Kajianberita.com
Beranda Headline Beri Motivasi Kepada Mahasiswa Merdeka, Edy Rahmayadi Kritik Bau Busuk Dinasti Politik

Beri Motivasi Kepada Mahasiswa Merdeka, Edy Rahmayadi Kritik Bau Busuk Dinasti Politik

Edy Rahmayadi saat memberi motivasi kepada puluhan mahasiswa yang berkunjung ke rumahnya di Desa Panah, Deli Tua, Deli Serdang, Sumatera Utara, Sabtu (8/6/2024).

Sosok Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi masih mengundang daya tarik bagi para anak muda yang ingin belajar tentang kepemimpinan. Terbukti, Sabtu (8/6/2024) puluhan mahasiswa yang terlibat dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka USU mendatangi rumahnya di Desa Pamah, Deli Tua, Deli Serdang, Sumatera Utara. Mereka datang untuk mendengarkan motivasi tentang leadership dari  mantan Pangkostrad itu.

Edy pun menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita. Ia memberi motivasi kepada para mahasiswa itu agar belajar keras pantang menyerah. Satu hal yang sangat penting, Edy meminta para mahasiswa menjauh dari budaya KKN, nepostime dan dinasti politik.

Edy Rahmayadi lantas menceritakan sekilas pengalamannya saat mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai Gubernur Sumatera Utara periode 2018-2023 hasil pilihan rakyat. Dalam konteks memimpin Sumut selama 5 tahun tersebut, Edy menegaskan sikapnya yang menolak segala bentuk praktik nepotisme.

“Sebab saya memiliki rasa cinta, kasih sayang dan kesetiaan untuk Sumut. Saya menganut prinsip apa yang dipelajari, dikuasai dan diyakini sesuatu hal yang baik, maka itulah yang dilaksanakan,” katanya.

Ia sama sekali tidak pernah memberi kesempatan kepada keluarganya terlibat campur tangan urusan Pemerintahan.

“Tidak ada nepotisme dalam kamus saya,” ujar Edy Rahmayadi saat menjawab pertanyaan mahasiswa tentang hubungan kepemimpinan dan jabatan.

Edy Rahmayadi lantas membuktikan, tak satu pun anggota keluarganya kebagian jatah jabatan di perusahaan daerah selama 5 tahun ia menjabat gubernur.

“Saya punya menantu, saya punya anak. Apakah saya terpikir agar bisa menempatkan mereka jadi anggota DPR? atau sebagai Bupati, Gubernur dan sebagainya? Itu yang saya tidak akan mau lakukan. Memangnya negara ini milik nenek saya? Tak ada begitu!”, tegas Edy Rahmayadi.

Ia mencontohkan kepemimpinan Umar bin Khattab (sahabat Nabi Muhammad SAW dan seorang Khalifah Amirul Mu’minin kedua, setelah Abu Bakar wafat), yang tegas menolak anaknya menjadi pejabat, meskipun terpilih oleh tim penilai sebagai sosok yang layak berjabatan karena memiliki kompetensi yang mumpuni.

“Kamu coret nama itu. Itu kata Umar bin Khatab. Karena kalau itu walaupun sepandai apapun dia, apa kata orang nanti itu, ya iya, orang anak dia. Itu anak yang pandai, apalagi kalau anak yang kurang pandai,” jelas Edy.

Edy Rahmayadi juga tak setuju seorang gubernur kemudian menjadikan anaknya sebagai gubernur.

“Terus kalian-kalian ini ada yang anaknya gubernur? Tidak. Wah berarti nanti nggak jadi gubernur lah kalian. Kalau itu masih diterapkan seperti itu, Wallahu a’lam. Saya tak setuju itu,” terangnya.

“Salah satu itulah, saya akhirnya memutuskan saya maju lagi jadi gubernur, saya tak mau saudara-saudara saya, anak saya, cucu saya, dipimpin oleh platform nepotisme, you know?,” tegas Edy.

Edy tidak menyebut kalau kritikannya itu ditujukan kepada orang tertentu. Namun para mahasiswa semuanya paham kalau negeri ini sedang dirongrong oleh ambisi keluarga yang ingin mengedepankan dinasti politik.

Dan mahasiswa itu pasti tahu, salah satu yang terlibat dalam bisnis politik itu adalah Bobby Nasution, menantu Presiden Joko Widodo.  Bobby saat ini sedang berjuang untuk ikut dalam kontestasi pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Ia sudah mendapat lampu hijau dari Golkar dan Gerindra.

Bahkan Bobby dengan pengaruh mertuanya telah berhasil memaksa Ketua Golkar Sumut, Musa Rajekshah alias Ijeck mundur dari pencalonan itu. Dengan demikian ia akan mulus melangkah mengatasnamakan Partai Golkar yang telah dibesarkan Ijeck selama lima tahun belakangan ini. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan