Kajianberita.com
Beranda Headline Anggota Densus 88 Ditangkap, Tapi Polri Berupaya Menutup Kasusnya Demi Melindungi Jenderal B

Anggota Densus 88 Ditangkap, Tapi Polri Berupaya Menutup Kasusnya Demi Melindungi Jenderal B

Kadiv Humas Polri Irjen Shandi Nugroho (Foto: Rizky AP/VOI)

Aksi penguntitan yang dilakukan anggota Densus 88 terhadap Jaksa Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Ferdie Ardiansyah benar-benar nyata. Bahkan pengawal Jampidsus yang merupakan personal TNI telah menangkap anggota Densus 88 itu. Si penguntit juga sudah diperiksa oleh pijak Kejaksaan Agung. Namun Mabes Polri masih berupaya menutup kasus itu.

Diketahui anggota Densus 88 itu bernama Brigadir Polisi Dua (Bripda) Iqbal Mustofa. Mabes Polri membenarkan kalau Iqbal Mustofa sempat diperiksa di Kejaksaan Agung.

“Memang benar ada anggota yang diamankan ke sana (Kejagung) dan identitasnya benar,” kata  Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Sandi Nugroho.

Polri juga mengakui kalau Iqbal ditangkap  karena menguntit Jampidsus, Ferdie Ardiansyah. Penangkapan itu dilakukan pengawal Jampidsus saat ada acara  makan malam di wilayah Cipete, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Dikabarkan, saat itu anggota Densus 88 tengah mengarahkan alat yang diduga perekam ke ruangan tempat Febrie berada. Saat hendak meninggalkan restoran dengan berjalan setengah lari, satu di antara mereka langsung dirangkul oleh polisi militer dan satu yang lain lolos.

Pengawal Jampidsus dan tim Kejaksanaan Agung telah meminta keterangan lebih lanjut dari Iqbal soal aksi penguntitan itu. Namun hasil pemeriksaan itu masih dirahasiakan. Sesuai peraturan, Iqbal kemudian diserahkan ke Mabes Polri.

Pihak Mabes Polri mengakui adanya penguntitan itu. Tapi mereka berusaha menutup-nutupi dan meminta agar tidak dibesar-besarkan. Sejauh ini, kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Sandi Nugroho, antara Polri dan Kejagung tidak mempunyai persoalan.

“Beliau (Kapolri) menyampaikan bahwa antara Kepolisian dan Jaksa baik-baik saja. Bahkan Bapak Jaksa Agung mengungkapkan tidak ada masalah, baik-baik saja. Bapak Menkopolhukam juga menyampaikan polisi dan jaksa adem ayem,” kata Sandi.

Menurut Sandi, apabila isu keretakan antara Polri dan Kejagung terus digulirkan, maka hanya akan menjadi ajang adu domba. Sehingga, dia berharap semua pihak membantu agar tidak terjadi hal itu demi menjaga stabilitas keamanan nasional.

Berdasarkan unggahan akun X @dhemit_is_back, Iqbal dijelaskan sebagai anggota Densus 88 AT yang lahir di Tegal, Jawa Tengah pada 1999. Dia berstatus belum menikah dan diduga menyamar sebagai salah satu karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjalankan misi dalam membuntuti Jampidsus.

Setelah terkuak, warganet pun ramai-ramai berkomentar. Beberapa di antaranya ingin Polri membuka atasan yang memerintah Iqbal.

“Dia itu cuma tumbal. Dia juga baru masuk jadi polisi, tapi kasian langsung ditumbalin. Kawal terus siapa otaknya,” kata @mbahnya_UN.

“Anggota Polri punya kartu pegawai BUMN aja udah aneh. Ini beneran atau sekedar ngarang? Bisa pencemaran nama baik ini. Setau saya anggota BIN (Badan Intelijen Negara) yang punya banyak kartu identitas, kalau polisi kok aneh ya,” tulis @kebo_ijo_reborn.

“Mohon maaf, kalau yang begini biasanya lagi penugasan. Kalau lulus mungkin naik pangkat. Kalau nggak, maka karirnya akan meredup,” ucap @reZaXila.

“Inilah sisi gelap, kelemahan dari dunia ranah rahasia negara, rawan disusupi kriminal bermental oknum, yang tentu di dalam menyalahgunakan kewenangan jabatan demi kepentingan pribadi, conflict of interest jelas. Perlu ditelusuri sampai kepada si pemberi perintah,” ujar @nntweetnn.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah

Kasus Mega Korupsi Timah

Langkah Polri yang menutup-nutupi penguntitan Jampidsus itu meyakinkan banyak orang bahwa kasus itu terkait dengan upaya Kejaksaan Agung dalam memeriksa kasus mega Korupsi tata niaga timah yang merugikan negara hingga Rp 300 triliun. Kasus korupsi ini telah menyerat 22 orang tersangka, termasuk pejabat di Kementerian.

Ada pula sejumlah kalangan pengusaha terlibat dalam korupsi ini, termasuk suara artis Sandra Dewi, Harvey Moeis.

Dari pemeriksaan lanjutan yang dilakukan Kejaksaan Agung terungkap ada seorang jenderal purnawirawan yang masih aktif  terlibat dalam mengatur tata niaga timah ini. Jenderal itu disebut-sebut berinisial B yang masih tercatat sebagai pemimpin di lembaga pemerintahan. Seorang anaknya yang merupakan anggota DPR RI  juga sempat disebut terlibat.

Jenderal itu diyakini masih memiliki pengaruh di lingkungan Polri, termasuk dalam mengendalikan pasukan anti terror, Densus 88. Oleh karena itu, mencuat tuduhan kalau Jenderal B itulah yang memerintahkan Bripda Iqbal untuk menguntit Jampidsus selaku pihak yang menangani kasus mega korupsi ini.

Penguntitan itu bertujuan sebagai bentuk terror agar kasus korupsi timah jangan sampai menyebut keterlibatan jenderal B tersebut.

Jaksa Agung ST Burhanuddin telah memastikan bahwa penguntitan itu benar adanya. Faktanya sudah ada anggota Densus 88 yang ditangkap. Bahkan sudah diperiksa di Kejaksaan Agung.  Namun fakta ini berupaya ditutup-tutupi Mabes Polri.

Mereka berdalh, kalau ada yang mau mengungkap masalah ini, berarti mau mengadu domba antara kejaksaan Agung dan Polri. Padahal kasus ini sama sekali tidak terkait dengan institusi. Persoalannya justru terkait dengan seorang jenderal polisi yang masih punya jabatan penting sampai saat ini.  Mabes Polri terkesan  berupaya untuk menutupi keterlibatan jenderal polisi itu.

Kasus ini menjadi Gambaran betapa busuknya sistem pemerintahan di bawah kepemimpinan Presdien Joko Widodo. Bisa jadi Mabes Polri menutupn kasus ini, sebab ada pejabat negara lain yang akan terseret. Mungkin saja pimpin negeri ini terlibat di dalamnya. Busuk sekali..! (faz)

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan