Sebelumnya panitia mengklaim cara Deklarasi Sumpah Pemuda itu merupakan inisiatif mahasiswa. Anehnya, materi Sumpah Pemuda lebih banyak memuji kinerja Pemerintah.
Berbeda dengan aksi mahasiswa sebenarnya yang bersikap kritis dan bahkan menuntut Prabowo-Gibran mundur.
Tak heran jika acara itu mengundang hujatan di sana sini. Raffi Ahmad dan para artis yang hadir langsung menjadi sasaran.
Tak mau jadi korban bulan-bulanan publik, Raffi Ahmad dan Willie Salim akhirnya berupaya "cuci tangan". Keduanya mengaku, kehadirannya di acara tersebut murni karena undangan.
Melalui pernyataan resminya di media sosial, Raffi membantah terlibat dalam pengerahan massa maupun penyusunan teknis acara yang memicu kemarahan publik tersebut.
"Saya hadir dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda kemarin sebagai undangan yang informasinya baru saya terima pada malam sebelum acara. Saya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara, serta tidak mengetahui detail susunan acara dan pihak-pihak yang hadir," kata Raffi Ahmad dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Raffi juga menepis tuduhan bahwa dirinya mengatur kemunculan pembatas jalan atau atribut merek tertentu di lokasi, sembari menegaskan bahwa dirinya tetap menghormati aspirasi mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026.
Sebelumnya, selebgram Willie Salim yang mendampingi Raffi Ahmad di lokasi tak luput dari serbuan hujatan netizen di media sosial. Willie akhirnya menyampaikan permohonan maaf atas keteledorannya menghadiri acara tanpa memeriksa detail dan latar belakang kegiatan.
Willie menegaskan dirinya tidak menerima bayaran satu rupiah pun dan hadir murni memenuhi undangan.
Acara bertajuk "Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026" yang sejatinya diklaim Polda Metro Jaya melibatkan sekitar 100 mahasiswa untuk mempererat persatuan dan menangkal hoaks.
Nyatanya, acara itu justru berbalik menjadi sorotan tajam. Sebab yang menjadi peserta acara itu adalah mahasiswa palsu.
Mereka adalah pemuda para gelandangan yang diberi pakaian almamater kampus tertentu dan mengaku sebagai mahasiswa. Para gelandangan itu dibayar untuk memalsukan identitas dirinya.
Publik dan aktivis mahasiswa tentu saja mengecam keras pengerahan "mahasiswa palsu" itu sebagai bentuk manipulasi opini publik yang merusak integritas dan gerakan murni mahasiswa di Indonesia.
Kejanggalan acara deklarasi terungkap berawal saat beberapa peserta diwawancarai awak media di lokasi dan tampak gagap menjelaskan asal kampusnya.
Salah seorang pria yang sempat mengaku bernama "Dino dari BSI" sembari mengenakan jas almamater Universitas Dian Nusantara (Undira) akhirnya muncul ke publik untuk membeberkan fakta sebenarnya.
Pria tersebut mengonfirmasi bahwa identitas aslinya adalah Bayu Setiadi, dan ia sama sekali bukan mahasiswa Undira maupun perguruan tinggi mana pun.
Bayu mengaku bersedia meramaikan acara di Bundaran HI murni karena menerima imbalan uang dari sebuah komunitas.
"Saya Bayu Setiadi alias Dino. Saya di sini hendak mengklarifikasi bahwa saya bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Saya mengikuti acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar. Mengenai almamater yang saya kenakan, itu diberikan kepada saya tanpa saya ketahui asal-usulnya," ungkap Bayu dalam video klarifikasi bersama Ormawa Undira.
Bayu menyampaikan permohonan maaf terbuka atas tindakannya yang dinilai mencoreng nama baik kampus Undira.
Tak hanya Bayu, sosok perempuan bernama Sari (22) yang tampil membacakan naskah narasi imbauan damai mengenakan jas almamater Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) turut dibongkar oleh netizen.
Mantan majikannya melalui akun media sosial mendapati fakta bahwa Sari merupakan mantan asisten rumah tangga (ART) alias babu yang dibayar untuk berpura-pura menjadi mahasiswa.
Pencatutan atribut perguruan tinggi oleh massa sewaan dalam acara yang diinisiasi kepolisian itu menyulut amarah civitas akademika. Pihak Rektorat Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) secara resmi menegaskan bahwa institusinya sama sekali tidak pernah menerima undangan maupun mengirimkan delegasi mahasiswa ke acara tersebut.
Sikap keras juga dilontarkan oleh Ziko Harnadi, dosen UBSI sekaligus anak dari salah satu pendiri BSI.
Ziko mengecam keras rekayasa acara yang menyalahgunakan almamater institusinya demi kepentingan citra seremonial.
"Dear Indonesia, you’re sick! Sebagai konteks, saya adalah dosen UBSI & ayah saya merupakan pembina yayasan BSI dan melihat almamater disalahgunakan seperti ini, jujur bagi saya ini udah termasuk ke pencemaran nama baik UBSI. Shame on you, duit aja yang dipikirin, kali-kali pake hati nurani!" cetus Ziko merespons tajam rekayasa acara tersebut di akun threadnya. ***
