedatangan Jokowi sudah pasti akan dimaknai sebagai dukungan bagi kemenangan Bobby pada Pilgubsu nanti.

Sebagaimana gaya lugu yang selalu ditunjukkannya di depan publik, Jokowi pasti tidak akan memperlihatkan sikap antusias terhadap aksi politik anak dan menantunya. Ia akan lebih banyak tersenyum tanpa mau memberi komentar panjang lebar.

Namun di balik aksi lugu itu, berbagai manuver siap dijalankan.

Masih ingat tatkala Bobby Nasution bersaing pada Pilkada 2020 lalu? kala itu sempat mencuat kabar kalau Jokowi kurang mendukung langkah politik menantunya tersebut. Tapi semua itu adalah trik belaka agar tuduhan membangun dinasti keluarga tidak terlalu mencolok.

Faktanya, saat Pilkada berlangsung, berbagai tim dari pusat diturunkan ke Medan untuk menopang kemenangan Bobby. Ada tim dari Badan Intelijen Negara (BIN), Tim dari Kementerian Dalam Negeri, Tim dari Kantor Staf presiden (KSP) dan juga Tim khusus dari Polri. Komjen (Pol) Agus Andiranto adalah sosok yang banyak bermain di tingkat Polri.

Mencuat kabar kalau Agus pula yang memerintahkan Polda Sumut untuk memeriksa Akhyar Nasution, pesaing Bobby, dalam kasus korupsi MTQ Kota Medan 2020. Pemeriksaan itu semata-mata bertujuan untuk menjatuhkan moral Akhyar, sekaligus sebagai bahan bagi tim pemenangan Bobby untuk melemahkan musuh.

Padahal Akhyar sebagai Plh Walikota Medan sama sekali tidak tahu menahu soal korupsi itu. Lagi pula tidak pernah ada satu pun pengaduan yang masuk ke Polda Sumut terkait kasus korupsi MTQ Medan 2020. Audit BPK juga belum dilakukan.

Tapi karena Polri memang puya kewenangan memeriksa orang, ada yang kemudian memanipulasi kewenangan itu untuk memaksa Akhyar menjalani pemeriksaan. Inilah kewenangan yang disalahgunakan untuk kepentingan politik.

Jika landasannya adalah logika hukum, semestinya Akhyar tidak layak diperiksa dalam kasus korupsi itu. Polda Sumut seharusnya memanggil Sekda Kota Medan, Wiriya Alrahman, selaku Pengelola Anggaran. Sedangkan Akhyar sebagai Plh Walikota sama sekali tidak punya urusan dengan pengelolaan keuangan.

Tapi tentu saja Polda Sumut tidak akan memeriksa Wiriya Alrahman, sebab Sekda ini merupakan ipar dari Komjen Agus Andrianto. Wiriya justru termasuk salah satu pejabat yang ikut bermain mendukung kemenangan Bobby di Pilkada yang lalu. Wiriya bahu membahu dengan Benny Sinomba Siregar, paman Bobby yang kala itu menjabat salah satu staf Dispenda Kota Medan.

Pada akhirnya secara tersirat Polda Sumut mengaku bahwa MTQ Medan 2020 sama sekali tidak terindikasi korupsi. Terbukti, setelah Pilkada berakhir, Akhyar tidak pernah lagi diperiksa. Kasus itu bagaikan hilang ditelan kuntilanak.

Meski tidak berujung, setidaknya misi Polda Sumut merusak citra Akhyar sudah berhasil. Tuduhan korupsi itu memang sempat menjatuhkan moral Akhyar karena terus menerus menjadi bahan bagi tim kampanye Bobby dalam menjatuhkan lawan.

Itulah politik. Ketika elemen negara turut bermain, segala rekayasa bisa dimunculkan untuk membangun opini di masyarakat. Itu sebabnya Undang-undang mengharamkan elemen negara berpihak pada Pemilu.

Tapi larangan itu lebih bersifat teori. Dalam praktinya, tidak ada yang netral. Semuanya turut bermain karena mereka punya kepentingan untuk melanggengkan kekuasaan. Di masa Pemerintahan Orde Baru bisa dikatakan semua elemen negara adalah bagian dari Golkar. Manupulasi itu tampak sangat vulgar.

Baru di masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhohono, netralitas negara mulai terpelihara.

Sayangnya di masa Jokowi, kebusukan itu kembali terulang. Memang tidak sevulgar masa Orde Baru, tapi permainan itu tetap mudah sekali dibaca. Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) sudah mengakui adanya keterlibatan penguasa dalam mempengaruhi hasil Pemilu di masa Pemerintahan Jokowi ini.

Pasca lengsernya Jokowi, akankah kebusukan ini masih berjalan? Saya harus mengatakan, ya dan pasti.

Ya, karena para pemimpin yang berkuasa nanti masih dibawah bayang-bayang pengaruh Jokowi. Bahkan sejak awal Prabowo Subianto selaku presiden terpilih mengaku kalau ia adalah pemimpin yang melanjutkan kebijakan Jokowi.

Pasti, sebab para penguasa yang duduk di Pemerintahan adalah orang-orang pilihan Jokowi. Mereka tersebar di lembaga dan semua daerah. Unsur balas budi tidak bisa dihindarkan.

Presiden Joko Widodo akan mengakhiri masa jabatan pada Oktober mendatang.

Dengan dasar itu saya berkeyakinan misi Jokowi memperkuat dinasti politiknya tetap berjalan pasca Oktober 2024. Dalam hal ini Bobby Nasution layak menjadi perhatian karena dialah bagian dari dinasti keluarga yang bertarung merebut tahta. Bobby bakal bersaing merebut kursi Gubernur Sumut pada November mendatang. Bobby akan maju dengan mengandalkan dukungan Golkar.

Lantas bagaimana dengan Ketua Golkar Sumut, Musa Rajekshah alias Ijeck yang sejak lama mempersiapkan diri menghadapi perebutan kekuasaan itu?

Di mata Jokowi, Ijeck tidak ubahnya sebutir debu yang sangat mudah disingkirkan. Kalau Bobby tetap bersikeras maju pada Pilgubsu 2024, Ijeck tidak punya pilihan lain, harus mundur. Jika ngotot bertahan, ia pasti bakal digusur dari Golkar. Bisa-bisa posisinya sebagai anggota DPR RI juga akan di-recall.

Ijeck tentu paham ini. Kalaupun Ia saat ini terlihat ngotot mengaku akan maju pada Pilgubsu, semata-mata itu hanyalah untuk meningkatkan bargaining position dengan penguasa. Ijeck tentunya tidak hanya berharap duduk manis sebagai anggota DPR RI, tapi juga bisa mendapatkan jaminan di posisi yang lebih mentereng. Sehingga kalaupun batal mencalonkan diri sebagai gubernur, Ijeck tidak menanggung malu. Ada posisi bergengsi lain yang ia dapatkan.

Jika Bobby maju pada Pilgubsu nanti, maka segala upaya pasti akan dilakukan penguasa untuk memenangkannya. Apakah akan ada kecurangan? Sudah pasti.

Jangankan di saat Pilkada nanti, sekarang saja kecurangan itu sudah tampak. Oleh sebab itu, siapapun yang menjadi kompetitor Bobby di Pilgubsu itu, divisi khusus Tim Anti Kecurangan Pilkada harus disiapkan. Divisi ini harus diisi orang-orang yang punya kemampuan melakukan investigasi, tajam dalam analisis, dan memiliki keahlian dalam aksi undercover.

Jangan percaya kepada Bawaslu, sebab lembaga itu juga bagian dari elemen negara yang tunduk kepada penguasa.

Ingat proses sidang kasus perselisihan Pemilu di MK beberapa waktu lalu. Majelis Hakim pada dasarnya mengakui adanya kecurangan tersebut. Hanya saja proses pembuktiannya kurang lengkap sehingga unsur terstruktur, sistematis dan masif  kurang terbukti.

Tim Anti Kecurangan kandidat nantinya harus bertugas mempersiapkan sedari awal saksi dan alat bukti yang akurat, sehingga rencana busuk untuk memenangkan si putra mahkota dapat diantisipasi. Saya berkeyakinan, kalau saja skenario kecurangan tidak berjalan, peluang Bobby untuk menang akan sangat kecil.

Bobby bukanlah siapa-siapa bagi warga Sumut. Kekuatannya hanya bergantung pada status sebagai menantu. Ia tidak mengakar ke bawah. Lebih mengandalkan dukungan dari atas.***

Ahmady

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan