Kajianberita.com
Beranda Headline Rebutan Kursi Pilgubsu: Hubungan Ijeck dan Bobby Nasution Mulai Renggang, Golkar Sumut Ikut Terbelah

Rebutan Kursi Pilgubsu: Hubungan Ijeck dan Bobby Nasution Mulai Renggang, Golkar Sumut Ikut Terbelah

Musa Rajekshah alias Ijeck, ketua Golkar Sumut yang terancam tidak bisa ikut Pilgubsu karena kalah saing dengan Bobby Nasution

Perjuangan Musa Rajekshah alias IJeck untuk meningkatkan citra Partai Golkar di Sumut telah menuai hasil gemilang. Namun keberhasilan itu ternoda karena  adanya sosok Bobby Nasution yang ingin memanfaatkan keberhasilan partai itu. Bobby kabarnya akan menggandeng Golkar untuk maju pada Pilgubsu mendatang. Sedangkan Ijeck yang telah lama mempersiapkan diri untuk mengikuti Pilkada dipastikan bakal tersingkir.

Situasi itu yang membuat pengurus Golkar Sumut yang pro Ijeck merasa sangat kecewa. Mereka tidak menyangka, kerja keras Ijeck sebagai ketua partai yang telah berhasil membesarkan Golkar di Sumut justru dinikmati oleh orang lain. Orang itu adalah Bobby Nasution, menantu Presiden Joko Widodo yang saat ini tidak memiliki partai setelah dipecat dari PDIP.

Ijeck kabarnya dipaksa duduk manis sebagai anggota DPR RI dengan jabatan sebagai salah satu ketua komisi. Dengan kata lain, Ijeck tidak lagi punya kesempatan ikut bersaing pada Pilgubsu November mendatang karena jatah Golkar untuk mendukung satu kandidat telah diberikan kepada Bobby. Hal ini yang membuat hubungan Ijeck dan Bobby mulai merenggang.

Kabarnya Bobby sudah beberapa kali ingin bertemu Ijeck, tapi Ijeck selalu menolak. Terkesan kalau Ijeck tidak rela disingkirkan dari partai yang telah dibesarkannya. Namun karena kuatnya tekanan politik dari berbagai arah, Ijeck tidak kuasa melawan. Ia hanya bisa mengeluh, menyesalkan pengkhiatan yang telah dirasakannya.

Kepada orang-orang dekatnya, Ijeck sempat mengatakan kalau ia akan melawan. Ia tetap berusaha untuk merebut jatah satu calon Gubernur Sumut dari Golkar untuk bersaing pada Pilkada nanti.  Namun tetap ada saja hal yang menyanderanya.

Salah seorang pengurus Golkar Sumut menyebutkan kalau Ijeck punya berbagai masalah di dalam bisnisnya. Salah satunya soal HGU areal perkebunannya yang bakal habis.

Kalau Ijeck ngotot untuk melawan Bobby, bisa-bisa izin HGU itu tidak akan diperpanjang Pemerintah. Sebaliknya kalau ia pasrah dan membiarkan Bobby melaju di Pilgubsu dengan menggunakan partai Golkar, HGU akan diperpanjang selama 40 tahun ke depan.

Sebagaimana diketahui, keluarga Ijeck dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di sektor perkebuhan sawit. Areal perkebunan mereka mencapai ribuan hektar yang tersebar di berbagai wilayah di Sumut, termasuk di Langkat, Labuhanbatu dan Tabagsel.

Pasca wafatnya orangtuanya, Anif Shah, Ijeck sangat berperan penting dalam mengelola perkebunan itu bersama saudaranya yang lain.

Saat ayahnya masih hidup, pengelolaan usaha perkebunan itu berjalan dengan baik mengingat hubungan Anif Shah dengan sejumlah petinggi di Jakarta sangat dekat. Apalagi ada sosok pamannya Kodrat Shah, tokoh pemuda Sumut yang turut mendukung usaha itu.

Namun keduanya sosok itu kini ini telah tiada. Anif Shah wafat pada Agustus 2021, sedangkan Kodrat Shah pada November 2023. Sepeninggalan kedua tokoh itu praktis membuat Ijeck menjadi sandaran utama melanjutkan bisnis keluarganya.

Masalahnya, Ijeck tidak seperti ayah dan pamannya yang memiliki jaringan luas di Jakarta. Ia lebih banyak bermain di tingkat Provinsi. Hal ini yang menjadi salah satu dilema bagi dirinya. Di saat bersamaan, izin hak guna usaha (HGU) sejumlah areal perkebunannya akan berakhir dalam waktu dekat sehingga harus diperpanjang. Persetujuan pemerintah sangat dibutuhkan untuk melanjutkan usaha itu.

Kondisi ini yang membuat Ijeck tidak kuasa untuk bersikap konfrontasi dengan keinginan penguasa. Kalaupun Jokowi nantinya selesai menjabat, pengaruhnya di Pemerintahan masih sangat kuat mengingat wakil Prabowo Subianto adalah Gibran Rakabuming, putra sulung Jokowi.

Situasi ini yang membuat Ijeck tidak kuasa melawan keinginan Bobby untuk maju pada Pilgubsu mendatang dengan menggunakan partai Golkar. Jika Ijeck tetap ngotot maju, bukan hanya tekanan dari penguasa yang ia dapatkan, tapi aktivitas bisnis keluarga mereka juga akan terganggu. Makanya ia hanya bisa pasrah.

Salah seorang teman dekat Ijeck mengaku kalau sahabatnya itu hanya bisa memendam rasa dongkol terhadap dilema politik yang menyenderanya. Sikap kecewa itu sangat wajar, sebab jauh hari Ijeck sudah mempersiapkan diri untuk maju pada Pilgubsu mendatang untuk menantang Edy Rahmayadi.

Bobby Nasution bersama ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto.

Ijeck sangat yakin bisa menang karena ia memiliki jaringan partai yang besar. Ijeck juga selama beberapa tahun ini aktif melakukan kunjungan ke daerah untuk mendapatkan dukungan politik.

Pada Pemilu Legislatif yang lalu, Ijeck  juga sudah berjuang habis-habisan untuk meningkatkan suara Golkar di Sumut. Sudah cukup banyak biaya yang dikeluarkannya untuk mendukung perjuangan itu.

“Setelah semuanya berhasil, eh, yang menikmatinya justru Bobby Nasution. Wajar dong kalau Ijeck kesal,” kata sumber itu.

Hal itu yang membuat Ijeck tidak lagi memiliki komunikasi yang akrab dengan Bobby. Di mata Ijeck, Bobby sangat licik memanfaatkan kondisi politik saat ini untuk bisa merebut jabatan Gubernur. Sampai-sampai Bobby tega menyingkirkanya.

Kabarnya,  Bobby tidak hanya berambisi untuk maju pada Pilgubsu dengan menggunakan perahu Golkar, tapi juga tertarik untuk mengambil alih kepengurusan di partai itu.

Padahal sebagai Ketua Golkar Sumut, Ijeck tergolong sangat sukses memimpin partai itu. Terbukti, pada Pemilu 2024, Golkar Sumut berhasil meraih 8 kursi di DPR RI, meningkat dua kali lipat dari Pemilu 2019. Sementara di tingkat DPRD Sumut, Golkar meraih 22 kursi sekaligus menjadi pemenang Pemilu.

Hanya di masa kepemimpinan Ijeck, Golkar mampu mengalahkan dominasi PDIP yang selama 15 tahun terakhir menguasai DPRD Sumut.

Namun prestasi gemilang Ijeck memimpin Golkar Sumut tidak akan bisa memanfaatkannya untuk maju pada Pilgubsu mendatang. Sebab bagaimanapun juga, menantu Jokowi, Bobby Nasution sangat berambisi untuk merebut jabatan Gubernur Sumut periode 2024-2029. Untuk mendapatkan jabatan itu, Bobby sangat bertumpu pada kekuatan Golkar.

Jika Golkar sudah menyatakan dukungannya kepada Bobby, partai lain, seperti Gerindra dan PAN akan menyusul. Tanpa Golkar, suara Gerindra dan PAN belum mencukup untuk mendukung seorang calon gubernur di Sumut.

Pengurus inti Golkar Sumut pada dasarnya sangat berpihak kepada Ijeck. Mereka merasa Ijeck lebih pantas maju sebagai calon  gubernur ketimbang Bobby Nasution. Tapi tidak bisa dibantah, tetap saja ada suara miring di internal partai yang justru berseberangan dengan Ijeck.

Ahmad Doli Kurnia, anggota DPR RI asal Sumut yang juga Wakil Ketua Umum Pemenangan Pemilu DPP Golkar.

Kabarnya suara miring itu dipimpin oleh Ahmad Doli Kurnia Tanjung yang merupakan anggota DPR RI dari Golkar Sumut. Ahmad Doli Kurnia saat ini menjabat Wakil Ketua Umum Pemenangan Pemilu DPP Golkar yang memiliki kedekatan khusus dengan Ketua Umum Airlangga Hartarto. Sosok ini yang disebut-sebut aktif menyuarakan kepentingan Bobby di tingkat pusat.

Selain itu, tentu saja tekanan dari Jokowi dan Prabowo kepada Airlangga Hartarto sangat berperan untuk mendukung Bobby maju di Pilgubsu. Apa boleh buat, Ijeck pun hanya bisa memendam kecewa.

Namun kalau nanti Bobby tetap maju di Pilgubsu, sumber Kajianberita.com menyebutkan besar kemungkinan motor Golkar tidak akan aktif memberi dukungan. ***

Fazri Affandi

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan