-->

Maksud Hati Hendak Menjilat, Buku ‘Islam ala Prabowo’ Justru Menjadi Bumerang bagi Penguasa

Sebarkan:

Para penjilat memang selalu punya cara untuk menyenangkan tuannya. Begitulah yang dilakukan sekelompok orang yang mengaku intelektual, tapi penjilat Presiden Prabowo. Sampai-sampai mereka, tanpa rasa malu sedikitpun, memuji-muji  ke-Islaman Prabowo.

Langkah penjilat itu setidaknya terlihat dari pembuatan buku “Islam ala Prabowo” yang menjadi sorotan publik belakangan ini. Dua tokoh utama di balik pembuatan buku itu adalah Noor Achmad, ketua Badan Amal Zakat Nasional (2020-2025), serta Ahmad Muzani, Ketua MPR RI.

Wajar kalau kedua sosok ini dicap sebagai penjilat Prabowo, sebab mereka memang  mendapat asupan energi dari kekuasaan. 

Noor Achmad misalnya, dikenal sebagai salah satu politisi yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama (NU). NU sendiri dikenal sebagai organisasi agama yang selalu dekat dengan penguasa.  Bisa dipahami, sebab dukungan dana dari pemerintah sangat besar perannya mendorong gerak organisasi agama itu.  

Adapun Ahmad Muzani adalah politisi Gerindra yang karirnya naik berkat sokongan Prabowo.

Belakangan nama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)  KH Anwar Iskandar juga ikut terseret dalam penerbitan buku itu.  Anwar Iskandar juga merupakan tokoh penting dalam organisasi NU.

Karena sama-sama berkepentingan dengan kekuasaan, mereka lantas menginisiasi terbitnya buku ‘Islam ala Prabowo’  yang resmi diluncurkan pada 26 Agustus 2025. Buku itu cukup  menarik, sebab tercatat ada sejumlah tokoh Islam terlibat sebagai penulis di dalam buku itu.

Isinya sudah jelas, memuji-muji Prabowo yang dianggap memiliki karakter Islam yang sangat hebat, alim dan bahkan disamakan dengan sahabat Rasul. Buku itu diluncurkan dalam rangka satu tahun kepemimpinan Prabowo sebagai presiden RI.

Awalnya tidak banyak yang memberi perhatian pada buku itu. Maklum saja, namanya buku karya penjilat, isinya pasti berisi puji-pujian yang terkadang tidak sesuai dengan fakta.  Yang penting ‘Asal Bapak Senang.!

Setahun setelah buku itu beredar, barulah berbagai kontroversi terkait isinya mulai dipersoalkan banyak orang. Menariknya, yang mempersoalkan adalah para tokoh yang namanya tercatat sebagai penulis di buku itu.  

Beberapa tokoh itu belakangan mengaku tidak pernah mengirim tulisan untuk buku itu. Mereka hanya diwawancarai, tapi kemudian hasil wawancara itu diolah sehingga seolah merupakan tulisan langsung berupa opini  dari mereka.

Beberapa tokoh yang membantah pernah mengirim tulisan untuk buku itu, antara lain,   Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi dari Nusa Tenggara Barat, ulama Jawa Timur Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, serta mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.  

Bahkan  Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra yang namanya tercatat sebagai salah satu penulis,  turut membantah pernah mengirimkan tulisan untuk bahan buku itu.

“Saya tidak ikut menulis di buku itu,” kata Yusril .

Ia mengaku hanya pernah diwawancarai sebagai nasa rumber, lalu kemudian hasil wawancara itu yang dijadikan oponi oleh pihak redaksi.

Waktu itu Yusril diwawancarai soal program pembangunan yang berkeadilan, sama sekali tidak terkait dengan ke-Islaman Prabowo. Tapi kemudian hasil wawancara itu dijadikan bahan buku sehingga seakan Yusril menjelaskan tentang kualitas Islam Prabowo yang hebat.

Yusril sendiri menegaskan bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan judul, penggagasan, maupun pembiayaan penerbitan buku. Setelah wawancara dilakukan, ia juga mengaku tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara hingga buku tersebut diterbitkan.

Menurut Yusril, wawancara itu dilakukan sebelum dirinya dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih. Karena berlangsung sudah cukup lama, ia tidak lagi mengingat siapa yang mewawancarainya dan tidak mengetahui secara pasti apakah pewawancara tersebut merupakan bagian langsung dari tim penyusun buku.

Untuk tulisan Yusril itu, penerbit memberi judul “Peduli Kepada Rakyat dan Keadilan.” Isinya sama sekali tidak berkaitan dengan ibadah menurut Islam.

Yusril menilai sebagian besar pandangan yang disampaikannya dalam wawancara itu telah dituangkan dengan cukup baik, namun konteksnya adalah keadilan untuk rakyat.  Namun ia terkejut ketika hasil wawancara itu dirangkum dalam buku dengan judul  “Islam ala Prabowo”.

Ia pun tidak mau berkomentar soal judul, sebab ia sendiri saat ini merupakan anak buah Prabowo di kabinet Merah Putih.

Bantahan yang sama  disampaikan oleh penulis lainnya, sepert Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi, Gus Kautsar dan juga KH Said Aqil Siradj.  Ketiganya mengaku terheran kalau di buku itu nama mereka tercatat sebagai penulis opini. Padahal mereka sama sekali tidak pernah mengirim tulisan.

Yang terbaru adalah bantahan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang  belakangan ini dikait-kaitkan terlibat dalam pembuatan buku itu. Melalui pernyataan tertulis Dewan Pimpinan MUI tertanggal 10 September 2026, lembaga itu resmi menyatakan sama sekali tidak terlibat dalam penerbitan buku itu.

Bantahan dari MUI itu ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum MUI K.H. Muhammad Kholil Nafis dan Sekretaris Jenderal MUI Amir Syah Tambunan.

Dalam klarifikasinya, MUI menegaskan bahwa buku “Islam Ala Prabowo” bukan merupakan program maupun produk resmi mereka. Dengan demikian MUI sama sekali tidak bertanggungjawab  terkait isi buku itu.

“Jadi masyarakat jangan mengaitkan buku Islam ala Prabowo dengan MUI,” tulis  Kholil Nafis dan Amir Syah Tambunan.

MUI memberikan penjelasan, kehadiran ketua MUI Anwar Iskandar saat acara peluncuran bukan dalam kapasitas untuk memberikan dukungan terhadap penerbitan buku tersebut. Ia hanya  hadir hanya dalam kapasitas sebagai pembaca doa dalam rangkaian kegiatan Rakornas Baznas RI.

Maka itu, MUI meminta kehadiran Anwar Iskandar di acara itu tidak dimaknai sebagai bentuk dukungan resmi MUI terhadap buku “Islam Ala Prabowo”. MUI mengimbau masyarakat agar tetap bersikap proporsional, jangan terburu-buru menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya.

“Pokoknya jangan libatkan MUI dalam pembuatan buku itu,” tegas Kholil Nafis dan Amir Syah Tambunan dalam pernyataan bersama.

Jadi Bumerang Bagi Prabowo

Direktur Eksekutif lembaga riset Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai buku "Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam" bisa menjadi bumerang bagi Presiden RI Prabowo Subianto sendiri.

Sebagai informasi, buku "Islam Ala Prabowo" diluncurkan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, pada 26 Agustus 2025 bertepatan dengan kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) se-Indonesia. Buku yang terdiri atas 368 halaman ini diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House dengan tanggal terbit 14 Jul 2025, dikutip dari situs gramedia.com.

Adapun isi buku tersebut menghimpun pembahasan dan pandangan dari sejumlah tokoh mengenai sosok Prabowo dari perspektif keagamaan, sosial, politik, kepemimpinan, hingga hubungan internasional. Akan tetapi, sederet polemik mewarnai buku tersebut, termasuk  pencatutan nama sejumlah tokoh agama.

Lebih lanjut, polemik datang dari judul buku yang dinilai ambigu dan multitafsir yang bisa menimbulkan persepsi negatif atau konotasi yang kurang tepat terkait pemahaman keislaman Prabowo di mata publik.

Agung Baskoro menilai, buku "Islam Ala Prabowo" terkesan sebagai personal branding (cara strategis untuk mempromosikan citra diri) terhadap Prabowo yang dipaksakan oleh para pendukungnya. Sayangnya, upaya itu sangat dipaksakan sehingga jauh dari harapan. Makanya penerbitan buku itu bisa jadi sebagai  bumerang bagi Prabowo sendiri. **

 

 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini