![]() |
| Menko Perekonomian Airlangga Hartarto |
“Memang pertumbuhan di daerah bencana dipastikan akan turun. Kita prihatin dengan situasi yang ada,” katanya ditemui di Jakarta Selatan, Kamis, 4 Desember.
Meski demikian, pemerintah memastikan langkah pemulihan segera dilakukan melalui program rehabilitasi dan perbaikan infrastruktur agar aktivitas ekonomi kembali bergerak.
“Dan tentu akan ada program untuk perbaikan infrastruktur ke depannya rehabilitasi,” ujarnya.
Airlangga menambahkan, meskipun daerah terdampak bencana menghadapi tekanan berat, target pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada kisaran 5,4 hingga 5,6 persen.
“Sedangkan yang lain kita tetap akan memacu di angka 5,4 sampai 5,6 persen,” tuturnya.
Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi Sumut sepanjang tahun 2025, sebelum bencana, berada pada kondisi tidak memuaskan. Kepemimpinan yang buruk dari Gubernur Bobby Nasution yang minim kreativitas membuat ekonomi Sumut berjalan lambat di banding Aceh maupun Riau.
Lihat saja, pada Triwulan I hingga triwulan II tahun 2025, ekonomi Sumut hanya tumbuh sebesar 4,69% (y-on-y). Sedangkan pada Triwulan III, pertumbuhan itu semakin menurun menjadi 4,55% (y-on-y). Dengan kondisi terpaan bencana yang saat ini terjadi di sejumlah wilayah, bisa dipastikan pertumbuhan itu semakin melorot.
“Bayangkan, dalam kondisi tanpa bencana saja, ekonomi Sumut tumbuh melambat, apalagi dengan kondisi seperti sekarang ini,” kata Rizal Syahputra, pengamat ekonomi dari USU.
Sudah pasti kondisi itu juga akan membuat tingkat inflasi di Sumut akan semakin parah.
Dalam kondisi normal saja, Sumut tercatat sebagai daerah dengan inflasi tertinggi di Indonesia. Gagalnya Bobby Nasution mendukung kelancaran arus distribusi barang membuat inflasi itu melorot tajam, sampai-sampai ia mendapat teguran dari Kementerian Dalam Negeri.
Pada September 2025, inflasi di Sumut tercatat 5,32 persen, yang merupakan inflasi tertinggi di Indonesia. Pada Oktober 2025, inflasi itu sedikit menurun menjadi 4,97 persen, tapi tetap saja berstatus yang terburuk di Indonesia karena inflasi di daerah lain justru penurunannya lebih besar.
Dipastikan pada November hingga Desember 2025, inflasi di Sumut akan lebih parah lagi. Apalagi harga bahan makanan di Lokasi bencana melonjak pesat.
Bahkan harga cabai di Sibolga dan Tapanuli Tengah sempat menyentuh angka Rp300 ribu per kg. Dan sangat disayangkan, Gubernur Bobby Nasution, seakan tidak tahu bagaimana cara mengatasi tekanan itu. Risiko punya gubernur karbitan..!**
