Kajianberita.com
Beranda Headline Jika Penguasa Tidak Campur Tangan, Edy Rahmayadi Akan Mudah Kalahkan Bobby Nasution

Jika Penguasa Tidak Campur Tangan, Edy Rahmayadi Akan Mudah Kalahkan Bobby Nasution

Edy Rahmayadi dan Bobby Nasution

Masyarakat Sumut sudah sangat muak dengan rekayasa politik yang terjadi di negeri ini. Sampai-sampai seorang anak muda yang masih ‘kacangan dalam politik’ bisa terpilih sebagai kepala daerah. Asam Sulfat bisa jadi wakil presiden dan seorang anak yang masih bau kencur bisa jadi manager di BUMN.

Rekayasa itu sudah tampak sejak Pilkada Kota Medan 2020 di mana Bobby Nasution yang awalnya tidak dikenal warga Medan, berhasil disulap sebagai Walikota. Bobby tampil di ranah politik bermodal status sebagai menantu presiden setelah ia menikah dengan Kahiyang Ayu, Putri Jokowi.

Dengan status sebagai menantu presiden, tak heran jika campur tangan penguasa sangat menonjol dalam mendongkrak menantu presiden itu.

Setelah menjabat Walikota selama sekitar 4 tahun, Bobby rupanya merasa belum puas. Ia masih ingin lanjut menduduki kekuasaan yang lebih tinggi lagi. Pada Pilkada serentak 2024 mendatang, ia akan bersaing merebut jabatan Gubernur Sumut.

Bobby tentu sudah mendapat restu dari mertuanya untuk bersaing di Pilkada itu. Sama seperti Pilkada Medan, seluruh kekuatan negara berpotensi dimanfaatkan untuk memenangkan anak muda itu.

Dengan majunya Bobby, potensi kecurangan pada Pilgubsu 2024 berpeluang besar terjadi. Mata seluruh Indonesia layak diarahkan ke Provinsi ini karena ada menantu presiden yang bersaing di sini.

Berbagai rekayasa bisa saja muncul untuk memenangkan Bobby. Bahkan sekarang saja pun sudah terlihat jelas adanya keberpihakan para penjabat (Pj) kepala daerah dalam mendukung kemenangan Bobby. Keberpihakan itu sangat vulgar. Seakan kepala daerah itu sama sekali tidak lagi punya rasa malu.

Mereka tidak takut dituntut melakukan pelanggaran hukum, sebab hukum adalah milik penguasa. Selagi bisa menyenangkan pihak penguasa, kepala daerah itu tidak akan mundur sedikit pun untuk melakukan kecurangan.

Oleh karena itu, siapa pun yang menjadi pesaing Bobby Nasution pada Pilgubsu nanti, semestinya antisipasi terhadap kecurangan harus dilakukan sejak dini. Potensi kecurangan tidak hanya dilakukan aparat negara, bahkan juga kepala negara. Selayaknya masyarakat harus terlibat aktif dalam memantau kecurangan itu.

Maka itu sejak dini harus dilakukan upaya untuk mempersempit ruang gerak permainan curang pada Pilgubsu nanti. Untuk mengantisipasi kecurangan ini, rakyat harus bergerak aktif. Terutama lembaga pemantauan pemilu harus digerakkan di setiap sudut wilayah.

Para politisi PDIP yang dulunya sempat mendukung Bobby maju di Pilkada Kota Medan sudah mengingatkan perlunya upaya untuk mengantisipasi campur tangan penguasa pada Pilgubsu nanti. Antisipasi perlu dilakukan sebab ada birahi yang kuat dari penguasa untuk menempatkan Bobby sebagai gubernur. Mereka akan melakukan segala cara untuk mencapai keinginan itu.

PDIP sebagai partai besar di Sumut akan berupaya menghadang nafsu penguasa itu dengan mendukung calon yang dianggap jauh lebih mumpuni dibanding Bobby Nasution. Sejauh ini PDIP belum menyebutkan calon gubernur yang mereka unggulkan.

Namun dalam sidang resmi DPRD Sumut, Fraksi PDIP (F-PDIP) DPRD Sumut terus terang mengatakan bahwa mereka menilai Edy Rahmayadi jauh lebih pantas sebagai gubernur ketimbang Bobby Nasution. Tanpa ragu sedikitpun, PDIP berharap Edy Rahmayadi bisa kembali terpilih Gubernur Sumatera Utara masa bakti 2024-2029.

“Kami berharap bahwa pada periode selanjutnya dipimpin kembali oleh saudara Edy Rahmayadi untuk menuntaskan semua program yang belum dituntaskan,” ungkapnya.

Hal itu disampaikan Delpin Barus, perwakilan F-PDIP saat membacakan pandangan di Rapat Paripurna terkait laporan keterangan pertanggungjawaban Pj Gubsu Hassanudin akhir tahun anggaran 2023. Adapun Bobby Nasution yang juga akan ikut pada kontestasi Pilgubsu nanti dianggap tidak punya kapasitas untuk menduduki jabatan gubernur.

“Hanya bermodal sebagai menantu presiden tanpa kualitas kerja, tentu saja tidak pantas untuk merebut jabatan gubernur,” ujar Delpin Barus.

Delpin Barus berkeyakinan, kalau proses Pilgubsu nanti berlangsung demokratis, tidak akan sulit bagi Edy Rahmayadi untuk keluar sebagai pemenang. Apalagi ia sudah cukup dikenal masyarakat.

Edy juga seorang pemimpin petarung yang berjuang dari nol. Bukan anak manja yang dibesarkan oleh dukungan keluarga. Berbeda terbalik dengan Bobby Nasution yang tampil ke permukaan hanya setelah menikah dengan putri presiden. Tanpa adanya pernikahan itu, Bobby pasti tidak dikenal masyarakat Medan apalagi Sumatera Utara.

Prestasi Bobby juga sama sekali tidak ada yang Istimewa. Selama memimpin Kota Medan, tidak ada programnya yang menonjol. Bahkan kondisi Kota Medan kian parah. Banjir terus terjadi manakala hujan mengguyur kota ini. Lapangan Merdeka yang janjinya akan direvitalisasi, justru kian hancur berantakan.

Pemko Medan di bawah kepemimpinan Bobby kerap mengandalkan pembangunan Jalan Ahmad Yani di media sosial, tapi mereka selalu tampilkan foto lokasi itu di saat malam hari. Foto di siang hari tidak berani mereka tampilkan karena suasana di kawasan itu selalu macet akibat jalan yang dipersempit.

Belum lagi proyek lampu pocong yang gagal, pembangunan Islamic Center yang tidak selesai-selesai sampai penghujung 2024 dan lainnya. Kebijakan parkir juga tidak jelas. Janjinya untuk menerapkan sistem e-parking hanya pencitraan semata. Sekarang ini nyaris tidak ada kawasan parkir di Medan yang menjalankan kebijakan itu.

Dengan sejumlah kegagalan itu, PDIP berkeyakinan kalau Edy Rahmayadi akan mudah mengalahkan Bobby pada Pilgubsu nanti, asal tidak ada campur tangan penguasa.

Meski demikian, belum ada kepastikan kalau PDIP akan mendukung majunya Edy Rahmayadi pada Pilgubsu nanti. Tapi setidaknya tanda-tanda kearah itu sudah semakin nyata. Bukan tidak mungkin Edy akan dirangkul masuk sebagai kader PDIP sebelum dicalonkan sebagai kandidat gubernur. (*)

Fazri

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan