Kajianberita.com
Beranda Headline Dipaksa Mundur oleh Penguasa Demi Ambisi Politik Menantu Jokowi, Ijeck Pasti Kecewa Berat

Dipaksa Mundur oleh Penguasa Demi Ambisi Politik Menantu Jokowi, Ijeck Pasti Kecewa Berat

Ketua Golkar Sumut Musa Rajekshah alias Ijeck pernah menyatakan siap maju pada Pilgubsu 2024. Tapi kemudian dipaksa mundur demi ambisi menantu Jokowi, Bobby Nasution.

Perjuangan Musa Rajekshah alias Ijeck membesarkan Partai Golkar di Sumut seakan berjalan sia-sia. Kerja kerasnya meningkatkan elektabilitas personal seperti tidak punya nilai. Semuanya sirna setelah Ijeck dipaksa mundur dari persaingan merebut kursi Gubernur Sumut.

Mundurnya Ijeck tidak lepas dari tekanan penguasa demi untuk memanjakan Bobby Nasution, menantu Presiden Joko Widodo.

Apa boleh buat, Ijeck harus merelakan kesuksesan Partai Golkar yang telah dibangunnya untuk dinikmati oleh Bobby Nasution. Mau tidak mau perjuangannya membesarkan partai hanya dipersembahkan untuk kepuasan menantu Jokowi itu.

Keberhasilan Ijeck memimpin Partai Golkar Sumut memang pantas diacungkan jempol. Lihat saja bagaimana ia mampu memperkuat basis Golkar di berbagai sudut wilayah. Bahkan kursi DPRD Sumut yang selama 20 tahun terakhir dikuasai PDIP, mulai 2024 ini beralih ke Partai Golkar.

Kalau pada Pemilu 2019 Golkar Sumut hanya berhasil menempatkan 4 wakilnya di DPR RI, pada 2024 ini bisa merebut 8 kursi. Meningkat 100 persen.! Sebuah prestasi yang cukup mengagumkan.

Tentu saja semua itu merupakan modal emas bagi Ijeck untuk merebut kursi Gubernur Sumut. Sejak awal memang ia lebih tertarik mengincari jabatan gubernur ketimbang anggota DPR RI.

Tapi modal itu kini telah berpindah tempat.  Justru Bobby yang  melaju mulus untuk bersaing merebut kursi Gubernur Sumut pada Pilgubsu mendatang dengan memanfaatkan pengaruh Golkar.

Sudah pasti peran Jokowi sebagai presiden sangat kental dalam menggusur Ijek dari persaingan Pilgubsu itu. Tanpa dukungan Jokowi, Bobby pasti tidak punya daya apa-apa. Ia hanya seorang anak muda yang awalnya tidak dikenal warga Kota Medan.

Hal ini bisa dipahami, sebab Bobby lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Sumut. Ia besar di Lampung, selanjutnya lama tinggal di Kalimantan Barat dan kemudian bersekolah dan mengembangkan bisnis di Jakarta.

Saat tinggal di Jakarta, ia bertemu dengan Kahiyang Ayu, putri Jokowi hingga akhirnya mereka menikah pada November 2017.  Sejak pernikahan itu, nama  Bobby pun kian popular di masyarakat Sumut.

Bobby kemudian memanfaatkan popularitas sebagai menantu presiden untuk menjarah dunia politik.  Alhasil, PDI Perjuangan sempat kepincut, dan bahkan sukses mengantarkan Bobby merebut kursi Walikota Medan. Pada akhirnya partai itu menyesal setelah dikhianati oleh keluarga besar Jokowi.

Tidak puas menjabat Walikota Medan, pada Pilkada 2024 ini Bobby bertekad merebut kursi Gubernur Sumut, melanjutkan dinati keluarga yang telah dibangun mertuanya. Bobby begitu percaya diri bisa merebut jabatan itu dengan mengalahkan pesaingnya.

Sikap percaya diri itu setidaknya telah ia tunjukkan dengan menyingkirkan Ijeck dari persaingan. Padahal Ijeck sudah sejak lama mempersiapkan diri ikut dalam kontestasi Pilkada Sumut.

Ijeck sebenarnya termasuk politisi yang  memiliki jaringan sangat luas di Sumut. Tapi kekuatan itu tak berarti apa-apa dalam menghadapi tekanan Jokowi dan seluruh elemen kekuasaan.  Ijeck tak berdaya. Mau tidak mau ia harus menyerahkan dukungan Golkar untuk menyokong pencalonan Bobby di Pilgubsu nanti.

Ijeck pun terpaksa tunduk pada kemauan Ketua Umum Partai Golkar yang memintanya duduk manis sebagai anggota DPR RI dengan jabatan Ketua komisi. Tentu saja ada konsekuensi lain di sektor bisnis yang didapatkan Ijeck dari keputusannya itu.

Sejauh ini Ijeck tidak pernah menyuarakan secara langsung rasa kecewanya akibat tekanan itu. Namun orang-orang dekatnya memastikan kalau Ijeck pada dasarnya marah. Ia sulit menerima kenyataan itu.

“Dia sebenarnya sangat kecewa. Apalagi semua orang tahu kalau dia sudah lama mempersiapkan diri untuk ikut Pilgubsu 2024. Pertarungannya pada Pemilu Legislatif merebut kursi DPR RI sebenarnya bukanlah sasaran utama, Itu adalah tangga baginya untuk menuju kursi gubernur,” kata salah seorang pengurus Golkar Sumut yang merupakan teman dekat Ijeck.

Dari awal Ijeck sudah tahu kalau Bobby berusaha menyingkirkannya dari pencalonan itu. Tapi, kata sumber itu, Ijeck tetap berusaha bertahan. Ia merasa lebih pantas menjadi Gubernur ketimbang Bobby Nasution. Apalagi Ijeck telah mempersiapkan diri sejak lama untuk persaingan itu.

“Dia sudah berjuang dari nol dengan modal sendiri, tanpa ada embel-embel dukungan penguasa,” tambah sumber itu.

Ijeck memulai perjuangannya di dunia politik sejak muda. Dimulai dari Organisasi pemuda,  kemudian aktif dalam kegiatan olahraga dankeagamaan, serta banyak membentuk berbagai yayasan social dan sebagainya.

“Perjalanannya di dunia politik sudah dibangun sejak awal. Bukan serba instant,” ujar sumber tersebut. Berkat pengalaman politik itu, sejak November 2020 Ijeck berhasil merebut jabatan Ketua Golkar Sumut.

Sebagai ketua Golkar, pada Pilkada Medan 2020, Ijeck sangat berperan besar membantu Bobby untuk memenangkan kursi walikota. Harapan Ijeck, pada Pilkada 2024 ini, Bobby bisa kembali bersaing di Pilkada Medan, sedangkan ia akan merebut kursi Gubernur.

“Keduanya kan selama ini sangat dekat,” kata sumber itu.

Namun tidak disangka, Bobby rupanya tidak puas hanya duduk sebagai walikota Medan. Menantu Jokowi ini ngotot ingin merebut kursi gubernur.

Oleh karena, melalui pengaruh mertuanya, upaya menyingkirkan Ijeck terus dilakukan. Tentu saja Bobby tidak sulit melakukan hal itu, sebab Presiden Jokowi sebagai mertua mendukung habis keinginan menantunya.

Ijeck kabarnya dalam posisi tersandera. Kalau saja ia ngotot tidak mengarahkan dukungan Golkar untuk Bobby, bisa jadi usaha perkebunan milik keluarga mereka akan terancam. Pasalnya, ada ribuan hektar lahan sawit milik keluarga mereka yang Hak Guna Usaha (HGU)-nya berakhir dalam waktu dekat. Ijeck harus memperpanjang masa pakai lahan itu.

Menantu Jokowi, Bobby Nasution bersalaman dengan Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto setelah mendapatkan rekomendasi maju pada Pilgubsu 2024

Kalau ia ngotot ingin bersaing di Pilgubsu 2024, bisa jadi perpanjangan HGU itu akan tidak mudah.  Apalagi Presiden terpilih, Prabowo Subianto juga tunduk kepada keinginan Jokowi untuk memuluskan keinginan Bobby jadi Gubernur Sumut.

“Bisa-bisa nanti lahan Perkebunan itu akan diambil alih oleh pemerintah,” ujar sumber itu.

Apa boleh buat, Ijeck terpaksa memilih mundur dengan konsekuensi HGU lahan perkebunan milik keluarga mereka akan diperpanjang. Lahan Perkebunan itu sangat vital, sebab itulah yang merupakan basic business keluarga Ijeck.

Pada akhirnya Bobby pun bersorak riang setelah Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, pada Rabu 19 Juni lalu memutuskan bahwa Bobby mendapat dukungan dari partainya maju pada Pilgubsu 2024.  Dengan bangganya, Bobby pun mengatakan bahwa ia layak terpilih karena punya kemampuan lebih baik.

Pernyataan Bobby itu mengundang gelak tawa para pengamat politik di Sumatera Utara. Shohibul Ansyor Siregar, akademisi Universitas Muhammadiyah memastikan bahwa terpilihnya Bobby tidak lepas dari pengaruh Jokowi, bukan karena prestasi.

“Semua itu bagian dari dinasti politik yang telah diperkuat Jokowi,” kata Shohibul. Tanpa pengaruh Jokowi, Bobby tidak akan ada apa-apanya.

Akademisi senior dari USU, Sakhyan Asmara juga memberikan pandangan yang sama. Menurutnya pasti ada factor politis yang membuat Ijeck harus mundur.

“Dari sisi kapasitas, jelas Ijeck lebih pantas sebagai calon gubernur. Ijeck itu petarung. Saya salut dengan perjuangan beliau. Dia berjuang dari bawah,” kata Sakhyan.

Perjuangan Ijeck jelas sangat berbeda dengan Bobby yang tiba-tiba terkenal berkat modal pernikahan.

Tapi, begitulah politik. Seperti kata pepatah, penguasa adalah pencipta sejarah. Penguasa adalah pengatur hukum, dan penguasa adalah raja yang harus dilayani. Semua jaringan di negeri ini harus tunduk  melayani penguasa.

Bahkan mencuat kabar bahwa para penjabat kepala daerah (Pj) di Sumut sudah dipersiapkan untuk memberi pelayanan kepada keluarga penguasa itu. Makanya jangan heran kalau pada Pilgubsu nanti akan terjadi kecurangan yang  masiv dengan melibatkan elemen negara. Sebab itu adalah bukti bahwa elemen negara juga harus tunduk kepada kemauan keluarga penguasa.

Itulah demokrasi di negeri ini. Demokrasi abal-abal yang mengandalkan buzzer bayaran.

Prihatin untuk Ijeck…!. ***

Ahmad Mx

 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan