![]() |
| Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu |
"Ini kesalahan saya. Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat korban bencana atas pelayanan pemerintah daerah yang belum cepat, belum merata, dan belum sepenuhnya menjawab harapan ,” ujarnya di acara Musrenbang RKPD 2027 di GOR Pandan, Tapanuli Tengah, Selasa (14/4/2026).
Sebagai kepala daerah, ia mengaku bertanggungjawab atas berbagai kelemahan tersebut. Ia tidak mau menyalahkan para camat atau lurah. Soal evaluasi internal, tentu akan ia lakukan secara tertutup.
Sikap Masinton Pasaribu ini secara tidak langsung mengkritik perilaku Gubernur Bobby Nasution yang justru menyalahkan Camat Tukka sebagai salah satu biang kerok lambannya pelayanan kepada korban bencana. Sampai-sampai Bobby memarahi camat itu di depan publik, seraya menunjuk-nunjuk langsung ke arah wajah sang camat. Sangat arogan dan tidak sopan.
Video Bobby memarahi dan menunjuk-nunjuk ke arah wajah Camat Tukka beredar luas di sejumlah platform media sosial. Peristiwa itu terjadi saat Bobby mengunjungi Tukka, Tapanuli Tengah pada Senin (13/4/2026).
Masinton yang ada di sekitar itu sempat heran dengan perilaku Bobby itu. Bagaimana pun juga, camat Tukka itu adalah anak buahnya, Seharusnya ia yang berhak mengevaluasi kinerja camat itu, bukan Bobby. Anehnya Bobby tidak berani marah kepada Masinton, beraninya cuma kepada camat.
Camat Tukka, Yan Munzir Hutagalung sempat menjawab tudingan Bobby itu. Mereka beradu argument di Tengah suasana yang saat itu sedang diguyur hujan. Namun karena yan Munzir lebih memiliki etika, ia memilih mengalah. Sementara yang tidak punya etika terus menunjukkan sikap emosinya.
Masinton hanya terlihat diam menyaksikan sikap Bobby yang memarahi anak buahnya. Padahal semestinya Bobby berkomunikasi dengan dia soal pelayanan bagi korban bencana di Tapanuli Tengah, sebab semua itu adalah tanggungjawab kepada daerah. Bukan camat.
Camat adalah pekerja yang berada di bawah komando bupati. Bukan anak buah gubernur. Kalau Bobby menilai ada yang salah dalam penanganan bencana, semestinya ia memarahi bupati, bukan justru berdebat dengan camat.
Masinton sendiri mengakui bahwa ia yang bertanggungjawab atas system penanganan korban bencana yang ada di daerahnya.
“Kalau ada yang salah, saya yang bertanggungjawab..!” ujar Masinton.
Namun sepertinya Bobby tidak berani berdebat langsung dengan Masinton. Sebab kalau berargumentasi tentang system penangan bencana, jelas Bobby kalah telak dibanding Masinton. Bagaimana pun juga Masinton lebih menguasai lapangan, sementara Bobby hanya mendapat laporan saja.
Tentu saja sikap Bobby yang memarahi camat itu sungguh di luar nalar. Bisa jadi Bobby tidak paham struktur dalam pemerintahan, sehingga seolah ia menganggap bahwa camat adalah anak buah gubernur. Dengan arogannya Bobby menyalahkan camat itu, bahkan sampai mengancam akan mengurangi bantuan untuk korban bencana.
Coba bayangkan, gubernur apa yang seperti ini? Sudah tidak tahu aturan, malah ingin menjadikan nasib korban bencana lebih parah lagi.
Bupati Masinton tak memungkiri warga korban bencana di daerahnya banyak memohon bantuan, seperti jaminan hidup (jadup) yang ramai diperbincangkan di Tapteng saat ini. Namun bantuan yang diberikan belum bisa maksimal.
Oleh karena itu masalah penanganan pascabencana menjadi salah satu yang dibahasnya dalam Musrenbang kali ini. Ia berharap pembahasan itu bukan sekadar agenda penyusunan program, melainkan momentum kebangkitan daerah untuk menata kembali arah pembangunan yang lebih tangguh terhadap bencana.
“Kita ingin memastikan, pemulihan tidak hanya memperbaiki yang rusak, tetapi juga membangun masa depan yang lebih kuat. Ini adalah momentum kebangkitan Tapteng,” tegasnya.
Masinton mengungkapkan, berbagai persoalan yang mendasar dalam tata kelola pemerintahan daerah juuga menjadi pembahasan dalam pertemuan itu. Berdasarkan hasil evaluasi, bahwa reformasi birokrasi di Tapteng belum berjalan optimal, bahkan dinilai mengalami kegagalan fundamental.
"Perencanaan kinerja Pemkab menunjukkan kelemahan fundamental yang mengkhawatirkan. Namun sekali lagi saya tegaskan, saya yang bertanggungjawab," katanya.
Sebagai kepala daerah, Masinton bertekad membenahi kelemahan itu.
"Kita harus berbenah mulai dari dasar, memperkuat sistem, standar operasional, dan melakukan evaluasi secara berkala,” ujarnya. ***
