-->

Starlink Berikan Internet Gratis bagi Korban Bencana, Tapi Dipungli Petugas di Lapangan

Sebarkan:

Pemasangan jaringan starlink di lokasi bencana. Jaringan ini merupakan bantuan dari Elon Musk untuk para korban bencana Sumatera. Harusnya gratis. Tapi kemudian dibisniskan oleh aparat yang mengelola di lapangan.
Beginilah kelakuan aparat di negeri kanoha ini. Di tengah suasana bencana pun, mereka masih saja berupaya mengeruk keuntungan. Bayangkan saja, begitu banyaknya simpati dunia kepada korban bencana Sumatera, eh, seenaknya mereka meraup untung dari simpati itu. Salah satunya dengan menjual jaringan internet yang seharunya gratis bagi korban bencana di Sumatera.

Jaringan internet gratis itu sudah diumumkan kepada public oleh Starlink,  jaringan perusahaan internet dari Amerika milik pengusaha Elon Mauk. Untuk mendukung jaringan itu, Starlink mengirim sejumlah perangkat internet ke lokasi bencana di Sumut, Aceh dan Sumber.

Sebagai pengelolanya adalah apatur pemerintah yang ada di sana.  Dengan jaringan itu, diharapkan para korban yang tidak mendapatkan jaringan internet, bisa berkomunikasi dengan sanak saudaranya di tempat lain.

Namun apa yang terjadi? Aparatur yang mengelola jaringan itu malah mengutip  bayaran dari warga yang menggunakan jaringan itu. Tarifnya Rp20 ribu per jam. 

Aksi pungutan liar (pungli) yang biadab ini pertama kali diunggah  akun @nar***a, yang menyebut adanya tarif hingga Rp20 ribu untuk mengakses Starlink.

Tentu saja netizen mengecam tindakan tersebut, bahkan men-mention Elon Musk, pemilik Starlink, untuk menindak praktik ini. Ulah busuk ini langsung tersiar sampai ke Amerika sehingga Elon Musk pun tahu kebiadaban yang terjadi.

Elon Musk menegaskan bahwa Starlink memberikan layanan gratis saat terjadi bencana. 

"Tidak lah benar mengambil untung dari musibah," tegas Musk di platform X. Layanan gratis untuk korban banjir di Indonesia akan berlaku hingga akhir Desember 2025.

Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Syamsu Rizal, turut mengecam keras pungutan biaya layanan internet satelit Starlink itu. Praktik ini juga memicu kemarahan publik karena dinilai pungutan liar (pungli) di tengah bencana.

Syamsu menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk memastikan pemulihan koneksi internet bagi korban bencana.

"Kami juga sudah berkoordinasi dengan BAKTI Komdigi untuk segera memulihkan koneksi baik yang berbasis satria 1, VSat ataupun provider komersial lainnya," ujar Syamsu, Jumat (5/12/2025).

Ia mengecam praktik pungli yang dinilai tidak manusiawi, meski menyinggung kemungkinan adanya pihak ketiga yang memungut biaya untuk operasional perangkat.

"Kita kecam praktek-praktek tidak manusiawi seperti itu. Cuma penting juga kita pahami situasinya. Mungkin juga ada pihak ke tiga lain yang memerlukan biaya untuk operasional device nya," kata Syamsu.

Politikus PKB itu pun mengimbau agar semua pihak tetap berempati dan tidak memanfaatkan situasi bencana untuk keuntungan pribadi.

"Tapi terlepas dari situasi itu tentu kita berharap semua pihak bisa berempati dan tidak mengeruk keuntungan dari situasi sulit ini," ucap Syamsu.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, saat meninjau Posko Tanggap Darurat di Banda Aceh, sudah memastikan bahwa seluruh Starlink yang disediakan pemerintah di posko bencana harus gratis.

"Kalau yang ada di posko, yang dibagikan untuk kepentingan umum, itu gratis. Kecuali milik pribadi itu kita tidak ngerti," ujar Nezar Patria.

Ia mengajak semua pihak mengedepankan gotong royong dan simpati di tengah musibah serta mendukung upaya pemerintah memulihkan jaringan komunikasi di wilayah terdampak. Bagi Masyarakat yang masih harus menghadapi pungli dari aparatur biadab itu, bisa mengadukan ke aparat keamanan. Atau bisa pula memvideokan aksi aparat itu dan memviralkannya di medsos agar kebusukan mereka tampak lebih jelas. ***

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini